50 Gelandangan dan Pengemis di Kota Kendari Terjaring Razia

1120
 

Kendari, Inilahsultra.com – Puluhan Gelandangan dan Pengemis (Gepeng) di Kota Kendari terjaring razia, Jumat 13 Maret 2020.

Razia dilakukan tim gabungan penertiban gelandangan dan pengemis, mulai dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dinas Kepemudaan dan Olahraga, Dinas Sosial dan Polres Kendari.

- Advertisement -

Pantuan Inilahsultra.com, tim gabungan berhasil mengamankan gelandangan dan pengemis sebanyak 50 orang. Terdiri dari anak di bawah umur sebanyak 10 orang, orang dewasa dan orang tua sebanyak 29 orang dan lansia sebanyak 11 orang.

“Razia ini dilakukan karena gelandangan dan pengemis dinilai telah mengganggu ketertiban dan mengancam keselamatan jiwa,” kata Kepala Dinas Sosial Kota Kendari Indra Muhammad, Jumat 13 Maret 2020.

Kemudian gelandangan dan pengemis, yang ditangkap di beberapa lampu merah, kata dia, langsung di bawah ke Dinas Sosial Kota Kendari untuk dilakukan asesmen, dengan tujuan mencari tahu identitas salah satunya domisili masing-masing.

“Hasil asesmen ini akan kita dilakukan pendampingan terkait kebutuhan apa dengan tenaga kerja. Maka kota akan konsultasikan dengan dinas tenaga kerjaan. Begitu pula sebaliknya, kalau mereka butuhnya pendidikan maka kita akan koordinasikan dengan dinas pendidikan,” jelasnya.

Khusus untuk para lansia, kata dia, penanganannya berbeda dengan anak muda. Lansia ini akan ditangani oleh Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS), yang memberikan pelayanan bagi lanjut usia memiliki tiga klasifikasi ranah kegiatan.

Diantaranya mereka yang fokus memberikan pelayanan langsung kepada lansia, fokus mengkaji ide dan inovasi untuk meningkatkan pelayanan bagi lansia da fokus berkoordinasi menjembatani LKS dengan berbagai pihak seperti pemerintah, swasta atau dunia usaha dan masyarakat.

“Salah satu pilar sosial yang sangat aktif bergerak di lapangan dalam pelayanan terhadap lansia adalah Lembaga Kesejahteraan Sosial,” ujarnya.

Ia menambahkan, razia ini berdasarkan
Peraturan Daerah (Perda) Nomor 9 tahun 2014 terkait penertiban anak jalanan dan pengemis.

Salah seorang anak jalanan Sarmin (7), mengungkapkan, dirinya rela menjadi mengemis di lampu merah, karena disuruh langaung orang tuanya.

“Saya disuruh sama orang tuaku untuk minta-minta uang di jalanan. Kalau saya tidak menyetor uang ke mereka, maka saya dipukul kasihan sama bapakku,” ujarnya.

Ia mengaku, dalam sehari ditargetkan harus menyetor kepada orang tuannya Rp 50 ribu. Demi mendapatkan uang sebanyak itu, dirinya rela keliling dan berpanas-panasan menyusuri setiap lampu merah.

Penulis : Haerun

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1
Komentar
loading...