JOIN Wakatobi Kecam Kekerasan Wartawan di Sulsel

91
Ketua JOIN Wakatobi La Ode Arjuno Emang Sah (Tengah) dan Sekretaris Syaiful (kanan).

Wakatobi, Inilahsultra.com – Tindakan kekerasan yang dilakukan oknum polisi terhadap beberapa wartawan saat meliput demonstrasi mahasiswa di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) mendapat kecaman dari Ketua Jurnalis Online Indonesia (JOIN) Wakatobi.

Demonstrasi yang dilakukan mahasiswa sebagai bentuk penolakan atas RUU Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

- Advertisement -

Ketua JOIN Wakatobi La Ode Arjuno Emang Sah mengatakan, tindakan oknum kepolisian tersebut sangat bertentangan dengan tugas dan fungsi kepolisian sebagai pengayom dan pelindung masyarakat.

Sesuai UU Nomor 9 Tahun 1999 Tentang Pers, disebutkan pada pasal 8 bahwa dalam melaksanakan profesinya wartawan mendapat perlindungan hukum.

                       

“Saya pikir dalam pasal itu jelas, artinya selama dia melaksanakan tugas sebagai wartawan sesuai dengan kode etik jurnalis, maka pasal itu akan selalu melekat pada profesinya. Jadi sangat tidak etis sekali, apabila ada seorang oknum dari mana pun apa lagi itu adalah oknum polisi yang kemudian melakukan tindakan sewenang-wenang terhadap wartawan,” tutur Arjuno, Rabu 24 September 2019.

Ia berharap, kejadian terhadap wartawan di Sulsel itu menjadi perhatian penting Dewan Pers dan organisasi wartawan agar tidak terulang lagi.

Sekretaris JOIN Wakatobi Syaiful mengungkapkan, kekerasan terhadap wartawan di Indonesia kerap terjadi. Olehnya itu ia berharap adanya perhatian khusus dari kalangan terkait.

Dia menegaskan, ada hal yang harus dipahami oleh khalayak. Bahwa dalam menjalankan tugas dan fungsi pers, seorang wartawan tidak mesti dihalangi, apalagi sampai terjadi kekerasan. Karena itu punya konsekuensi hukum yang ditur dalam UU Pers.

“Pasal 18 ayat (1) menyebutkan bahwa, setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan pada Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah), jadi mesti hati-hati juga,” tuturnya.

Baca Juga :  Diduga Sekap Kekasihnya, Wakil Ketua DPRD Kota Kendari Dilapor Polisi

Oleh sebab itu pengurus JOIN Daerah Kabupaten Waktobi berharap, tindakan kekerasan terhadap wartawan diseluruh wilayah tanah air Indoneaia tidak lagi terjadi.

Reporter: La Ode Samsuddin

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
loading...