RSUD Nyatakan Satu Warga Mubar Meninggal Bukan Karena Corona

2760
 

Laworo, Inilahsultra.com – RSUD Kabupaten Muna Barat menyatakan, satu warga Kecamatan Lawa yang meninggal, Jumat 10 April 2020 lalu bukan karena virus corona.

Sebelum meninggal, almarhum LU yang juga kepala sekolah dasar itu memiliki riwayat perjalanan keluar daerah tepatnya di Surabaya.

- Advertisement -

Direktur RSUD Mubar, dr M. Syahril Fitrah mengatakan, almarhum meninggal karena penyakit dalam.

“Tidak benar itu. hasil pemeriksaannya kemarin negatif, terus saya konfirmasi ke Raha hasil labnya mengarah ke bakteri, bukan virus,” kata Syahrir saat dihubungi, Sabtu 11 April 2020.

Selain itu, pihaknya menyebut, sesuai hasil konfirmasinya dengan dokter ahli dalam di RSUD Muna, penyakit yang diderita LU juga mengarah ke infeksi yang sangat luas karena sel darah putih sangat meningkat.

“Kemungkinan dia resesif karena dia punya sel darah putih meningkat. Itu hasil konfirmasi penyakit dalam di Raha. Sudah dikonfirmasi juga di Kendari, sudah tidak masuk PDP karena sudah lewat dari masa 14 hari itu (karantina),” jelasnya.

Berdasarkan riwayat perjalanannya, ia pulang dari Surabaya dan tiba di rumahnya pada 20 Maret 2020.

Setelah itu nanti 27 Maret agau selang satu minggu baru melapor ke pihak RSUD Mubar.

Sejak itu lah, almarhum isolasi diri di rumahnya selama 14 hari.

“Jadi masa inkubasinya itu sudah lewat. Dia karantina diri 21 hari semua. Kalau dugaan RSUD Raha itu ada gangguan di ginjalnya,” ucapnya.

Sementara, Jubir Gugus Tugas Covid-19 Mubar, LM. Ishar Masiala juga membenarkan bahwa meninggalnya pasien yang dirujuk di RSUD Mubar dari Puskesmas Lawa itu dikarenakan kelainan ginjal.

Pasien tersebut, kata dia, sudah melalui pengambilan sempel darah dan dilakukan dua kali rapid test yakni pertama di RSUD Mubar dan ke-dua di RSUD Muna.

“Berdasarkan hasil rapid test, sama-sama hasilnya negatif. Hasil pemeriksaan sampel darahnya itu ternyata penyakit dia kelainan pada ginjal. Jadi tidak ada hubungannya dengan Covid-19,” katanya.

Terkait dengan tidak dilakukan swab tenggorokan untuk memastikan apakah pasien tersebut betul-betul positif atau tidak, pihaknya mengklaim bahwa apa yang sudah dilakukan melalui rapid test dan pengambilan sampel darah itu sudah tidak terindikasi Covid-19.

“Yang membuktikan itu pada pemeriksaan rapid test apakah negatif atau positif. Kalau dia positif maka harus dilakukan dengan pemeriksaan swab tenggorok (pemeriksaan lanjutan). Jadi tidak sempat dilakukan (swab tenggorok) karena rapid test-nya itu negatif. Kalau negatif, negatif untuk apalagi pemeriksaan selanjutnya, ” jelas Ishar.

Berdasarkan riwayat perjalanannya, pasien tersebut dikategorikan sebagai pasien tanpa gejala (OTG) karena LU sebelumnya sudah melakukan perjalanan di daerah pandemi Covid-19 yakni di Surabaya.

Saat di rujuk di RSUD Mubar, pasien tersebut, Kata Ishar, bukan lagi berstatus OTG melainkan pasien umum.

“Kalau pas dia datang dia OTG. Tapi kan sudah selesai 14 hari. Jadi masa inkubasinya terhitung sejak tanggal 20 itu semua 21 hari. Jadi sudah selesai. Jadi saat dibawa di rumah sakit itu dia adalah pasien umum. Tidak ada hubungannya dengan Covid-19,” tegas Ishar.

Saat dirujuk di RSUD Mubar, petugas Puskesmas Lawa menjemput pasien dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) yang lengkap. Menurutnya, hal itu dilakukan karena di tengah Covid-19.

Kita Ishar, semua yang dilakukan itu hanya mengikuti anjuran dari pemerintah sesuai SOP terkait dengan perlengakapan petugas medis dalam menghadapi pasien. Baik itu pasien umum maupun pasien yang riwayat perjalanannya dari daerah pandemi.

“Terkait penanganan almarhum memakai APD itu wajar saja. Apalagi mereka tahu perjalanannya dari daerah pandemi. Jadi mereka hawatir artinya manusiawi lah, semua saja yang sakit itu boleh kita curigai Covid-19, tetapi yang membuktikan adalah rapid test apakah positif atau negatif. kalau dia hasilnya positif pasti akan dilakukan dengan swab tenggorok,” pungkasnya.

Penulis : Muh Nur Alim

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...