La Baa Bisa Umrah dan Kuliahkan Anaknya Berkat Hasil Kebun, Bukan Tambang

549
La Baa (78) saat saya ajak berbincang tentang prospek kebunnya senilai ratusan juta rupiah. (Foto Ceker)

Kendari, Inilahsultra.com – Meski jalannya harus ditopang dengan tongkat, La Baa (78) tampak masih bersemangat datang di Sekretariat Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Sultra, Selasa 27 Agustus 2019.

Ia merupakan salah satu pembicara yang digelar koalisi masyarakat sipil menyikapi kasus penyerobotan lahan warga yang dilakukan oleh PT Gema Kreasi Perdana (GKP).

- Advertisement -

La Baa merupakan salah satu dari ratusan warga Wawonii yang menolak lahannya dijual ke perusahaan tambang.

Beberapa kali perusahaan dan aparat pemerintah merayunya untuk melepas lahannya, namun ia enggan menerima tawaran sekalipun menggiurkan bagi warga lain.

                       

Lahan La Baa seluas 40×80 meter di Desa Sukarela Jaya Kecamatan Wawonii Tenggara Kabupaten Konawe Kepulauan merupakan salah satu yang dilalui jalan hauling PT GKP.

Selain La Baa, warga lain yang juga berada di lalulintas jalan hauling PT GKP adalah La Amin dan Wa Ana. Sama dengan La Baa, keduanya kukuh menolak melepas tanahnya untuk koorporasi.

Meski terus ditolak warga, anak perusahaan PT Harita Group ini terus berupaya untuk meminta warga melepas lahannya.

Karena penolakan warga tak kendur, perusahaan akhirnya bertindak represif dengan menggusur lahan warga. Terakhir penggusuran terjadi pada Jumat tengah malam 22 Agustus 2019.

La Baa mengaku, baru mengetahui pengrusakan pada paginya dari warga lainnya.

“Pagi itu ada informasi tanaman saya dirusak alat berat, saya suruh anakku cek, ternyata benar,” kata La Baa.

Di kebunnya, lanjut La Baa, ada beberapa pohon telah ditumbangkan oleh alat berat. Diantaranya, empat pohon pala yang sudah sering membuahkan hasil, jambu mete 4 pohon dan coklat 3 pohon.

Baca Juga :  Kepala DLHK Kota Kendari Nilai Denda Buang Sampah Bukan Solusi

Atas penyerobotan itu, warga kemudian berbondong ke lokasi. Mereka mendapati sejumlah alat berat berikut 10 pekerja yang dikawal aparat bersenjata.

“Ditemukan alat bukti, alat berat escavator 9 unit breker 2 unit. Doser 4 unit. Lainnya, alat bor operasional PT GKP,” jelas Irul, anak dari La Amin yang juga korban penggusuran malam itu.

Di situ kemudian warga mengepung alat berat dan meminta para pekerja untuk keluar dari lokasi.

Dari keterangan para pekerja, mereka datang menggusur atas perintah Direktur Operasional PT GKP Bambang Murtiyoso.

Pernyataan warga ini kemudian dibenarkan Bambang pada saat diwawancarai Sabtu malam.

Atas ulah perusahaan ini, memantik perlawanan dari warga. Bentrokan nyaris terjadi antara pihak perusahaan yang diduga dibackup oleh aparat kepolisian bersenjata lengkap.

Sebab, polisi berusaha membebaskan para pekerja dan alat berat yang disita oleh warga.

Sejak terjadinya penggusuran, warga mulai berjaga di lahan masing-masing mengantisipasi perusahaan yang dikawal aparat melakukan penggusuran paksa.

La Baa saat memperlihatkan bukti pembayaran pajak bumi bangunan (PBB) di kebun miliknya. (Foto Akbar)

Umrah dan Biaya Kuliah

Bagi La Baa, tanaman miliknya tidak bisa ditukar dengan apa pun yang dimiliki perusahaan tambang. Sekalipun pihak PT GKP terus membujuknya, ia tetap menolaknya.

Ia menyebut, perwakilan GKP pernah mendatangi di kediamannya menawarkan ganti rugi tanaman miliknya bila ditumbangkan.

