“Mengubur Fakta Kematian Yusuf”

531

Oleh : La Ode Muhammad Dzul Fijar.,S.H

Penyelidikan atas kematian Yusuf Kardawi masih terus berlanjut. Kerja Kepolisian dalam proses pengungkapan kasus tidaklah mudah. Ditelisik dari jangka waktu yang diperlukan terhitung hampir mencapai 2 bulan (50 hari), kepolisian masih berkutat dalam proses penyelidikan.

Advertisements
- Advertisement -

Awalnya, uji balistik selalu menjadi jawaban dalam setiap tuntutan mahasiswa dalam menyikapi lambatnya kerja kepolisan dalam mengungkap kasus tersebut. Namun pasca hasil uji balistik diumukan ke publik oleh Kasubdit 5 Dirpidum Bareskrim Kombes CH Patoppoi yang pokoknya menerangkan bahwa hasil uji balistik yang dilakukan terhadap tiga proyektil dan enam selongsong peluru, ditemukan dua selongsong di antaranya identik dengan dua proyektil peluru yang ditemukan di lapangan. Proyektil peluru tersebut identik dengan senjata api jenis HS yang digunakan oleh AM. 

Hasilnya, Brigadir AM ditetapkan tersangka karena diduga menembak mahasiswa Universitas Halu Oleo, Kendari bernama Himawan Randi. Menelisik alur pengungkapan kasus tersebut, “koentji” pengungkapan kasus kematian Randi dititik beratkan pada hasil Uji Balistik yang kemudian akan diccokan dengan hasil Visum et Repertum (VeR). 

Namun, bagaimana dengan proses pengungkapan kasus kematian Yusuf? Sejauh perkembangan pemberitaan media, proses perkembangan kasus kematian Yusuf masih sebatas proses “Lidik”. Bahkan, ketika kasus kematian Randi yang telah naik ke poses penyidikan dan telah ditemukan tersangkanya, orang tua Yusuf serta publik masih mempertanyakan penyebab kematian Yusuf. Apakah disebabkan karena benturan benda tumpul di kepalanya atau kah meninggalnya Yusuf  karena terkena tembakan di kepala ataukah karena faktor alamiah?

Peristiwa Pidana

Perhelatan demonstrasi yang digelar pada tanggal 26 September 2019 lalu menyisahkan duka mendalam bagi kita semua tentuanya. Di bilik-bilik pesan WhatsApp kita menemukan foto-foto dengan luka yang tragis. Bagaimana tubuh Randi yang ditembus oleh timah panas yang mengakhiri nafasnya seketika itu pula. Kepala Yusuf yang penuh dengan pemikiran kritis dihancurkan hingga tak berbentuk. Sehari setelah aksi demonstrasi dihelat, Yusuf telah dinyatakan meninggal dunia. 

Alur penanganan perkara pidana berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) terhadap kasus Yusuf dimulai sejak adanya Laporan Polisi Nomor : LP/471/IX/2019/SPKT/POLDA SULTRA tertanggal 26 September 2019 yang dibuat sendiri oleh Kepolisian.

Berdasar pada Pasal 1 angka 5 KUHAP :

“Penyelidikan adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini.”

  1. Yahya Harahap, S.H., dalam bukunya yang berjudul Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP: Penyidikan dan Penuntutan(hal. 101), menyatakan bahwa jadi sebelum dilakukan tindakan penyidikan, dilakukan dulu penyelidikan oleh pejabat penyelidik, dengan maksud dan tujuan mengumpulkan “bukti permulaan” atau “bukti yang cukup” agar dapat dilakukan tindak lanjut penyidikan. Mungkin penyelidikan dapat disamakan dengan pengertian “tindak pengusutan” sebagai usaha mencari dan menemukan jejak berupa keterangan dan bukti-bukti suatu peristiwa yang diduga merupakan tindak pidana.

