Turunnya Aktivitas Pertambangan Menahan Laju Pertumbuhan Ekonomi di Sultra

432
Pose bersama dalam sebuah acara yang digelar Bank Indonesia.

Kendari, Inilahsultra.com – Pelambatan usaha pertambangan dan lapangan usaha kontruksi menjadi faktor penahan laju akselerasi perekonomian di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) pada pada periode tahun 2019.

Hal diungkapkan Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sultra Suharman Tabrani dalam acara Disemasi Perekonomian dan Forum Koordinasi Ekonomi dan Keuangan Regional Sultra dihadiri langsung Wagub Sultra Lukman Abunawas di Hotel Claro, Kamis 17 Oktober 2019.

- Advertisement -

Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sultra Suharman Tabrani menjelaskan, perekonomian Sultra Agustus 2019 pada triwulan II ekonomi Sultra tumbuh sebesar 6,3 persen (yoy), mengalami moderasi dibandingkan dengan periode sebelumnya yang tumbuh sebesar 6,4 persen (yoy).

Dari sisi permintaan, penurunan pertumbuhan perekonomian Sultra disebabkan oleh menurunnya investasi, dan naiknya net ekspor antar daerah meskipun tertahan oleh kenaikan yang terjadi pada sektor lainnya seperti konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, dan ekspor luar negeri.

“Sementara itu dari sisi penawaran, perlambatan pertumbuhan ekonomi Sultra didorong oleh menurunnya kinerja lapangan usaha pertambangan, konstruksi, transportasi dan lapangan usaha perdagangan besar dan eceran,” jelas Suharman Tabrani dalam sambutannya.

Kemudian, memasuki triwulan III 2019, perkembangan beberapa indikator ekonomi di Sultra mengindikasikan arah pertumbuhan dengan tren meningkat dengan kisaran 6,2 persen-6,6 persen (yoy).

“Sektor ekonomi yang diperkirakan akan mengalami peningkatan kinerja yaitu lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan, lapangan usaha industri pengolahan dan lapangan usaha transportasi dan pergudangan,” jelasnya.

Sementara itu, lanjut dia, tingkat inflasi IHK Sultra pada triwulan II 2019 mencapai 3,49 persen (yoy) mengalami peningkatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar 2,60 persen (yoy). Maka berdasarkan kelompoknya, meningkatnya tekanan inflasi disebabkan oleh peningkatan pada kelompok bahan makanan meskipun tertahan oleh penurunan pada kelompok perumahan dan kelompok transportasi.

“Gangguan produksi pada subkelompok sayur-sayuran dan bumbu-bumbuan menjadi faktor utama meningkatnya tekanan inflasi tahunan bahan makanan di Sultra pada periode laporan,” ungkapnya.

Namun, penurunan tekanan inflasi bahan bakar rumah tangga dan penurunan tarif dasar listrik serta kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah untuk tarif angkutan udara menyebabkan terjadinya penurunan tekanan inflasi pada kelompok perumahan dan kelompok transportasi, sehingga menahan peningkatan tekanan inflasi tahunan pada periode laporan.

Upaya pengendalian inflasi yang dilakukan oleh pemerintah daerah bersama Bank Indonesia melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sultra selama triwulan II 2019 difokuskan pada upaya menjaga kestabilan harga melalui berbagai kegiatan untuk menjamin ketersediaan stok dan kelancaran distribusi komoditas pangan terutama menjelang hari besar keagamaan nasional.

“Kondisi stabilitas sistem keuangan di Sultra tetap terjaga, karena tercermin pada ketahanan keuangan sebagian besar sektor pendukungnya, yaitu rumah tangga, korporasi, UMKM dan institusi keuangan yang menunjukkan perkembangan yang positif dengan risiko yang relatif terkendali,” jelasnya.

Ketahanan keuangan sektor rumah tangga terus terjaga dengan risiko dan optimisme yang semakin baik. Ketahanan yang baik pada sektor korporasi tercermin dari terjaganya pendapatan selama periode pelaporan dan risiko yang terkendali.

“Dari sisi institusi keuangan, indikator aset, penghimpunan dana pihak ketiga dan kredit menunjukkan kinerja yang baik, dan kondisi yang aman juga terlihat dari sisi risiko kredit yang masih terkendali,” tutupnya.

Penulis : Haerun

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
loading...