Tahun Boleh Berlalu Tapi Jangan Melupakan Randi dan Yusuf

1299
 

Berlakunya revisi UU KPK, tentunya berhasil menculik perhatian mahasiswa untuk memfokuskan pemikiran tentang diskursus revisi tersebut. Alhasil penilaian secara objektif baik dari kalangan mahasiswa, masyarakat sipil dan pegiat anti korupsi mengerucut pada penilaian revisi UU KPK merupakan bentuk pelemahan KPK sebagai anak kandung reformasi yang pututnya dijaga dan dirawat bukan malah dilemahkan.

Pada 26 September 2019, hampir di setiap daerah tagar reformasi di korupsi berhasil digaungkan oleh mahasiswa dan masyarakat sipil di bawah terik matahari dengan tujuh tuntutan kala itu. Kesadaran kolektif itu juga berhasil merasuki pemikiran mahasiswa di Kota Kendari, ribuan mahasiswa kendari juga tergerak untuk menggaungkan tuntutan yang sama dengan tagar Reformasi di Korupsi.

- Advertisement -

Gelombang masa yang begitu besar, mendapatkan tindakan yang repesif dari pihak kepolisian. Gas air mata, mobil water canon hingga senjata api dengan peluru tajam menyasar massa aksi. Randi dan Yusuf dinyatakan tewas kala itu. Puluru tajam menjadi sebab matinya Randi, sedang Yusuf mati akibat benturan benda tumpul. Namun tak bisa dinafikan, hingga kini sebab matinya Yusuf masih menyisahkan tanya. Hasil investigasi yang dilakukan Kontras, menerangkan bahwa Yusuf mati akibat tertembak peluru tajam.

Tangisan tertumpah dari keluarga Randi dan Yusuf, tagar kendari berduka berhasil bertengger pada urutan pertama di twitter. Aksi mahasiswa terus berlanjut menuntut pengungkapan kasus. Perkembangannya kini, tersangka penembak Randi telah ditemukan. Namun kasus kematian Yusuf tak ada kabar.

Diantara ribuan mahasiswa tertinggal dua nama yang kini menyisahkan duka. Nafasnya harus terhenti akibat tembakan oknum kepolisian. Perjuangan Yusuf-Randi untuk meneguhkan keadilan, melawan oligarki dan tentunya menjaga nafas pemberantasan korupsi harus terhenti.

Sejak peristiwa penembakan, keadaan semakin tidak membaik. Proses pengungkapan kasus kematian Yusuf yang tidak menunjukan adanya perkembangan serta tertutupnya upaya pengungkapan kematian Randi. Bahkan gerakan aksi mahasiswa semakin hari, menunjukan kemerosotan yang drastis. Hampir disetiap kelembagaan kampus tidak lagi tergerak untuk menuntut pengungkapan kasus tersebut.

Dahulu, nafas perjuangannya masih diteruskan. Api semangat yang terus dibakar, komitmen yang dipegang teguh. Diskusi, aksi, dan refleksi, dengan ribuan orang atas dasar kepedulian tentunya mengecam tindakan kepolisian.

Kini, terdengar desakan nafas yang sesak. Banyak yang memilih untuk parkir ditempat yang nyaman dan aman. Berebut jabatan, mengadakan gerakan peduli demokrasi kampus bahkan berdiam diri dengan bonus-bonus yang dikantongi. Secara sadar bersekutu dengan penguasa, menjual kata baik dan bijak, lalu diam tanpa kata.

Pragmatis, egois dan tak lagi setia. Ide yang bersandar pada kesadaran kolektif untuk bergerak dan berjuang justru berujung membuat Randi dan Yusuf mati dibunuh. Kisahnya dibanggakan, Pahlawan Demokrasi secara beramai disematkan. Bahkan namanya diabadikan dalam gedung Komisi Pemberantasan Korupsi. Namun tidak dengan perjuangannya. Keberanian yang surut dan larut dalam urusan yang berkaitan dengan masa depan diri sendiri.

Namun, situasinya tidak sekelam itu. Kesadaran kritis patutnya tetap terawat dengan wacana, isu dan protes yang terus disuarakan. Kian buruk keadaan yang tejadi, membuat kita semakin paham tentang arti perjungan dan perlawanan. Menjadikannya bukan sebagai beban namun tantangan.

Tertantang membangun kesadaran yang sama untuk membuat massa tergerak dan sadar akan rasa peduli dan solidaritas menghantarkan kita pada gerakan massa yang berlipat ganda.

Akhirnya, hampir 100 hari kemtian Yusuf dan Randi. Tahun 2019 telah terlalui dengan kisah yang pilu, lagi-lagi september sebagai bulan yang hitam. Tahun boleh berlalu tapi jangan melupakan Randi dan Yusuf, meyisahkan pilihan tergerak bersama atau ikut dalam gelombang panjang kenyaman dan keamanan untuk terdiam membisu.

Pastinya, wacana, isu dan aksi tak akan pernah mati. Kata yang tepat untuk saat ini adalah, Gaungkan, Gemakan dan Perjungkan…!!!

Oleh : La Ode Muhammad Dzul Fijar.,S.H
Pemerhati Hukum

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
3
Komentar
loading...