Penyelidikan dititik beratkan pada upaya pengusutan untuk mencari dan menemukan jejak berupa keterangan dan bukti-bukti suatu peristiwa yang diduga merupakan tindak pidana.

Menelitik kembali suatu peristiwa yang patut diduga sebagai tindak pidana didasarkan pada adanya Laporan Polisi, yang kemudian dilakukan upaya-upaya untuk membuktikan apakah peristiwa tersebut merupakan murni sebagai tindak pidana ataukah bukan merupakan tindak pidana.

Setelah dibuatnya Laporan Polisi untuk kasus kematian Yusuf, kerja Kepolisan dalam pengungkapan kematian Yusuf sangatlah dibutuhkan untuk memberikan kepastian kepada publik terlebih keluarga korban. Mulai dari upaya pengusutan sampai pada pencarian dan penemuan jejak serta bukti-bukti patutlah dilakukan untuk dapat memberikan perkembangan pengungkapan kematian. Namun tidak dapat dinafikan, hingga saat ini kerja kepolisian masih berkutat pada proses penyelidikan.

Jika ditelisik sejak awal, penyebab matinya Yusuf menjadi teka-teki. Sebab hingga saat ini tidaklah dapat dipastikan penyebabnya, apakah Ia tertembak, atau ada benturan benda tumpul dikepalanya, ataukah disebabkan oleh peristiwa alamiah?

Sedangkan matinya Randi dapatlah dipastikan dengan adanya hasil VeR. Cukup alasan bagi kita untuk mengundang tanya yang mengerucut pada : Mengapa hingga saat ini tidak ada upaya permintaan VeR kepada ahli Kedokteran Kehakiman atau dokter/ahli lainnya yang dilakukan oleh Kepolisian untuk dapat memastikan penyebab kematian Yusuf.

Baca Juga :  Dua Daerah Berganti, Ini Daftar Kepengurusan PDIP Kabupaten/Kota se-Sultra Hasil Konfercab

Menariknya, pengungkapan penyebab kematian Yusuf telah diungkap oleh Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), dengan hasil investigasinya yang menerangkan bahwa Yusuf diduga meninggal karena terkena tembakan di kepala di depan gerbang Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Sultra.

Proses penyelidikan dengan interval waktu yang terhitung lama tentunya mengundang emosi publik yang tak terhindarkan. Membiarkan publik terus bertanya-tanya tentang penyebab kematian Yusuf juga akan membuat kepercayaan publik terhadap kinerja kepolisian semakin mengerosot. Padahal bermodalkan permintaan yang bersifat resmi kepada seorang ahli kedokteran kehakiman atau dokter/ahli, penyebab kematian Yusuf dapatlah menjadi terang hingga mendekati kepastian.

Namun sepertinya pilihan itu, tidak menjadi ”Koentji” bagi kepolisian dalam upaya pengungkapan kasus kematian Yusuf. Kepolisian lebih memilih berkutat dalam proses penyelidikan yang kita sendiri tidaklah tau sejauh mana kinerja kepolisian dalam proses penyelidikan ini. Hingga, strategi penyelidikan nampaknya telah kehilangan ketajaman. Bahkan seakan terkesan, kasus kematin Yusuf semakin kabur dalam upaya pengungkapannya.

 

Visum et Repertum “Koentji”

Sejatinya, proses pengungkapan perkara oleh Aprat Kepolisian tidak dapat diintervensi. Kita percaya bahwa kepolisian punya metode dan strategi sendiri untuk mengungkap perkara. Kasus racun Mirna hingga upaya terorisme begitu mudah diungkap. Bak melentikan jari-jemari, begitu mudahnya aparat kepolisian kita mengungkap suatu perkara. Serumit pun itu.

Belakangan, kita baru mengetahui hasil uji balistik belum mampu menjawab pelaku pembunuhan Yusuf, sebab sedari awal belum bisa dipastikan apakah Yusuf juga mati karena timah panas menembus kepalanya? Tumpuan kepolisian yang menjadikan uji balistik sebagai koentji pengungkapan kematian Yusuf hanya akan men-delay proses penyelidikan kasus kematian Yusuf.

