Diperiksa dalam Kasus Meninggalnya Randi dan Yusuf, Enam Polisi Dibebastugaskan

806
Telegram Kapolda Sultra Pemindahtugasan enam anggota polisi yang diperiksa dalam kasus meninggalnya Yusuf dan Randi.

Kendari, Inilahsultra.com – Enam anggota polisi di Polres Kendari dibebastugaskan karena tengah diperiksa dalam kasus meninggalnya Randi dan Muhammad Yusuf Kardawi.

Pembebastugasan keenam polisi ini tertuang dalam surat telegram Kapolda Sultra bernomor ST/969/X/KEP.2/2019.

- Advertisement -

Keenamnya itu adalah DK dalam hal ini Kasat Reskrim Polres Kendari AKP Diki Kurniawan. Ia dipindahkan di Pama Roops Polda Sultra.

Selanjutnya, Bripka Muhammad Arifuddin Puru, Brigadir Abdul Malik, Briptu M Ikbal, Briptu Hendrawan dan Bripda Fatcurrochman. Kelimanya dipindahkan ke Yanma Polda Sultra.

                       

Pemindahtugasan ini dibenarkan oleh Kabid Humas Polda Sultra, AKBP Harry Goldenhardt, Senin 7 Oktober 2019.

“Iya benar karena statusnya adalah terperiksa maka dibebastugaskan,” katanya dalam pesan Whatsappnya.

Sebelumnya, tim investigasi Mabes Polri telah menetapkan enam orang anggota polisi di jajaran Polda Sultra dan Polres Kendari berstatus terperiksa atas meninggalnya dua mahasiswa Universitas Halu Oleo Kendari.

Karo Provos Direktorat Provesi dan Pengamanan (Dit Propam) Mabes Polri Brigjen Hendro Pandowo mengatakan, Kapolri Jenderal Tito Karnavian sudah mengingatkan kepada jajarannya untuk tidak membawa senjata api dalam menangani unjuk rasa.

Namun, pada peristiwa 26 September 2019, diketahui ada dua mahasiswa meninggal dunia. Salah satunya, Randi (21), meninggal karena luka tembak berdasarkan autopsi dokter.

Atas penembakan itu, lanjut dia, Mabes Polri membentuk tim investigasi yang terdiri dari Irwasum, Propam, Bareskrim dan satuan lainnya.

Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) dari tim investigasi Propam dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi-saksi, dipastikan ada beberapa anggota polisi yang melanggar standar operasional (SOP) atau tidak disiplin.

“Sehingga kita sudah tetapkan enam anggota yang menjadi terperiksa karena saat unjuk rasa bawa senjata api,” kata Hendro di Mapolda Sultra, Kamis (3/10/2019).

Baca Juga :  KPK : Penerapan Alat Perekam Pajak Pemkot Kendari Belum Maksimal

Keenam anggota polisi itu, beber dia adalah berinisial DK, GM, MI, MA, H dan E. Ia menyebut, DK merupakan perwira di Polres Kendari.

“Limanya adalah bintara. Kebetulan mereka ini dari jajaran tertutup, intel dan reserse,” jelasnya.

Saat ini, lanjut dia, keenam polisi ini sedang kita lakukan pemeriksaan apakah masuk dalam sprint pengamanan unjuk rasa atau tidak.

Ia menyebut, pelanggaran SOP dimaksud terhadap keenamnya adalah terbukti membawa senpi saat pengamanan unjuk rasa.

“Berdasarkan olah TKP, keenamnya bawa senjata api laras pendek. Jenis SNW, HS dan Mek,” ujarnya.

Meski demikian, untuk pemeriksaan senjata api, selongsong dan proyektil, merupakan kewenangan Bareskrim Polri. Saat ini, sejumlah alat bukti selongsong, senjata dan proyektil telah diperiksa di Pusat Laboratorium Forensik Makassar.

Setelah mereka diperiksa, selanjutnya Propam akan menuangkan dalam pemberkasan untuk kemudian disidangkan secara terbuka.

“Semua akan melihat seperti apa kesalahannya,” jelasnya.

Jenderal bintang satu ini menyebut, tidak ada instruksi kepada keenam polisi saat membawa senpi untuk pengamanan unjuk rasa.

“Senjata itu biasanya kebutuhan reserse melekat di badannya. Makanya ini yang didalami,” tekannya.

Ia menegaskan, kasus ini akan diungkap secepatnya dan disampaikan ke publik. Siapa pun yang terlibat, akan terus didalami oleh tim investigasi.

Penulis : La Ode Pandi Sartiman

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
loading...