Warga Todanga Buton Sulap Rumput Ketak Jadi Kerajinan

961
 

Pasarwajo, Inilahsultra.com – Kreativitas warga Desa Todanga Kecamatan Kapontori Kabupaten Buton berhasil memanfaatkan rumput ketak (Nentu) menjadi kerajinan tangan yang bernilai rupiah.

Ketak merupakan sejenis tumbuhan semak yang merambat panjang dalam bentuk seperti tali. Ketak memiliki tekstur yang kuat, layaknya seperti rotan dalam bentuk yang sangat kecil.

- Advertisement -

Warga Desa Todanga itu menganyam ketak untuk dijadikan talang, baki, bosara tempat tisu, keranjang buah, keranjang air mineral, mangkok buah, piring ceper oval dan bundar, tas, dan gelang tangan.

Salah seorang pengrajin Suharmin Pati mengatakan, kerajinan tangan dari ketak tersebut sudah lama dilakukan masyarakat Todanga. Bahkan hingga menjadi kerajinan turun-temurun.

“Ketak itu tumbuhan liar biasanya orang kampung kami menyebutnya Nentu, bahan ini cukup kuat seperti rotan,” katanya.

Alumni UM Buton ini menambahkan, kerajinan tersebut dijadikan mata pencaharian sebagian warga Desa Todanga.

“Kerajinan tangan ini bisa mencapai omset hingga jutaan rupiah. Kerajinan tangan ini bisa dijadikan ole-ole wisatawan, bahkan Dekranas (Dewan Kerajinan Nasional) sering mengambil kerajinan tangan Desa Todanga sebagai salah satu produk di Kabupaten Buton,” bebernya.

Sejauh ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buton sudah sering mengadakan pelatihan terhadap pengrajin yang ada di Desa Todanga melalui Dekranasda Buton.

“Kalau Pemkab Buton sering adakan pelatihan melalui kegiatan Dekranas. Disperindag juga kasih bantuan galeri. Namun pembangunan galeri jauh dari Desa Todanga. Bahkan bantuan dari Ibu Jusuf Kalla pun ada,” bebernya.

Selain dari bahan dasar Ketak, warga Desa Todanga juga bisa membuat kerajinan tangan dari rotan. Namun kerjinan dari rotan membutuhkan waktu yang cukup lama karena rotan harus di beli dari luar kecamatan.

“Rotan yang diambil tersebut belum bisa langsung diolah menjadi kerajinan butuh beberapa waktu karena rotan harus dijemur hingga kering baru bisa digunakan,” terangnya.

Ia berharap, pemerintah daerah memperhatikan lebih fokus kepada masyarakat pengrajin agar masyarakat bisa terus memproduksi barang kerajinan secara berkelanjutan.

“Biasanya barang yang tersedia pada kami sering habis. Jadi kalau untuk membeli kerajinan harus menunggu karena banyaknya pesanan. Apalagi galeri pengrajin di Todanga belum ada,” tutupnya.

Reporter: LM Arianto

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...