Mendikte uji balistik dengan penyebab kematian Yusuf seolah membuka kedok bahwa penanganan atas kasus kematian Yusuf tak akan berujung pada meja pengadilan.

Penulis mencoba menyelami sebuah ungkapan orang tua korban (Ramlan) yang secara terang di media mengatakan bersedia jika jasad anaknya diautopsi demi proses hukum yang terang benderang meski kini sudah dimakamkan. 

Sejalan dengan teori sebab akibat, maka dapatlah dipastikan dalam kasus kematian Yusuf Visum et Repertum sangatlah penting. Kematian Yusuf merupakan akibat sedang penyebabnya pasti kematiannya belum diketahui.

Abdul Mun’im Idris memberikan pengertian : “Visum et repertum adalah suatu laporan tertulis dari dokter yang telah disumpah tentang apa yang dilihat dan ditemukan pada barang bukti yang diperiksanya serta memuat pula kesimpulan dari pemeriksaan tersebut guna kepentingan peradilan.”

Mencari tahu penyebab kematian Yusuf haruslah didasarkan pada keterangan dokter ahli forensik yang termuat dalam VeR sehingga dapat menggantikan keadaan yang sebenarnya.

Soerejono Soekanto Dkk (1987:2) mengemukakan bahwa : “Pada perkara-perkara yang menyangkut kejahatan terhadap tubuh manusia, maka antara lain akan dibuktikan penyebab luka dan atau kematian. Bahkan tidak jarang dapat dicari pembuktian tentang tempus dilicti dan locus dilict”.

Selanjutnya dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana mengkonstruksikan dalam Pasal 133 bahwa:

  1. Dalam hal penyidik untuk kepentingan menangani seorang korban, baik luka, keracunan ataupun mati, yang diduga karena peristiwa tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya. 
  2. Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan secara tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat. 
  3. Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit harus diperlakuakan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilakuakn dan diberi cap jabatan yang diletakkan pada ibu jari kaki atau bagian lain pada mayat.

Dari konstruksi pasal diatas dapatlah kita telisik bahwa permintaan keterangan ahli dilakukan oleh penyidik karena kewenangan yang dimilikinya untuk kepentingan penanganan korban. Permintaan tersebut pula haruslah disyaratkan dilakukan secara tertulis.

Pasal 1 butir 28 KUHAP memberikan pengertian tentang keterangan ahli sebagai berikut : “Keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan oleh seorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan.”

Sehingga berdasar pada Pasal 184 ayat 1 KUHAP Visum et repertum ini dapatlah dijadikan sebagai alat bukti yang menerangkan pasti penyebab kematian Yusuf.

 Namun, kita tidak habis berharap kepada kepolisian dalam mengungkap kasus kematian Yusuf. Penanganan secara Profesioanal sangatlah dibutuhkan sedari awal hingga saat ini. Matinya Yusuf, Randi, serta intimidasi-intimidasi yang berulang dilakukan baik kepada mahasiswa juga jurnalis merupakan wajah otoriter kepolisan yang patut untuk dibersihkan.

Selebihnya, harapan dalam doa kita bersama pengungkapan kematian Yusuf dapat dilakukan dengan serius dan sungguh-sungguh. Upaya Visum et Repertum tidak lagi menjadi canggung dan sulit dimintakan secara resmi oleh kepolisian kepada dokter ahli forensik. 

Atau terus menerus menyembunyikan misteri penyebab kematian Yusuf, hingga fakta-fakta kematian Yusuf terkubur pula bersama jasadnya. Wallahu’alam.

Baca Juga :  “Memotong Leher” IUP Di Konawe Kepulauan

Penulis : Eks. Ketua BEM HUKUM UHO – Pemerhati Hukum/Aktivis LSM

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
loading...