Basarnas Kendari Ingatkan Pemilik Kapal Utamakan Keselamatan

Kepala Kantor SAR Kendari Djunaedi.

Kendari, Inilahsultra.com – Setiap terjadi kecelakaan kapal, Basarnas Kendari tidak pernah absen dalam melakukan pertolongan.

Terakhir, kasus terbakarnya KM Izhar yang menewaskan 11 penumpang dan dua masih dinyatakan hilang, Basarnas turut serta dalam melakukan penyelamatan dan pencarian korban yang masih hilang.

Peristiwa kecelakaan KM Izhar ini, merupakan salah satu bukti bahwa laut Sultra begitu rawan bagi armada kapal yang beroperasi, khsusunya kapal penumpang.

-Advertisement-

Untuk itu, Basarnas Kendari mengingatkan kepada pemilik kapal agar selalu patuh terhadap aturan dan mengutamakan keselamatan penumpang. Tak terkecuali pula kepada masyarakat.

“Kami imbau pemilik kapal, untuk melengkapi safety equipment atau alat keselamatan. Semisal, life jacket, life boot atau life raft.

“Kalau kapasitas penumpang 500 orang, yah harus siapkan 500 life jacket. Kalau perlu lebih. Termasuk harus siapkan life raft itu. Bentuknya seperti kapsul,” kata Kepala Kantor SAR Kendari, Djunaidi kepada Inilahsultra.com.

Menurutnya, kelengkapan alat keselamatan kapal dapat meminimalisir korban pada saat terjadinya kecelakaan di laut.

Kepada penumpang, Djunaidi juga mengingatkan agar mempertimbangkan untuk berangkat bila mengetahui kondisi kapal tidak laik.

“Bagi seluruh masyarakat, jangan tinggal naik. Lihat dulu. Kalau kapalnya pecah-pecah, jangan naik. Tunda dulu perjalanan. Kalau kondisi bagus, silakan jalan,” katanya.

Menurutnya, keselamatan penumpang paling utama bukan pada langkah penyelamatan dari Basarnas, melainkan kapal itu sendiri dalam menyiapkan fasilitas keselamatannya.

Kondisi Laut Sultra yang Ganas

Kondisi perairan Sultra, terbilang ganas dan kerap terjadi kecelakaan kapal. Selain karena kondisi alam, kecelakaan disebabkan oleh human error.

“Kondisi alam yang tidak menentu. Walaupun BMKG menyebut 0,5 meter, tapi kondisi di lapangan sering berubah. Sekarang, cuaca sulit diprediksi,” ujar Djunaidi.

Khusus di Perairan Tapulaga yang menjadi tempat terjadinya kebakaran KM Izhar, kondisi arusnya begitu deras. Sebab, di sana, merupakan pertemuan arus masuk dan keluar.

“Sehingga sedikit saja angin berliuk, maka berpengaruh terhadap ketinggian ombak. Kita lakukan penyelaman kemarin sangat setengah mati. Arus bawahnya deras,” jelasnya.

Selain di Perairan Tapulaga, kapal sering mengalami kecelakaan di sekitar Perairan Buton Utara, Wakatobi dan Buton.

Kondisi laut Sultra yang begitu berbahaya, diharapkan menjadi peringatan bagi perusahaan kapal untuk menyiapkan alat keselamatan.

“Pemilik kapal harus sesuai prosedur dan melengkapi safety equipment,” pungkasnya.

Penulis : La Ode Pandi Sartiman

Facebook Comments