Rektor Zamrun : Melahirkan Alumni UHO Tak Hanya untuk Jadi PNS

1121
 

Kendari, Inilahsultra.com – Terciptanya pengangguran baru dari keluaran kampus saat ini, turut disadari oleh Rektor Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari Prof Dr Muh Zamrun Firihu MSc.

Untuk itu, jauh dalam pemikirannya, perlu ada terobosan baru dalam dunia pendidikan dengan tidak hanya mencetak alumni untuk jadi aparatur sipil Negara (ASN) semata melainkan bisa menjadi usahawan baru untuk menumbuhkan roda ekonomi masyarakat.

- Advertisement -

Ditemui Inilahsultra.com, Senin 30 Desember 2019, Muh Zamrun Firihu tampak sibuk menandatangani beberapa berkas yang menumpuk di mejanya. Ia baru berhenti saat bersedia untuk diwawancarai.

Selama 20 menit, Zamrun banyak bercerita mengenai hal yang telah dilakukan dalam pengembangan UHO hingga obsesinya di 2020. Lebih khususnya mengejewantahkan visi Universitas Halu Oleo menjadi perguruan tinggi yang maju, bermartabat, berbudaya akademik dalam membentuk SDM cerdas komprehensif secara berkelanjutan.

Sepanjang 2019, kata Zamrun, salah satu fokus dirinya adalah penyelesaian izin program studi (prodi). Selain itu, reakreditasi beberapa prodi yang telah habis masa berlakunya.

“Sekarang sudah 90 persen tuntas baik S1 maupun S2. Sebagian lagi sudah proses dan kita targetkan 2020 tuntas semua,” kata Zamrun saat bincang-bincang dengan Inilahsultra.com.

Sejauh ini, kata dia, UHO memiliki 15 fakultas ditambah dua program, Pascasarjana dan Pendidikan Vokasi, dengan jumlah mahasiswa sekitar 40 ribu orang. Dari 17 fakultas itu, beberapa prodi sudah terakreditasi A. Ada juga yang naik dari C ke B.

“Semua kita berproses. Kita akan terus berusaha memperbaiki akreditasi kita sebagai salah satu syarat untuk wisuda. Kemarin wisuda ditunda karena kendala beberapa prodi yang belum terakreditasi,” katanya.

Namun, kata dia, akreditasi ini bukan hanya untuk memenuhi syarat wisuda melainkan menjadi tanggung jawab UHO untuk meningkatkan mutu dan kualitas pelayanan di bidang kualitas kelembagaan dan akademik.

Mendorong Mahasiswa Wirausaha

Setiap tahunnya, UHO menelurkan ribuan mahasiswa sebagai alumni. Namun, keluaran itu tak ditunjang dengan ketersediaan lapangan kerja. Paling banter, alumni banyak berburu menjadi PNS. Padahal, tidak setiap tahun diterima.

Bila dalam satu tahun itu meluluskan 5 ribu mahasiswa, lantas kuota PNS hanya 2 ribu misalnya, maka ada 3 ribu yang terancam menganggur.

Hal ini lah yang coba diterabas oleh Zamrun melalui kebijakan akademik yang tertuang dalam kurikulum.

Menurutnya, seluruh kampus di Indonesia didorong untuk tidak hanya terpaku pada peningkatan akademik, melainkan juga non-akademiknya. Maksudnya, menciptakan keluaran mahasiswa yang bisa berdaya guna dan melahirkan lapangan pekerjaan baru tanpa harus menjadi PNS.

“Kita dorong mereka menjadi mahasiswa wirausaha. Membekali mahasiswa tidak hanya akademik, tapi ada juga kemampuan tambahan. Setiap tahun kita alokasikan 100 mahasiswa wirausaha. Meski sedikit, namun diharapkan, 100 orang ini bisa mempengaruhi temannya,” katanya.

Zamrun mengaku, menciptakan keluaran mahasiswa yang bisa langsung terserap di dunia usaha menjadi tantangan bersama seluruh kampus di Indonesia.

