Limbah Pabrik Tambang Diduga Cemari Tambak Warga Konawe Utara

Saluran pembuangan perusahaan memiliki aliran menuju tambak warga. (Nur Kasri/Inilahsultra.com)
Bacakan

Konawe Utara,Inilahsultra.com – Warga di tiga desa di Kecamatan Motui Kabupaten Konawe Utara dikeluhkan dengan rusaknya tambak mereka yang diduga dicemari oleh limbah pabrik PT Obsidian Seinless Stell (OSS).

Tiga desa yang menerima dampak kehadiran perusahaan pemurnian nikel itu adalah Desa Tobimeita, Desa Samasubur dan Desa Banggina. Selama ini, warga di desa itu bekerja sebagai nelayan budidaya tambak ikan, udang, dan kepiting.

-Advertisement-

Namun, dengan kehadiran PT OSS, tambak mereka jadi tercemar. Sebab, sumber keluar masuknya air di tambak atau empang warga berhubungan langsung dengan perairan yang mengarah pada pabrik dan jalan hauling perusahaan tersebut di di Kabupaten Konawe Desa Porara Kecamatan Bondoala.

Desa Tobimeita,Desa Samasubur dan Desa Banggina Kecamatan Motui Kabupaten Konawe Utara berada di perbatasan antara Kabupaten Konawe dan Kabupaten Konawe Utara yang moyoritas masyarakatnya berprofesi sebagai petani tambak.

Desa ini dekat dengan perusahaan PT OSS. Selain mencemari tambak, aktivitas perusahaan ini juga menimbulkan debu di pemukiman warga dan mengganggu warga saat beristirahat akibat suara bising.

Kepala desa Tobimeita Tamrin mengaku, mendapatkan keluhan masyarakat mengenai dugaan limbah pabrik yang mencemari tambak atau empang warganya.

Ia menyebut, jika dibandingkan pendapatan warga di sektor budidaya perikanan, antara sebelum dan sesudah masuknya pabrik PT OSS di daerah itu sangat berbeda jauh.

Saat ini, pendapatan warga terbilang menurun akibat keruhnya air tambak terlebih saat musim hujan seperti saat ini.

“Sehingga tanah dari perusahaan tergeser oleh air hujan menuju ke tambak,” bebernya saat ditemui wartawan Inilahsultra.com, Sabtu 22 Februari 2020.

Ia juga mengungkapkan saluran pembuangan tinja pekerja mengarah pada tambak milik warga.

“Sehingga ikan bandeng dan udang sitto tidak berkembang baik, selain itu masyarakat saya yang rumahnya terletak dekat dengan jalan hauling PT OSS merasa terganggu dengan debu dan kebisingan mobil yang beroperasi walaupun tengah malam,” tambahnya.

Ia melanjutkan, walaupun desa mereka berada di Kabupaten Konawe Utara tetapi turut terkena dampak limbah dari pabrik perusahaan. Untuk itu, ia mengharapkan agar perusahaan memberikan bantuan berbentuk konspensasi penangan dampak terhadap desa mereka.

“Terutama mengenai penangan terhadap air yang keruh selain itu ketika ada warga saya yang ingin bekerja di perusahaan agar dipermuda karena sebelumnya banyak warga saya yang memasukkan lamaran pekerjaan namun ditolak sementara kami juga terkena dampak limbah dari perusahaan,” tutupnya.

Keluhan yang sama juga diungkapkan Kepala Desa Samasubur Mustapa.

“Saya pernah mendapat laporan dari warga saya disaat mereka menyebar bibit ikan berselang beberapa hari bibitnya tidak dapat hidup, mungkin penyebab dari tercemarnya perairan tambak warga tersebut,karena melihat dari air yang keruh dan juga terkadang ada genangan seperti solar di perairan selain itu kebisingan mobil menganggu istrahat masyarakat serta debu yang mengganggu pernafsan masyarakat,” bebernya.

Ia pun berharap agar ada kepedulian perusaahan dan pemerintah setempat terhadap masyarakat di desanya.

Kepala Desa Banggina Amiruddin demikian juga keluhannya. Desa yang dipimpinnya itu berbatasan langsung dengan Desa Laosu Jaya Kecamatan Bondoala Kabupaten Konawe yang menjadi lokasi berdirinya pabrik pemurnian nikel.

“Jalan hauling PT OSS sangat dekat dengan wilayah Desa Banggina bahkan beberapa tambak warga yang terletak di dekat perbatasan Desa Laosu Jaya Kecamatan Bondoala, Kabupaten Konawe sudah dibelli oleh pihak perusahaan PT OSS untuk pembangunan jalan,” bebernya.

Ia menyebut, pada akhir tahun kemarin beberapa warganya melaporkan adanya ikan peliharaan mereka tiba-tiba mati padahal belum pantas untuk dipanen.

“Hal itu diduga karena pengaruh perairan tambak yang mulai kelihatan keruh dan tercemari oleh aktivitas pabrik,” bebernya.

Ia berharap agar pemerintah Konawe Utara dan pihak pabrik dapat memperhatikan desa yang berada di perbatasan antarkabupaten seperti desa Banggina agar ada penanganan mengenai dampak terhadap petani tambak yang diakibatkan aktivitas pabrik.

“Pemkab Konawe harus mengontrol lebih baik pembuangan limbah dan polusi debu serta kebisingan suara mobil perusahaan yang dirasakan oleh masyarakat di desa kami,” tekannya.

Jurnalis Inilahsultra.com berusaha mengkonfirmasi ke perusahaan mengenai dampak pabrik terhadap tambak warga, namun hingga berita ini diturunkan belum ada ketereangan resmi dari perusahaan.

Penulis : Nur Kasri

Facebook Comments