Bahasa dan Pikiran Orang Buton : Perspektif Ekolinguistik

897
 

Kalau kita menengok sejarah masuknya Islam di Buton, wujud akulturasi bahasa dapat dilihat dari adanya penggunaan bahasa Sansekerta yang dapat ditemukan sampai sekarang yang turut memperkaya perbendaharaan bahasa Wolio (Buton). Penggunaan bahasa Sansekerta, misalnya kata sembah (Sansekerta) menjadi somba (Wolio), sembah hyang (Sansekerta) menjadi Sambaheya (Wolio). Dalam perkembangan selanjutnya, bahasa Sansekerta digantikan oleh bahasa Arab (aksara Arab) seiring masuknya Islam di kerajaan Buton (Moch. Musoffa & Ali Rosdin, 2015: 107).

Orang masuk Islam mengucapkan dua kalimat sahadat, demikian juga menikah mengucapkan kata ‘…saya terima nikahnya…’ yang sebelumnya haram menjadi halal, betapa pentingnya bahasa. Beberapa kata itu tidak sekedar menjadi kata pengikat tetapi menjadi kunci surga, dan mensucikan sesuatu yang haram menjadi halal, jadi bahasa itu tidak main-main tapi mempunyai bentuk, makna, dan fungsi.

- Advertisement -

Oleh karena itu bahasa merupakan karunia Tuhan yang menjadi identitas karena menyimpan nilai-nilai luhur dan dasar pembentukan kepribadian. Sedangkan pikiran adalah hasil renungan tentang hakikat diri, dirinya, Tuhan, dan lingkungan yang dinyatakan dalam simbol bahasa.

Gagasan tentang adanya hubungan antara bahasa dengan pikiran, seperti terungkap melalui pandangan Sapir dan Whorf (linguistic relativity), yang menyatakan bahwa pandangan dunia suatu masyarakat ditentukan oleh struktur bahasanya (Fernadez, 2015: 17-19).

Gagasan itu penting untuk menguak lingkungan fisik dan sosial tempat tinggal penutur suatu bangsa dan hubungan antar kosakata dan nilai budaya yang bersifat multidireksional.

Dalam perspektif ekolinguistik, manusia dan lingkungan merupakan dua kata yang berbeda, namun memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan cara beradaptasi. Keterkaitan antara kedua hal tersebut bersifat interrelasi yang melibatkan aspek kehidupan manusia sebagai makhluk sosial yang hidup dan berkomunikasi antar manusia lainnya.

Lingkungan sangat berperan dalam mempengaruhi cara manusia beraktifitas, sehingga manusia dapat menghasilkan sesuatu atau mengetahui lingkungan kebahasaanya. Begitu pula sebaliknya, manusia yang selalu tergantung pada lingkungan dapat mempengaruhi keberadaan dan kesinambungan ekosistem di dalam lingkungan tempat tinggalnya.

Suatu ekosistem terbentuk oleh adanya hubungan timbal balik yang tidak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya (Einar Haugen, 1972; Jorgen Chr Bang dan Jorgen Door 1993; Bundsgaard dan Steffensen, 2000; Muhammad Al Mujabuddawat, 2015).

Bahasa manusia yang dimaksud itu adalah bahasa pada umumnya yaitu bunyi-bunyi yang diproduksi alat ucap manusia, atau dituangkan dalam bentuk tanda atau tulisan dalam keadaan sadar, bersifat arbitrer, bermakna, bernilai, berideologi, dan dipahami bersama oleh penutur/pemilik bunyi itu atau orang lain yang mempelajarinya dan direalisasikan dalam bentuk tindakan oleh kelompok guyub tutur bersangkutan untuk meyampaikan maksud pikiran dalam berkomunikasi dan selanjutnya dapat bekerjasama. Dengan demikian maka bahasa memiliki parameter keberagaman (diversity), kesalingterhubungan (interrelation) dengan lingkungan.

Sedangkan pikiran merupakan proses mental dan sebuah representasi simbol dari beberapa peristiwa atau item dengan cara yang tepat dan seksama yang dimulai dengan adanya masalah. Jadi bahasa dan pikiran tidak dapat dipisahkan dari pemikiran manusia karena bahasa merupakan alat atau instrument dari proses berpikir manusia itu sendiri.

