Amirudin, Mantan Tukang Pikul di Pasar Jadi Anggota DPRD Kota Kendari

4368
Amirudin saat berpose di rumahnya. (Foto Facebook Arifin Cobra)

Kendari, Inilahsultra.com – Banyak yang tidak mengira jika Amirudin yang sekarang duduk di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Kendari Periode 2019-2024, memiliki pengalaman hidup yang getir.

Sebelum menapak sukses hari ini, ia punya masa lalu sebagai tukang pikul di Pasar Sentral Kota Kendari, dulunya bernama pasar kota.

- Advertisement -

Pria yang akrab disapa Sahaba ini adalah warga perantau dari Desa Korihi Kecamatan Loghia Kabupaten Muna. Ia tiba di Kendari medio 1979 silam saat itu masih anak-anak.

Datang di Kendari, ia hanya bermodalkan nekat dan baju beberapa lembar. Tujuannya hanya satu, mengubah nasib di perantauan.

                       

Bagi warga pendatang, khsusunya orang Muna, pasar menjadi salah satu target utamanya untuk sekadar bisa bertahan hidup di kota.

Di pasar, berbagai macam bisa dikerja. Salah satunya, paling tren di massa itu, tukang pikul.

Ditemui di kediamannya usai pelantikkan, Amirudin mengaku,  perantauannya berawal dari susahnya kehidupan di Kabupaten Muna saat itu.

Ia akhirnya memilih ‘buang diri’ ke Kendari dengan harapan, hidup akan lebih baik.

“Pertama, saya memilih menjadi tukang pikul di Pasar Sentral Kota,” kata Amirudin, Senin 26 Agustus 2019.

Di Kendari, ia tinggal bersama keluarganya di bilangan Kemaraya Kota Kendari. Sembari menjadi tukang pikul di pasar, ia tak lupa menuntaskan studinya di bangku sekolah dasar (SD) 18 Kendari pada 1989.

“Saya jadi tukang pikul antara 1983 sampai 1986,” bebernya.

Bosan dengan pekerjaan tukang pikul, ia kemudian merambah menjadi pedagang rokok asongan di Pasar Sentral sekitar 1987 sampai 1990.

Pikirannya kemudian mulai berkembang dan mulai merambah pada bisnis berdagang daging di pasar tersebut antara 1990-1992.

Baca Juga :  Saemuna, Mantan Penjual 'Katumbu' Kembali Melenggang ke DPRD Muna

Di massa ini, ia juga mampu menyelesaikan studinya di SMP Negeri 2 Kendari dan tamat pada 1992. Saat beranjak di tingkat SMA, ia kemudian memilih jadi pedagang ikan keliling hingga sopir angkot. Di tahun yang sama, ia sempat mengambil peruntungan di Kolaka sebagai tukang becak. Hanya saja, ia memilih kembali di Kendari dan kemudian menyelesaikan studinya di SMA Muhammadiyah Kendari dan tamat pada 1995.

Karena keterbatasan biaya, ia kemudian tidak melanjutkan jenjang pendidikan ke perguruan tinggi. Ia kemudian bekerja sebagai karyawan di PT Unindo antara 1996 sampai 1998.

Karena menjadi karyawan tidak membuatnya merdeka, ia akhirnya membuka usaha sendiri menjadi pengumpul hasil bumi hingga sekarang.

“Saya punya perjalanan hidup yang sangat panjang. Soal suka dan duka, saya sudah lewati semua,” kata pria kelahiran Raha, 19 Januari 1975 ini.

Amirudin saat berpose di kediamannya bersama warga. (Pandi/Inilahsultra)

Modal Kejujuran

Selama menjalani hidup serba kekurangan, hanya satu yang dipegang oleh Sahaba. Kejujuran. Sikap ini, kata dia, merupakan salah satu modal dasar orang tua bagi kebanyakan perantau asal Muna.

“Kita dikenal jujur dan ulet. Jadi, prinsip pekerja keras itu merupakan kewajiban bagi kita untuk bertahan hidup di tanah perantauan,” katanya.

Menurut dia, semua pekerjaan akan menghasilkan yang terbaik jika terus ditekuni dan dijalani dengan sabar.

Setiap pekerjaan, lanjut dia, memiliki risiko. Hanya saja, tergantung pandai-pandainya mengorbankan waktu, pikiran dan tenaga demi kesuksesan kelak,

“Untuk bisa mendapatkan hasil maksimal, yah harus berjuang, jujur dan berbuat lebih maksimal. Jika mau berhasil, harus jujur,” jelasnya.

Selain kejujuran, doa juga merupakan hal wajib dalam mengawal perjalanan karir. Tanpa doa dari diri sendiri dan keluarga, agak sulit diijabah seluruh usaha manusia.

Baca Juga :  Sejak Dulu Sampai Sekarang, Ibu Saddil Tak Punya Rumah Sendiri

“Percuma juga kalau terus berusaha, kalau tidak meminta, pasti tidak akan diberikan. Intinya, jujur, berusaha dan berdoa. Itu sudah,” ujarnya.

Berteman dengan Siapa Pun

Bagi Sahaba, merawat hubungan pertemanan sangat lah sulit bila dibandingkan mencari musuh. Untuk itu, dalam bergaul, ia tidak memilih kelas usia, ekonomi maupun strata sosial.

Di matanya, semua manusia sama. Diperlakukan baik, dihargai dan dihormati. Perlakuan baik kepada orang, niscaya akan kembali kepada diri manusia itu.

“Makanya, waktu saya maju di Dapil Kendari-Kendari Barat kemarin, banyak yang pilih saya karena pertemanan itu. Saya berteman dengan siapa pun,” ujarnya.

Model pertemanannya ini, lanjut dia, boleh dikata mengilhami kondisinya di masa lalu yang pertama kali merantau di Kendari.

“Jadi, berteman dengan siapa pun. Bekerja segiat pun yang penting halal,” jelasnya.

Terpilih karena Pertemanan

Boleh dibilang, Sahaba punya banyak teman. Selain buruh di pasar, ia juga berteman dengan pengusaha luar negeri. Sebut saja, dari India, Cina, Vietnam dan negara Timur Tengah lainnya.

Karena pertemanannya tanpa sekat itu, ia kemudian diamanahkan sebagai wakil rakyat di DPRD Kota Kendari. Pada Pemilu 2019 kemarin, Sahaba memperoleh 1918 suara di Dapil Kendari-Kendari Barat.

Perolehan yang cukup signifikan bila dibandingkan dengan calon lain yang sudah ‘besar’ namanya.

Selain itu, ia juga terbilang baru dalam politik.  Karir politiknya mulai beranjak pada 2018 kemarin jelang pencalonan di Partai Gerindra. Beruntung, ia memiliki kenalan Ketua DPC Gerindra Kota Kendari Iqbal Abdullah Bafaddal.

“Beliau memperjuangkan saya masuk di Gerindra,” ujar pria 5 orang anak ini.

Dengan amanah yang diberikan sebagai wakil rakyat ini, ia mengaku akan memanfaatkannya sebaik-baiknya. Memperjuangkan kepentingan masyarakat bawah agar kelak bisa sejahtera.

Baca Juga :  KPU Sultra Resmi Ambil Alih Tugas dan Kewenangan KPU Kolaka-Koltim

“Sebagai perwakilan rakyat, saya akan mati-matian memperjuangkan aspirasi mereka. Apa pun yang terjadi,” pungkasnya.

Penulis : La Ode Pandi Sartiman

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
14
loading...