Realisasi CSR Tambang di Konawe Utara Belum Berdampak Baik ke Masyarakat

201
 

Kendari, Inilahsultra.com – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa (HIPPMA) Konawe Utara (KONUT) mengadakan dialog untuk mendiskusikan masalah corporate social responsibility (CSR) tambang di daerah itu di Kota Kendari, Selasa 10 Maret 2020.

Kegiatan tersebut dikemas dalam dialog public dengan tema CSR Tambang Konawe Utara Dinamika Realitas dan Dampak.

- Advertisement -

Oscar Sumardi selaku Sekretaris Hippma Konut membeberkan potensi nikel yang berada di Kabupaten Konawe Utara menjadi dasar penyelenggaraan dialog ini.

“Potensi nikel di Kabupaten Konawe Utara seluas 82.626,03 hektare dengan cadangan nikel 46.007.440,652 dimana 75% dari total wilayah Kabupaten Konawe Utara menyimpan cadangan ore nikel sehingga menarik dibahas secara bersama,” bebernya.

Di tempat yang sama Ketua HIPPMA-Konut, Wildanun mengatakan kegiatan ini untuk membahas CSR tambang di Konawe Utara. Dengan diskusi ini, Wilda berharap pemuda pelajar dan mahasiswa yang hadir paham tentang konsep CSR tambang.

Ia juga menyayangkan akan tidak hadirnya Bupati Konawe Utara Ruksamin padahal panitia kegiatan dialog secara resmi mengundangnya.

“Sebenarnya jikalau Bupati Konawe Utara tadi hadir kami ingin mempertanyakan tentang Perda CSR di Kabupaten Konawe Utara apakah sudah ada atau belum ada. Jikalau belum ada inilah yang menjadi PR besar Pemda Konawe Utara untuk segera menyusun Perda CSR yang memiliki otoritas penuh dalam melakukan pengawasan terkait tanggung jawab para investor yang berinvestasi di Kabupaten Konawe Utara,” ucapnya.

Ia juga berharap agar dialog mengenai tema yang bersangkutan tidak berakhir dalam dialog saja.

“Insya-Allah kegiatan dialog ini tidak akan berakhir sampai di sini tugas kita selanjutnya bagaimana turun di tengah-tengah masyarakat guna mensosialisasikan regulasi CSR yang sebenarnya,” tutupnya.

Sementara itu, Arsip Putra mengatakan masyarakat Konawe Utara jangan harap bisa sejahtera dengan bentuk CSR yang dilakukan perusahaan tambang saat ini dengan tidak adanya progres pendirian pabrik pemurnian nikel.

“Kita Konawe Utara sebenarnya telah kecolongan karena kita diapit oleh dua kabupaten yang telah memiliki pabrik pemurnian nikel diantaranya Kabupaten Morowali PT IMIP, dan Kabupaten Konawe PT VDNI, inilah yang menjadi PR Pemda Konawe Utara untuk bagaimana bisa menghadirkan pabrik di Kabupaten Konawe Utara mengingat Konawe Utara adalah salah satu daerah pemasok ore nikel terbesar,” ungkapnya.

Di tempat yang sama, Muhamad Ikram Pelesa, Wasekjend PB HMI menuturkan bahwa program CSR yang dilakukan perusahaan tambang di Konawe Utara hanyalah bentuk pencitraan semata untuk menutup berbagai macam kesalahaan.

“Jika mau telaah lebih dalam CSR harusnya mencakup aspek sosial, ekonomi, lingkungan dan pendidikan yang terintegrasi dalam bentuk program pemberdayaan masyarakat jangka panjang, bukan dengan pemberian bantuan yang sifatnya semu sehingga manfaat CSR dapat memberikan dampak berkelanjutan kepada masyarakat pascatambang, inilah yang perlu disosialisasikan ke masyarakat agar mereka paham bahwa ada yang lebih urugen dari CSR ini,” tuturnya.

Penulis : Nur Kasri

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...