“Makanya, kurikulum kita menyesuaikan dengan perkembangan iptek dan tantangan ke depan adalah linkmach dengan dunia usaha. Itu sudah jadi visi misi nasional pak Joko Widodo dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan,” bebernya.

Saat ini, kementerian membawahi kampus telah berubah nama. Sebelumnya bernama Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, sekarang bergabung di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

UHO sendiri, akan menyesuaikan rencana strategis (renstra) UHO dengan renstra Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Pada pertengahan 2020 nanti kita tuntaskan,” tekannya.

Peningkatan Kapasitas Dosen

Peningkatan kualitas dan kapasitas dosen menjadi salah satu hal yang ditekankan oleh Zamrun. Ia memberikan ruang agar mereka mengikuti seminar dimana-mana termasuk melanjutkan studi.

“Dosen kita sering kami dorong untuk seminar dimana-mana, bisa membimbing di tempat lain,” katanya.

Selain itu, dosen juga dituntut untuk bisa melahirkan jurnal berkualitas setiap tahunnya.

Ia mengakui, dibandingkan dengan kampus negeri yang telah besar, dosen UHO masih kalah soal jumlah jurnal. Namun bukan berarti tidak dipikirkannya.

Setiap tahun, kata dia, minimal ada 200 jurnal yang diterbitkan. Ia berharap, ke depannya, bisa sampai seribu jurnal setiap tahunnya.

“Kami juga mendorong para dosen rajin menulis, tapi jangan lupa tugas utamanya adalah mengajar,” tekannya.

Rektor UHO saat pelantikan pejabat. (Istimewa)

Makin Diminati

Setiap tahun, UHO Kendari mendapatkan kuota 8 ribu penerimaan mahasiswa baru. Kuota yang sangat sedikit jika dibandingkan dengan keluaran sekolah menengah atas (SMA) sederajat di Sultra yang mencapai 20 ribuan setiap tahunnya.

Meski kuota terbatas untuk menampung lulusan SMA di Sultra, namun UHO juga memantik minat generasi muda dari daerah lain.

Dari total 40 ribu mahasiswa UHO, ada sekitar ribuan berasal dari daerah lain. Misal, di Pulau Jawa, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Kalimantan.

Banyaknya peminat dari luar Sultra ini menunjukkan bahwa banyak yang mulai tertarik untuk menempuh pendidikan di UHO.

Untuk itu, kata dia, berbagai hal telah direncanakan oleh Zamrun mengenai penataan kampus berikut fasilitasnya.

“Tujuannya kita adalah ingin jadi universitas global dan bisa berguna dan berhasil guna. Banyak hal yang harus dibenahi, bangunan fisik yang bagus, suasana akademik dibuat mantap. Makanya, saya sering mengajak kita satukan pemikiran agar kita bisa sejajar dengan universitas besar lainnya di Indonesia,” tuturnya.

Menghapus Stigma

Meski keributan selama ini banyak terjadi di luar area kampus, namun nama UHO ikut diserempet sehingga memicu stigma tak baik. Menghapus stigma, barang kali menjadi salah satu perhatian Zamrun.

Menurut Zamrun, tanggung jawab menjaga wajah kampus UHO tidak hanya dibebankan kepada dosen, mahasiswa, atau pegawai.

Semua pihak, termasuk masyarakat, untuk bersama-sama menjaga muruah kampus sebagai laboratorium pendidikan dan lokomotif peradaban.

“Mari kita cintai bersama kampus kita ini. Kampus terbesar di Sulawesi Tenggara dan kita patut bersyukur di lembaga pendidikan ini anak-anak kita ditempa dan diajar agar bermanfaat untuk bangsa dan daerah kita nantinya,” jelasnya.

Salah satu cari untuk menciptakan iklim kampus yang kondusif adalah merombak tata kampus dan mendorong rasa persaudaraan antarcivitas akademika.

“Saya ingin ciptakan suasana kampus yang aman dan nyaman bagi dosen bekerja merasa enak dan mahasiswa bisa aman untuk kuliah,” imbuhnya.

Penulis : Pandi

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...