Warga di Muna Protes Lahannya Diserobot Proyek Pemerintah

1105
 

Raha, Inilahsultra.com- Proyek pekerjaan jalan usaha tani di Desa Tampunabale, Kecamatan Pasikolaga Kabupaten Muna disoal oleh warga setempat

Pekerjaan yang sumber anggaranya dari APBD 2019 dari Dinas Pertanian Kabupaten Muna itu diduga tidak sesuai dengan proposal yang diajukan oleh warga setempat.

- Advertisement -

Akibatnya, pekerjaan tersebut dianggap banyak merugikan karena pihak kontraktor telah menyerobot lahan tanpa sepengetahuan warga

Salah seorang warga Desa Tampunabale, Darfan, mengatakan, banyak tanaman dirusaki akibat proyek yang bukan pada tempatnya atau tidak sesuai yang diajukan masyarakat.

” Jalan usaha tani itu dari dinas pertanian. Tapi yang kita persoalkan disini pekerjaan itu berbeda dengan lokasi lahanya dengan proposal yang kita ajukan,” kata Darfan kepada jurnalis inilahsultra.com, Selasa 14 Januari 2020.

Kata Darfan, sebelum jalan usaha tani itu dikerjakan, proposal yang diajukan warga sudah pernah dihering di DPRD Muna. Namun berkas yang dibawa oleh Kepala Dinas Pertanian Muna sampulnya bertuliskan Desa Lohia. Ia menduga, proposal itu telah dipalsukan.

“Memang pada saat pembukaan lahanya tidak masuk di akal. Tiba-tiba mereka kontraktor langsung serobot lahan dan kita tidak tahu,” kesalnya

Tidak terima dengan itu dan merasa dirugikan oleh pemerintah, kontraktor dan mantan kepala desa, masyarakat Tampunabale yang diwakili langsung oleh Darfan, pihaknya langsung mangadukan di Polres Muna

“Jadi perencanaanya itu masih kepala desa lama dan  kita sudah adukan di Polres Muna dari 31 Desember 2019 lalu dan sudah diterima. Sekarang kita masih tunggu panggilan,” jelasnya

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Holtikultura Kabupaten Muna, Anwar Agigi, saat dikonfirmasi melalui sambungan seluler pribadinya membenarkan bahwa pekerjaan jalan usaha tani di Desa Tampunabale adalah program OPD yang diampunya.

“Ia betul. Itu pekerjaan  dari dinas pertanian. Yang lebih jelasnya tanya langsung pak Ogo (Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan atau PPTK),” katanya.

“Dan itu berjenjang. Harus dimulai dari bawah, itukan tidak kita langsung tunjuk itu lokasi. Berproses,” tambahnya.

Ia membantah bila dokumen yang ada adalah palsu.

“Masa saya mau palsukan proposal. Yang ditanya itu yang bikin proposal itu. Saya kan terima, masa saya mau bikin proposal. Nanti pada saat saya baca itu proposal (saat hering di kantor DPRD Muna), ternyata di dalamnya terselipkan ada nama Lohia,” bantahnya.

Penulis : Muh Nur Alim

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...