Dengan kata lain bahwa bahasa membentuk struktur berpikir orang, membangun kemampuan berpikir dengan dua kompenen bahasa yaitu bentuk makna. Ada pikiran tanpa bentuk tidak akan menghasilkan bahasa.

Bahasa dan pikiran orang Buton tercermin dalam wujud falsafah Bhinci Bhinciki Kuli. Falsafah itu merupakan pedoman orang Buton baik sebagai lingkungan individu, masyarakat, sosial, politik, dan budaya. Dengan memahaminya dapat ditemukan kearifan lokal yang relevan untuk membangun peradaban suatu masyarakat, seperti sikap-sikap suka menolong, nilai-nilai patriotisme dan memperjuangkan nasib rakyat, nilai-nilai kepemimpinan yang bertangungjawab dan menepati janji, nilai kepemimpinan yang peduli pada daerah dan rakyatnya serta nilai demokrasi dan nilai kejujuran (Moch. Musoffa & Ali Rosdin, 2015: 78).

Pikiran itulah melahirkan kemajuan dan peradaban orang Buton sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Selain itu, karya sastra lama yang mencerminkan bahasa dan pikiran orang Buton diperkirakan cukup banyak. Niampe et al, (1992: 2) mencatat paling tidak 230 teks salinan yang terdiri dari tula-tula (prosa) dan kabanti (puisi).

Namun tren saat ini, kebanyakan orang Buton sudah mulai meninggalkan konsep bahasa dan pikiran sebagai warisan nilai-nilai kebutonanya, karena telah tergerus dengan berubahnya paradigma pola pikir akibat pengaruh lingkungan kebahasaan (ekolinguistik). Sebagai contoh, leksikon pengobatan tradisional, tradisi kekerabatan, kata ganti orang, kata sapaan, dan penamaan diri. Hal ini sangat berpengaruh pada hilangnya nilai-nilai kehidupan pada masa kini yang merupakan bentuk kesinambungan dari nilai-nilai yang telah ada pada masa lampau.

Demikian juga beberapa leksikon akibat transisi dari era tradisional ke era modern yang ditandai dengan perubahan paradigma berpikir manusia karena pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan diberbagai aspek kehidupan.

Salah satu penelitian yang dilakukan La Dunifa (2019) yang termuat dalam jurnal internasional berjudul “Current Trends in Name-Giving Practices of the Buton People: The Impact of Globalisation on the Anthroponymy of Southeast Sulawesi” mengatakan bahwa saat ini tradisi penamaan La dan Wa sudah menjadi jejak samar masa lalu. Era globalisasi telah membuat dunia begitu terbuka, meruntuhkan penghalang, dan membangun jembatan pemahaman dan komunikasi antar budaya. Ini seharusnya sebagian besar dianggap positif, tetapi di sisi lain, campuran budaya ini membahayakan sosial dan minoritas budaya, yang mungkin tidak dapat mempertahankan identitas.

Penelitian ini menemukan bahwa proses kepunahan nama-nama tradisional telah dipercepat secara drastis selama dua puluh tahun terakhir, dan sampai hari ini telah mencapai level berbahaya. Dari tahun 2012 hingga tahun 2016, dari 5.331 bayi baru lahir, hanya 28 orang secara tradisonal diberi nama La dan Wa.

Wawancara menunjukkan bahwa orang-orang Buton menganggap nama tradisional lebih rendah, dan ketinggalan zaman. Mereka semakin cenderung mengadopsi nama pribadi Arab dan Jawa serta nama-nama asal Barat yang mereka anggap lebih bergengsi. Tren ini dalam praktik pemberian nama dipengaruhi oleh dampak globalisasi dan, faktor agama. Perubahan nilai dan perubahan tingkah laku mempunyai dampak yang besar terhadap nilai humaniora termasuk kemanusian.

Manusia hidup berpasang pasangan sebagai tanda orang berpikir. Menikah punya anak, pertumbuhan penduduk, kepadatan penduduk, masalah sosial, menjadi objek yang harus dipikirkan sebagai tanggugjawab moralis bukan materialis sebagaimana menyangkut substansi falsafah yang termaktub dalam Bhinci Bhinciki Kuli.

