Baru Dilantik, Kades Santigi Ditahan Polisi karena Diduga Palsukan Ijasah

905
 

Laworo, Inilahsultra.com – Kepala Desa Santigi Kecamatan Tiworo Utara Kabupaten Muna Barat, Herlis resmi ditahan di Polres Muna dalam dugaan kasus pemalsuan ijasah.

Padahal, ia belum lama dilantik sebagai kepala desa terpilih pada 14 Februari 2020.

- Advertisement -

Status tersangka Herlis oleh Polres Muna berawal dari pencalonan kepala desa yang diduga menggunakan ijasah tidak sah.

Herlis diduga telah memalsukan Ijazah SMA-nya untuk melengkapi berkas administrasi saat pendaftaran calon Kades saat itu.

Dugaan ijasah palsu Herlis dilaporkan oleh warganya sendiri, Saparuddin melalui kuasa hukumnya Abdul Rajab ke Polres Muna pada 15 Desember 2019.

Atas laporan tersebut, Penyidik Kepolisian Resor (Polres) Muna langsung menetapkan Herlis sebagai tersangka soal kasus dugaan penggunaan surat ijasah palsu.

Berdasarkan hasil penyelidikan, Kapolres Muna melalui Kasat Reskrim, AKP Muh Ogen Sairi mengaku, Herlis terancam kurungan enam tahun penjara.

“Penetapan tersangka Kades Santigi ini dilakukan berdasarkan hasil keterangan sejumlah saksi dan bukti petunjuk lainnya,” kata Ogen saat dikonfirmasi, Jumat, 13 Maret 2019.

Ogen bilang, Herlis sendiri mengakui bahwa data yang dimilikinya memang bertentangan dengan pihak sekolah tempat asalnya.

“Untuk lebih meyakinkan data itu kita akan lakukan dulu uji Labfor. Kita juga sudah mengantongi semua bukti dan datanya pun lengkap,” ungkapnya.

Akibat perbuatannya, kata Ogen, tersangka telah dijerat pasal 263 KUHPidana tentang Pemalsuan Surat dalam hal ini telah menggunakan surat palsu atau Ijasah palsu.

“Pelaku kita sudah tahan di Polres Muna sedangkan statusnya sudah sebagai tersangka,” jelas Ogen Sairi.

Pada 15 Desember 2019 lalu Herlis diadukan oleh Saparuddin terkait dugaan penggunaan surat ijasah palsu untuk melengkapi berkas administrasi pendaftaran calon kepala desa.

Kuasa hukum Saparuddin, Abdul Rajab mengungkapkan, dugaan pemalsuan itu mulai tercium dari beberapa informasi masyarakat. Kemudian pihaknya melakukan konfirmasi dan klarifikasi di sekolah asal, yaitu SMA Negeri 1 Konawe Selatan.

“Kepala sekolah juga merasa tertipu. Foto kopi ijasah yang dibawakan oleh Herlis untuk dilegalisir, ternyata tahun lahirnya berbeda dengan yang ada dalam data pokok pendidikan di sekolah. Dalam foto kopi ijasah yang legalisir lahir pada 7 Januari 1992, sedangkan dalam Dapodik 7 Januari 1996, dengan nomor seri ijazah yang sama, yakni DN-20 Ma 000676,” terangnya.

Atas kekeliruan tersebut, kata Abdul Rajab pihak sekolah kemudian membuat surat No : 421.3/178/SMAN 1 KS/2109, tertanggal 26 November 2019, tentang pembatalan atau penarikan ijasah atas nama Herlis, lengkap dengan berita acara penarikan dan data siswa keluar SMA Negeri 1 Konawe Selatan.

“Perbedaan ini yang kemudian kita nilai sebagai upaya pemalsuan dokumen negara,” ucapnya.

Penulis : Muh Nur Alim

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...