Muh Endang : Meninggalnya Randi dan Yusuf Harus Diungkap dan Tak Boleh Terulang

1184
 

Kendari, Inilahsultra.com – Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sultra Muh Endang SA memberikan catatan akhir tahun 2019 dan agenda 2020.

“Catatan baik di tahun 2019 kita seberangkan ke 2020, dan yang tidak baik kita tinggalkan menjadi kenangan. Sebagai pejabat publik yang telah diberi amanah di bawah sumpah, saya perlu menulis catatan sederhana ini, sebagai konsekuensi akuntabilitasi penyelenggara pemerintahan yang sementara mengembang amanah rakyat,” katanya dalam catatannya diterima Inilahsultra.com.

- Advertisement -

Sejak dilantik sebagai anggota DPRD Sultra pada 7 Oktober 2019, mereka dihadapkan pada situasi kamtibmas khususnya di Kota Kendari yang cenderung memanas. Sebagai ibu kota provinsi, Kota Kendari menjadi epicentrum perputaran isu, ekonomi, politik dan gerakan-gerakan sosial.

Di bulan September 2019, gelombang unjuk rasa mahasiswa serentak terjadi di seluruh Indonesia tak terkecuali di Kendari. Agenda nasional gerakan mahasiswa ini yaitu menolak revisi UU KPK dan RUU KUHP.

Demonstran ini menimbulkan korban jiwa di kalangan mahasiswa, yaitu Almarhum Immawan Randi dan Yusuf Kardawi yang diduga tertembak peluru, keduanya adalah mahasiswa Universitas Halu Oleo.

“Tentu kita semua harus dan akan selalu mengenang keduanya sebagai syuhada bagi bangsa dan pahlawan bagi Demokrasi,” katanya.

Setelahnya gelombang aksi massa berlanjut ke DPRD Sultra, dengan tuntutan agar DPRD Sultra selaku wakil rakyat menjadi bagian yang ikut menuntaskan atau mengungkap oknum pelaku yang diduga melakukan penembakan terhadap Alm Randi dan Yusuf.

“Merespon tuntutan mahasiswa tersebut, nurani kami bergolak sebagai salah satu mantan aktivis mahasiswa eksponen gerakan reformasi 1998, dan juga satu almamater dengan korban. Sikap kami tegas yaitu mendukung perjuangan mahasiswa, agar pelaku penembakan segera diungkap,” katanya.

Terkait hal ini, 45 anggota DPRD Sultra seragam, bulat dan tegas, bahkan pada rapat paripurna pelantikan, di hadapan Forkopimda dan undangan, ia menginterupsi pimpinan sidang agar sejenak menundukan kepala seraya mendoakan Alm Randi dan Yusuf agar diterima disisi-Nya.

“Menurut kami, tanah Sultra tidak boleh dialiri darah mahasiswa yang berjuang untuk kebaikan bangsanya. Yang mereka perjuangkan adalah peradaban bangsanya di masa depan yaitu demokrasi yang makin baik dan negeri yang bebas korupsi. Karena itu kami mengutuk siapapun pelaku dan minta diproses secara hukum, agar keluarga korban dan kita semua mendapatkan keadilan,” tegasnya.

Ia juga menyampaikan akan mengusulkan nama ruangan rapat khusus di DPRD Provinsi menjadi ruang rapat Randi dan Yusuf sebagai bentuk penghormatan terhadap keduanya, sebagaimana KPK telah lebih dulu mengabadikan nama kedua Alm sebagai nama gedung/auditorium di KPK.

Ia juga mengingatkan dan menyampaikan kepada semua pihak adanya usulan untuk membuat monument Randi Yusuf guna mengenang perjuangan keduanya.

“Berkenaan dengan gugurnya Randi dan Yusuf ini, saya kira DPRD Provinsi Sultra, aparat kepolisian, para mahasiswa maupun kita semua perlu mengevaluasi standar operasi, prosedur dan metode penyampaian aspirasi dalam bentuk unjuk rasa. Kita tidak ingin tragedi kelam ini terulamg dimasa depan. Randi dan Yusuf adalah korban yang pertama dan terakhir,” pungkasnya.

Penulis : Haerun
Editor : Pandi

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...