“Saya bilang sama mereka, kalau ada uangmu 1 triliun, sini. Tapi mereka tidak mau juga,” ujar La Baa mengundang tawa awak media.

Ia mengaku, pihak perusahaan sempat mengancam akan melaporkannya ke polisi karena menghalangi investasi. Namun, ancaman itu ‘dibeli’ oleh La Baa.

“Saya tidak mungkin jual tanahku. Saya tidak takut, kalau diperkarakan hukum,” jelasnya.

Hasil kebunnya itu telah menjadi sumber penghidupan bagi delapan anak dan istrinya.

Baca Juga :  Alasan Polisi Uji Balistik ke Belanda dan Australia untuk Menjaga Independesi

Bahkan, dengan hasil berkebun, tiga anaknya bisa kuliah di perguruan tinggi. Salah satunya bekerja di kapal pelayaran.

“Satu anak saya ke Jakarta. Dia sekolah pelayaran. Saya biayai mereka semua dari hasil bumi,” jelasnya.

Menurutnya, iming-iming ganti rugi tanaman dari GKP hanya angin surga sesaat, bukan jangka panjang.

Sebab, uang kompensasi yang dibayarkan akan cepat habis dan tak sebanding dengan hasil yang diperoleh selama ini dari tanamannya.

“Kalau tanaman saya ini, bisa seumur hidup, kecuali Wawonii tenggelam,” jelasnya.

Menurut dia, bila perusahaan berhasil merebut tanahnya dan meratakan semua tanaman, ia tidak bisa bayangkan mau hidup dengan apa lagi.

Selain bisa menyekolahkan anaknya, ia juga bisa naik umrah dengan hasil berkebun.

“Bulan 3 lalu saya umrah. Tongkat ini saya beli di tanah suci,” katanya sambil memperlihatkan tongkatnya.

Berbeda dengan beberapa warga yang sudah melepas lahannya ke perusahaan, pernah dijanjikan umrah. Hanya saja, sejak ia kembali di tanah suci, warga yang pro tambang itu belum kunjung juga ke Makkah.

“Janjinya perusahaan, bagi yang jual lahan akan naik umrah. Tapi sampai hari ini tidak naik. Lahannya sudah habis,” katanya.

Panen Setahun Bisa Ratusan Juta

La Baa mengaku sangat bersyukur dengan sejumlah tanaman di kebunnya.

Sebab, sekali panen dalam setahun bisa menembus ratusan juta rupiah.

Khusus pala misalnya, satu pohon bisa memanen 50 kilogram. Setiap kilo senilai Rp 60 ribu. Jika dikalikan, maka bisa Rp 3 juta. Itu baru satu pohon yang tua. Di lahan La Baa, ada puluhan pohon pala yang tumbuh. Panennya pun tidak menentu. Kadang setiap pekan mereka datang memungut.

Itu belum termasuk bunganya. Dalam sekilo, bunga pala dihargai Rp 120 ribu. Kadang mereka bisa panen sampai beberapa kilo.

Baca Juga :  Sudah Puluhan Tahun, Jalan di Punggolaka Kota Kendari Tak Diperhatikan Pemerintah

“Pohon pala ini seperti kelapa. Tidak menentu panennya. Kalau pala yang sudah tua, makin banyak buahnya,” jelasnya.

Pala milik La Baa ini telah ditanamnya sejak 20 tahun lalu. Selain jual beli buah dan kembangnya, La Baa juga tengah fokus melakukan pembibitan. Satu pohon seharga Rp 5 ribu.

“Banyak orang luar beli bibit ke saya,” bebernya.

Selain pala, sumber penghasilan La Baa adalah jambu mete. Dalam setahun, jambu dipanen sekali. Kadang, sekali panen sampai 4 hingga 5 ton. Pendapatan dari jambu ini bisa sampai Rp 50 juta.

Berkat seluru penghasilannya dari berkebun ini, La Baa sudah tujuh tahun menabung untuk kesiapan naik haji nanti.

“Jadi, saya bisa umrah, bisa menabung dan sekolahkan anak saya karena berkebun. Bukan dari uang tambang,” pungkasnya.

Penulis : La Ode Pandi Sartiman

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
loading...