Membaca Gestur dan Gaya Politik Rusman Emba

Maul Gani saat berada di atas pesawat jauh sebelum adanya pandemi corona. (Istimewa)

Mengawali catatan ini, saya ingin menyampaikan, secara pribadi tidak memiliki kedekatan dengan Bupati Muna ini. Namun untuk beberapa hal, utamanya pesona politik Rusman Emba, penulis memiliki bebeeapa catatan yang patut digali dan dipelajari. Secara gestur, sikap dan strategi menjinakkan serangan harus diakui, Rusman Emba memiliki kemampuan istimewa.

Terakhir berapapasan dengan beliau sekitar sebulan lalu, di dalam sebuah pesawat tujuan Jakarta-Kendari, seingatku itu pertemuan kedua setelah Musyawarah Daerah (Musda) Korps Alumni HMI Kabupaten Muna.

Selebihnya sebagai warga Muna saya hanya mengenal Rusman melalui berita yang bersiliweran di media massa dan media sosial.

-Advertisement-

Rusman Emba tentu bukan nama baru di dunia perpolitikan Sultra, pernah menjadi Ketua DPRD Provinsi, hingga Anggota DPD RI hingga memimpin daerah dengan tensi perpolitikan tinggi, tentu menjadikannya politisi yang tidak dapat dipandang sebelah mata.

Poin penting yang menarik menurut saya adalah sikap tenang Ketua KAHMI Muna ini. Ini merupakan talenta yang tidak semua miliki.

Dinamika perpolitikan, serangan lawan politik yang lumayan menguras energi, ditundukan Rusman dengan gayanya yang selalu terlihat tenang dan tak pernah memperlihatkan kepanikan dan semua teduh seperti semula.

Kita ingat benar, Rusman disandingkan dengan predikat bupati yang lemah dan tak membangun? Stigma yang dijalankan begitu masifnya. Lalu bagaimana sikap Rusman Emba?

Menjadikan kawasan Timur Muna sebagai sentra pertanian yang kini mendekati ‘Goaal’, peresmian pelabuhan yang memudahkan akses dan lalu lintas kawasan pesisir menuju Ibu Kota, pengaspalan ruas jalan di beberapa wilayah adalah rangkaian jurus yang dilakukam untuk menenangkan badai serangan.

Politisi yang juga kerabat Anggota DPR RI dua periode, Ridwan Bae ini, memahami benar, jika suatu daerah yang terlihat baik-baik saja, sesungguhnya daerah tersebut sedang tidak baik, sehingga Rusman membutuhkan keran keran kritik sebagai literatur dalam membangun dan memberi pelayanan sesuai dengan kebutuhan dan tepat sasaran.

Apakah Rusman merupakn figur yang benar-benar lemah? Tentu tidak. Yang teejadi, dirinya merupakan pendengar yang baik dan menyukai tantangan.

Rusman Khatam Strategi China Kuno

“Menyembunyikan belati dibalik melati” petikan kalimat Sun Tzu ini tampaknya tengah dimainkan politisi PDI Perjuangan ini.

Untuk mengetahui kelemahan lawan, Rusman berusaha menjadi orang yang tampak akrab dengan lawan-lawan politiknya, tentu gayanya yang tampaknya tanpa beban memainkan emosional lawan, sesungguhnya dia sudah menguasai hampir separuh gudang amunisi lawan.

Jarang yang menyadari, Rusman sedang menyiapkan jurus yang mematikan memanfaatkan kelemahan lawan yang kelelahan usai melakukan serangan. Lalu kapan waktunya menyerang? Tentu sebagai petarung dia paham kapan waktu yang tepat, sebab Rusman adalah politisi yang cerdas melihat momentum.

Sedikit yang tahu, jika Mantan Ketua Cabor Pertina Sultra ini adalah hobi koleksi buku strategi, sehingga gestur dan sikap politiknya benar-benar diperankan dengan sangat baik, cara mengecoh lawan, menentukan karakter, kecerdasan melihat momentum dan paham cara memenangkan pertempuran.

Fokus Tujuan

Awal kepemimpinannya, Rusman Emba langsung tancam gas, membenahi, pembangunan mangkrak yang diwariskan pendahulunya, setidaknya Masjid Megah peninggalan Ridwan Bae tuntas di tahun pertama pasca dilantik.

Demikian juga Rumah Sakit bertaraf internasional warisan dr LM Baharuddin, membuat tugu pesawat, membangun lapak pedagang kaki lima, semua tampak dikebut, terbaru pembangunan pelabuhan penyeberangan yang juga dimulai di era dokter Baharuddin memimpin.

Semua kemudian bertanya, apa yang tujuan Rusman, meneruskan warisan bangunan mangkrak, yang secara politis tidak akan menguntungkan dirinya?

Untuk hal ini, sedikit yang melihat sisi lain, sisi dimana Rusman akan dikenang sebagai Bupati penyempurna, akan dikenang sebagai Bupati yang melepas politik balas dendam, fokus pada tujuan.

Bang Uman, paham benar, karakter ‘orang Sultra’ yang mengukur keberhasilan pemimpin dari sesuatu yang bersifat monumental. Ini soal kemampuannya membaca karakter dan seperti apa dia akan dikenang oleh masyarakat Muna.

Kerap Kontroversi dan Sulit Diterka

Lalu apakah Rusman Emba sempurna? Tentu saja tidak. Punya banyak catatan dan kelemahan. Sebagai pemimpin daerah memuaskan semua kalangan melalui kebijakan merupakan hal yang mustahil.

Beberapa saat lalu, publik Muna dihebohkan dengan pelantikan pelaksana tugas Kepala Desa. Untuk hal ini Rusman terkesan ‘nekat’ puluhan Kepala desa yang habis masa jabatan digantikan dengan orang-orang pilihannya.

Rusman juga mengabaikan protes warga, terkait pelaksana yang berasal dari luar desa yang bersangkutan. Padahal secara politik kebijakan berani Rusman ini kurang berpihak kepadanya. Ada asumsi yang berkembang dimasyarakat jika Rusman Emba bisa saja punya kepala desa, namun tidak dengan warganya.

Demikian pula, dalam penentuan pejabat pembantunya dalam pemerintahan untuk berbagai eselon, kerap mendapat kritikan, karena mengakomodir pejabat yang dianggap melawannya secara politik, namun Rusman tetap kokoh pada pendirian.

Sebagai Kepala Pemerintahan tentu dirinya sudah menakar dan mempertimbangkan segalah resiko yang ditimbulkan. Wujud resikonya tentu hanya dia dan Tuhan yang tau.

Sebab jika pertimbangannya adalah penyelenggaraan pemerintahan, maka Rusman akan memilik orang yang dianggapnya tepat dan mau menerjamahkan visi pemerintahan.

Demikian juga dalam pertimbangan politis, setiap langkah yang dilakukan tidak dapat kita terjemahkan secara lettelijk sebab Rusman sudah mengukur daya pantul yang ditimbulkan apa yang dilakukannya.

Maul Gani
(penulis adalah warga Muna/Mahasiswa Pascasarjana Universitas Jayabaya Jakarta)

Facebook Comments