Dosen Sulit Kenali Mahasiswi, Alasan IAIN Kendari Berlakukan Larangan Bercadar

796
 

Kendari, Inilahsultra.com – Beberapa hari yang lalu sejumlah mahasiswa Institusi Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari melakukan aksi protes terhadap aturan kampus yang melarang mahasiswinya menggunakan cadar.

Oleh mahasiswa, penerapan aturan berikut kode etik larangan bercadar ini telah merampas hak mahasiswa.

- Advertisement -

Menurut Analisis Humas dan Protokoler IAIN Kendari Lili Ulfiah mengaku, kampus Islam ini tidak melarang mahasiswi menggunakan cadar dalam kampus.

Menurutnya, aturan ini diberlakukan pada saat proses perkuliahan berlangsung, karena dosen sulit untuk mengenali mahasiswinya.

“Pada kode etik mahasiswa pasal 14 poin 10 bahwa menutup wajah bagi mahasiswi dalam proses perkuliahan menyulitkan dosen pada saat perkuliahan untuk mengenali mahasiswi dalam berinteraksi atau tanya jawab,” kata Lili Ulfiah saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis 5 September 2019.

Dengan penggunaan cadar, lanjut Lili Ulfiah, dosen tidak menjamin akan mengenali mahasiswinya.

“Dalam ruangan harus membuka cadar atau penutup wajah agar interaksi dosen dan mahasiswi berjalan dengan baik dan untuk memastikan bahwa dosen dapat mengenali mahasiswi dengan benar,” jelasnya.

Ia melanjutkan, sepanjang proses perkuliahan tidak mesti membuka cadar. Tetapi pada saat interaksi antara dosen dengan mahasiswi atau tanya jawab diminta untuk membuka cadar.

Menurutnya, ekspresi mahasiswi penting diketahui terkait mengerti atau tidaknya pelajaran yang disampaikan dosen.

“Ini lingkungan alademik saling menghormati perbedaan, dan menghargai rasa toleransi dengan tidak mengesampingkan nilai-nilai pendidikan yang perlu interaksi yang lebih efektif,” terangnya.

Pada saat proses perkuliahan, kata dia, mahasiswi yang bercadar dan mahasiswa lawan jenis dipisahkan dalam satu ruangan.

“Kalau mahasiswi yang bercadar duduk belakang supaya pada saat interaksi tidak dilihat oleh teman-temannya, dan mahasiswa laki-laki duduk di depan dengan cara pandang mereka ketika menengok ke belakang kita tidak perbolehkan,” jelasnya.

Ia mengaku, terhadap larangan ini, pihak kampus sudah melakukan kajian.

“Hasil kajiannya kita akan buka secara publik dalam waktu dekat ini. Sebenarnya Ini persoalan khilafiah atau hanya perbedaan pendapat hukum Islam dalam menentukan hukum,” jelasnya.

Sosialisasi larangan bercadar ini, sebut dia, melibatkan semua dekan tingkat fakultas, presiden mahasiswa dan ketua senat mahasiswa dalam agenda penyusunan dalam kode etik.

“Penolakan ini kita pertanyakan sebenarnya, kenapa penolakan dilakukan pada saat diberlakukan. Padahal perwakilan mahasiswa telah menyetujui dan tidak ada komplain pada saat penyusunan kode etik mahasiswa IAIN Kendari,” ungkapnya.

Terhadap adanya pandangan bahwa IAIN Kendari melanggar HAM dalam memberlakukan aturan tersebut, Lili berpendapat, harus dilakukan kajian lebih jauh secara hukum.

“Kita akan dudukan bersama pakar hukum nantinya untuk menganalisis secara hukum pelanggaran yang dianggap ini bagian mana. Karena IAIN Kendari sebenarnya tidak bermaksud melanggar hak-hak mahasiswa dengan mempecayai bahwa bercadar itu kewajiban mungkin buat mereka,” tutupnya.

Sementara itu, salah seorang mahasiswi IAIN Kendari yang mengenakan cadar mengaku tidak setuju dengan aturan kampus. Sebab, menurut dia, dalam pemakaian cadar dapat melindungi dirinya dari godaan lawan jenis.

“Kalau saat berinteraksi dengan dosen dibuka, terus bagaimana dengan mahasiswa yang sejak sekolah sudah menggunakan cadar,” ungkap mahasiswi yang menolak disebutkan identitasnya.

Menurutnya, paham dan tidaknya mahasiswi atas pelajaran yang disampaikan dosen tidak diukur dengan ekspresi terlebih membuka cadar.

“Saya rasa untuk mengetahui mengerti dengan tidak soal pembelajaran tanpa membuka cadar juga bisa kita mengerti. Bisa buka cadar kecuali muhrimnya kita. Jika saat berinteraksi dengan dosen mending dibuka saja sekalian,” tutupnya.

Penulis : Haerun
Editor : La Ode Pandi Sartiman

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...