Dengan kata lain bahwa ruang lingkup pikiran orang Buton adalah menganggap dunia sebagai alam semesta, alam diri sendiri, secara praktis terakomodasi dalam leksikon dari nilai-nilai seperti kata pada kalimat “yinda abinciki kulina”. Maksudnya adalah tidak mencubit dirinya sendiri. Ini merupakan jelmaan bahasa dan pikiran orang Buton sebagai penyimpanan (storage) karena sesuatu yang diucapkan itu nampak didengar yang mengandung pikiran penuturnya, karena itu, orang yang mendengar harus memiliki pikiran yang sama baru bisa memahami kebencian, prihatin dan protes masyarakat terhadap perilaku yang tidak wajar tersebut.

Selain itu, fakta lain menunjukkan bahwa pikiran orang Buton itu meliputi keyakinan yang berupa nilai kehidupan, pandangan atau ideologi yang telah termaktub dalam kitab Martabat Tujuh, renungan tentang realitas kehidupan yang bersumber dari Al Quran dan Al Hadis menjadi arah dan tujuan kehidupan yang jelas. Alasanya para sufi melihat kenyataan bahwa penyelewengan kehidupan, daya tarik dunia dan godaan kekuasaan dan wanita membuat orang lupa tujuan di dunia dan tujuan akhir sesudahnya. Lebih besar godaan dari pada kekuatan iman karena itu mereka merumuskan intisari terkait dengan diri dan kehidupan manusia yang disebut dengan Martabat Tujuh itu.

Kitab suci yang dirumuskan dalam tuntunan praktis, dengan alasannya kita bersaksi dengan Tuhan. Sehingga secara budaya orang Buton memikul tanggungjawab dan beban menjaga kesucian diri karena itu mempel pada diri setiap orang Buton yang disimbolkan dengan La dan Wa (Laa Ila Ha Illallah Wa Asyhadu Anna Muhammadarrasulullah). Secara agama belum tentu benar, tetapi secara budaya benar karena ada keyakinan budaya yang masih hidup dalam masyarakat pemiliknya. Artinya berlaku ditempat itu, ditempat lain tidak berlaku. Keyakinan yang dimaksud adalah (1) keyakinan secara budaya, (2) keyakinan secara logika atau ilmu, (3) keyakinan yang bersumber dari Al Quran (iman).

Antroponimi La dan Wa merupakan moralis yang sudah bergeser ke materialis. Dan hilanglah ciri kepribadian dan identitas orang Buton sebagai kebanggaan warisan masa lalu yang menjadi kesinambungan nilai kepribdian pada masa kini.

Selain itu, bahasa dan pikiran orang Buton dapat juga dijumpai pada diri seorang pelaut. Ketika dia bawa kapal, bagi dia angin, hujan, ombak adalah makanan dan minuan dan ketika angin ribut menghadang, dia berdiri di belakang seakan-akan mengendalikan alam ini, dan ketika dia di darat pusaran angin itu berubah menjadi pusaran sosial, dia bisa menghadapinya dengan kuasa di laut ditransfer ke darat, mentransformasi dirinya dari budaya laut menjadi budaya darat.

Masihkah kita memiliki kekuatan untuk mengendalikan seperti ganasnya ombak di laut? bahasalah menyimpan nilai-nilai pikiran kearifan lokal itu, apa saja kearifan lokal itu, Bahasa ada dalam kosa kata tertentu semua itu telah tersimpan di dalam lemari yang menyimpan segala pikiran baik secara fisik maupun nonfisik, dan semua itu hilang jika suatu bahasa yang menjadi lemari itu punah.

Semoga kita memperhatikan pelestariannya sehingga generasi penerus orang Buton menjadi sumber kekuatan dan kekuasaan yang saling mempengaruhi baik secara empiris maupun nonempiris dalam kehidupan manusia.

Oleh : Husni, Dosen Universitas Dayanu Ikhsanuddin Baubau, (Sementara Studi di Universitas Udayana Bali).

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...