RUU Cilaka dengan Cara Omnibus Law Dianggap Ancam Profesi Farmasi

787
 

Kendari, Inilahsultra.com – Rancangan Undang-Undang Cipta Lapangan Kerja atau biasa disebut Cilaka yang disusun dengan model Omnibus Law, dianggap turut mengancam profesi farmasi.

Ketua Pergerakan Mahasiswa Farmasi Bumi Anoa Awal Rafiul menyebut, banyak persoalan yang dihadapi di lapangan oleh profesi farmasi. Namun sampai saat ini tidak pernah dilirik oleh pemerintah untuk dilindungi.

- Advertisement -

“Sangat disayangkan organisasi profesi pun tidak ikut memperjuangkan profesi farmasi. Dimana IAI (Ikatan Apoteker Indonesia) yang katanya organisasi yang melindungi seluruh apoteker namun sampai hari ini tidak ada tindakan ataupun usaha untuk memperjuangkan RUU Kefarmasian,” katanya.

Dari rancangan undang-undang yang digolkan oleh DPR RI tentang Kefarmasian masih bersifat Omnibus Law.

Namun, sampai sejauh ini belum ada tindakan atau bentuk advokasi yang serius oleh IAI untuk menentang keputusan DPR RI itu.

Selain menyoal payung hukum kefarmasian yaitu RUU Kefarmasian yang belum kunjung dibahas, ada juga Peraturan Menteri Kesehatan No. 3 Tahun 2020 yang sangat melecehkan profesi kefarmasian yang mana profesi kefarmasian disamakan derajatnya dengan tukang laundry yang ada di puskesmas.

“Dan pernyataan Menteri Kesehatan sangat tidak mencerminkan sebagai pejabat negara dan tidak paham tentang kesehatan dimana beliau berkata bahwa farmasi itu adalah sebagai profesi non medis dimana farmasi tidak bersentuhan langsung dengan pasien,” katanya.

Ia menyebut, pernyataan Menkes ini bertolak belakang dengan fakta di lapangan tentang peran profesi farmasi.

“Jadi yang memberikan obat dan konsultasi tentang obat itu siapa? Untuk itu IAI Sulawesi Tenggara harus menyikapi persoalan ini dan harus ikut terlibat dalam memperjuangkan RUU Kefarmasian,” pungkasnya.

Penulis : Nur Kasri

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...