Unjuk Rasa di UHO Ricuh, Satu Jurnalis Dilarikan ke Rumah Sakit

386
Jurnalis jadi korban pelemparan batu demo ricuh di UHO. (Istimewa)

Kendari, Inilahsultra.com – Keluarga Besar Mahasiswa Universitas Halu Oleo (KBM-UHO) melakukan unjuk rasa di Gedung Rektorat berlangsung ricuh, Senin 23 September 2019.

Saling lempar pihak keamanan dan massa aksi dalam unjuk rasa tersebut, membuat salah seorang Jurnalis Kompas TV Silviansah Kia biasa disapa Anca terkena lemparan batu besar di bagian perut dan terjatuh di tanah hingga harus dilarikan di rumah sakit.

- Advertisement -

Kepala Biro Kompas TV Kendari Yusnandar mengatakan, pada saat Anca melakukan peliputan mengambil video demo di UHO, tiba-tiba terkena lemparan batu besar.

“Lemparan itu terasa sakit di perutnya, dan sesak nafas sehingga tidak bisa ditahan lagi dan langsung terjatuh. Untungnya ada teman jurnalis yang membantu dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara,” jelas Yusnandar, Senin 23 September 2019.

Lanjut Yusnandar, Anca dilarikan ke rumah sakit untuk dilakukan tindakan rontgen karena khawatir bagian tubuh terkena lemparan membahayakan kesehatannya.

“Kata dokter tidak ada yang perlu dikhawatirkan itu hanya benturan keras namun jauh dari tulang rusuk, dan dokter menyarankan Anca untuk pulang beristrahat untuk beberapa hari,” tutupnya.

Sementara itu, Silviansah Kia mengaku, dapat lemparan batu pada saat itu dirinya sedang merekam video penjelasan dari Rektor UHO tentang tuntutan massa aksi.

“Posisiku mengambil video tidak jauh dengan pak rektor, setelah penjelasan pak rektor massa aksi melempar. Saya menghadap ke kiri dan ke kanan untuk menyelamatkan diri tapi lemparan batu dari berbagai arah datang, saya bertahan dan berlindung di tiang rektorat bersama teman 5 orang,” ungkap Anca melalui telepon selulernya, Senin malam 23 September 2019

“Batu kecil tidak terlalu hiraukan karena saya memakai helem. Tapi ketika dikena batu besar saya langsung terduduk serta terkapar, dan kalau bertahan takapar mungkin saya akan mati, tapi saya menguatkan diri untuk bangun dan berlindung di tiang yang besar,” jelasnya.

Dirinya sempat meminta tolong kepada orang yang berada dalam rektorat untuk membuka pintu masuk, tapi karena posisinya masih ada lemparan batu dan kayu pintu masuk rektorat tidak berani dibuka.

Lanjutnya, dalam situasi pelemparan batu tidak berhenti, hingga mengenai kaca pintu rektorat dan pecah.

“Ketikan pintu rektorat dikena dan lemparan dan pecah, disitulah saya membuang diriku untuk masuk dalam rektorat. Saya sudah tidak tahan dengan lemparan batu yang datang dari berbagai arah,” ungkapnya.

Setelah menyelamatkan diri dan masuk dalam rektorat, lanjut Anca, ternyata kamera dan Handphone (Hp) tertinggal di luar. Beruntung ada beberapa koordinator demo mengintruksikan massa aksi untuk menahan diri.

“Saya kembali beranikan diri keluar untuk mengambil kamera dan HP, dengan berkata kepada massa aksi bahwa saya wartawan, hanya mau ambil kamera dan HP yang tertinggal, di situ lah saya langsung pulang dan ke rumah sakit,” jelasnya.

Di Rumah Sakit Bhayangkara, dokter yang memeriksa ada sedikit benturan keras, namun tidak berpengaruh dengan tulang rusuknya.

“Dokter bilang saya tidak apa-apa hanya ada benturan keras sedikit, dan dokter memberikan saya resep obat lambung dan penahan rasa sakit,” tutupnya.

Penulis : Haerun

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
loading...