Hari HAM Sedunia, Mahasiswa Demo DPRD Sultra Suarakan Kasus Randi-Yusuf

283
Mahasiswa kembali menggelar demo di DPRD Sultra memperingati Hari Hak Asasi Manusia. (Onno)
Bacakan

Hari HAM Sedunia, Mahasiswa Demo DPRD Sultra Suarakan Kasus Randi-Yusuf

-Advertisements-

Kendari, Inilahsultra.com – Memperingati Hari Hak Asasi Manusia (HAM) sedunia, puluhan mahasiswa yang mengatasnamakan diri Forum Mahasiswa Sultra Bersatu menggelar demo di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sultra, Selasa 10 Desember 2019.

Namun, kehadiran mereka dihalau oleh kawat duri yang dibentangkan polisi di pintu gerbang DPRD Sultra. Setelah melalui negosiasi, mahasiswa akhirnya diizinkan masuk ke area gedung DPRD Sultra.

Dalam aspirasinya, mahasiswa kembali mengungkit kasus meninggalnya dua mahasiswa Universitas Halu Oleo Kendari Muh Yusuf Kardawi dan Randi pada peristiwa Kamis 26 September 2019.

Koordinator aksi, Rahman Manangkiri menyebut, kasus meninggalnya Randi dan Yusuf tidak bisa hilang begitu saja tanpa ada presur dari semua pihak.

Kedatangan mahasiswa di DPRD Sultra, kata Rahman, menuntut agar pengungkapan kasus ini harus melibatkan peran dewan sebagai perwakilan rakyat.

“DPRD Sultra harus bersikap atas kasus ini. Harus mendesak aparat kepolisian mengungkap kasus ini,” katanya.

Ia mengaku, DPRD Sultra harus mendorong dan merekomendasikan ke Presiden RI Joko Widodo untuk membentuk tim gabungan pencari fakta (TGPF) terkait kasus meninggalnya Randi dan Yusuf.

Kemudian, mendesak Kapolri membebastugaskan mantan Kapolda Sultra, mantan Direskrimum Polda Sultra dan mantan Kapolres Kendari yang diduga terlibat jalur komando instruksi penembakan.

“Mendesak pemerintah menutaskan pelanggaran HAM masa lalu,” jelasnya.

Menurut mahasiswa, pengungkapan kasusnya terkesan setengah hati. Kasus Randi sudah diungkap pelakunya namun penerapan pasal terhadap tersangka penembakan hanya kategori kelalaian bukan atas perintah secara hierarki institusi kepolisian.

Kemudian, kasus meninggalnya Yusuf Kardawi belum ada titik terang sampai saat ini.

Oleh polisi, Yusuf meninggal karena mengalami pendarahan di kepala usai terbentur akibat benda tumpul.

Klaim polisi ini tidak langsung dipercaya oleh mahasiswa. Sebab, berdasarkan hasil investigasi Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) berikut keterangan saksi bahwa Yusuf kena tembak di kepala.

Tak hanya itu, dua korban hidup lainnya yang kena tembak isunya mulai menguap. Padahal, Oksa dan Putri yang masing-masing kena peluru di lengan kanan dan di betis, tidak menjadi dasar untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap pelaku penembakan.

Atas dasar sumirnya penanganan kasus meninggalnya dua mahasiswa hingga dua korban lainnya, mahasiswa mendesak DPRD untuk menjalankan kewenangannya mendorong dibentuknya TPGF.

“Jangan sampai nyawa di negeri ini begitu murah untuk dihilangkan,” tuturnya.

Dalam kasus ini, polisi telah menetapkan satu anggota kepolisian sebagai tersangka berinisial AM. Ia menjadi tersangka meninggalnya Randi.

Penulis : Onno

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
-Advertisements-
loading...