Tapak Tilas Randi : Tulang Punggung Keluarga, Direnggut Nyawanya dengan Senjata

Alumni dan mahasiswa teknik UHO menggelar doa bersama di lokasi meninggalnya Yusuf dan Randi.

Kendari, Inilahsultra.com – Randi (21) adalah anak kedua dari lima bersaudara. Ia merupakan satu-satunya laki-laki yang diharapkan menjadi penerus La Sali. Tapi sayang, nyawanya harus direnggut oleh timah panas saat demo berdarah 26 September 2019 lalu.

Sebelum merantau di Kendari melanjutkan studi, Randi besar dan tumbuh di Desa Lakarinta Kecamatan Loghia Kabupaten Muna.

La Sali bercerita, Randi merupakan anak sabar dan telah jadi tulang punggung keluarga selama ini. Pekerjaannya sebagai nelayan, dianggap tidak akan mampu membiayai kehidupan mereka.

-Advertisement-

Beruntung, ada Randi. Sembari kuliah, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Halu Oleo itu bekerja serabutan jadi kuli bangunan.

“Dia kerja di Bandara (Halu Oleo Kendari). Di sana dia jadi buruh bangunan. Ini almarhum saya punya harapan karena sudah jadi tulang punggung keluarga kasian,” kata La Sali, ayah kandung Randi.

Rencananya, Randi akan mengikuti program kuliah kerja nyata (KKN) pada Oktober ini. Karena kakak perempuannya akan mengikuti ujian akhir dan adiknya barusan masuk kuliah, ia membatalkannya.

“Katanya nanti setelah kakaknya wisuda, baru dia KKN. Makanya, gajinya sebagai buruh bangunan itu, dia berikan untuk biaya kakaknya,” bebernya.

Sehari sebelum demonstrasi berdarah, anak kelahiran Lakarinta Kecamatan Loghia Kabupaten Muna 17 Juli 1997 itu sempat menghubungi orang tuanya. Ia sempat menanyakan kabar ibunya yang sehari-hari bekerja sebagai ibu rumah tangga.

“Dia menelpon katanya, mama sehat-sehat? Saya bilang alhamdullilah sehat. Kita balik tanya, katanya sehat juga,” kata La Sali menirukan ucapan terakhir Randi.

Kabar duka kemudian datang di rumahnya bakda Magrib beberapa jam setelah Randi ditembak di Kendari. Saat itu, La Sali tengah pergi melaut mencari ikan. Ia dijemput keluarga dan diantarkan kembali ke rumah.

Ia mengira, kumpul-kumpul di depan rumahnya itu adalah kabar baik soal hadirnya investasi batu gamping di lahannya yang dilirik investor.

“Jujur saja, saya tidak tahu arah barat dan timur ingat kematian anak saya ini. Saya tidak habis pikirkan kematian anak saya itu. Besar harapanku kasian bisa bantu saya dan ringankan beban. Dia bisa mandikan saya kalau saya meninggal nanti,” pungkasnya.

Randi merupakan mahasiswa Universitas Halu Oleo Kendari yang meninggal dalam bentrokan berdarah pada 26 September 2019 lalu.

Berdasarkan autopsi dokter, Randi tertembak peluru tajam di dada kiri bawah ketiak tembus dada kanan.

Tepat 24 hari meninggal, belum ada yang dinyatakan bertanggung jawab atas meninggalnya almarhum Randi maupun Muhammad Yusuf Kardawi.

Penulis : Onno

Facebook Comments