Warga Kendari dalam Ancaman Corona dan Demam Berdarah

Ilustrasi fogging. (Foto : Radar Surabaya)
Bacakan

Kendari, Inilahsultra.com – Akhir-akhir ini, warga Kota Kendari tengah dalam bayang-bayang ketakutan wabah virus corona.

Namun, corona bukan satu-satunya penyakit berbahaya yang mengancam keselamatan warga.

Jauh beberapa hari sebelumnya, sudah ada empat warga Kota Kendari meninggal dunia akibat demam berdarah dengue (DBD). Atas kasus itu, Dinas Kesehatan Sultra mencap Kota Kendari sebagai daerah endemik DBD.

Bila ditambah dengan pengendara ojek online (ojol) yang disebut meninggal dunia karena DBD maka sudah lima orang yang meregang nyawa karena sengatan nyamuk aides aegypti itu.

Namun, perkara meninggalnya pria 29 tahun itu masih simpang siur meskipun dokter menyimpulkan positif DBD. Sebab, belakangan dikabarkan keluarga tidak dibolehkan membuka peti dan menyentuh jenazah saat dimakamkan.

Meninggalnya pengendara ojol ini sudah pasti mengagetkan warga di Jalan Kancil Kelurahan Anduonohu Kecamatan Poasia Kota Kendari.

Karena ada dua kabar dan riwayat berbeda tentang penyebab kematiannya. DBD dan dugaan covid-19.

Apa pun diagnosanya, warga sekitar Kelurahan Aunduonohu sudah terlanjur takut bukan hanya corona melainkan pula DBD.

Ahmad, salah satu warga Anduonohu yang tak jauh dari lokasi ditemukan jenazah pengendara ojol meminta Pemkot Kendari tidak hanya fokus pada persoalan corona semata.

“Tapi meninggalnya pengendara ojol diduga karena DBD harusnya diantisipasi juga oleh Pemkot Kendari. Minimal, melakukan fogging di wilayah ini,” kata Ahmad kepada Inilahsultra.com, Minggu 22 Maret 2020.

Ia mengaku, baik corona maupun DBD sama-sama mematikan. Untuk itu, Pemkot Kendari turut melakukan langkah antisipasi masalah DBD.

“Kalau difogging kan bisa bersamaan mengantisipasi DBD dan bisa mematikan virus (mungkin saja). Tapi menurut saya, masalah DBD juga ini harus diperhatikan karena buktinya sudah ada yang meninggal,” tekannya.

Warga lainnya, Taufik menyebut, soal perkara corona, sebagian warga telah mengikuti arahan pemerintah untuk tetap berada di rumah. Hal itu untuk menghindari kontak di luar dan memutus rantai virus tidak menyebar ke mana-mana.

Namun soal DBD, warga yang mengisolasi diri di rumah juga nyawanya juga terancam jika tidak ada langkah antisipasi dari pemerintah.

“Kalau soal membersihkan saya kira di waktu libur akibat wabah corona ini pasti akan dimanfaatkan oleh warga. Hanya saja, fogging ini juga penting. Bagaimana mungkin kita isolasi diri di rumah menjauhi corona sementara di rumah kita diancam dengan DBD,” tuturnya.

Untuk itu, ia berharap agar pemerintah menyikapi masalah corona dan DBD menjadi hal yang urgen karena sama-sama mematikan.

“Kami harap, antisipasi corona dan DBD sama-sama jadi prioritas dan diutamakan bersamaan,” tuturnya.

Penulis : Pandi

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry