554 Warga Sultra Telah Jalani Rapid Test, 20 Positif dan Terbanyak di Muna

20729
 

Kendari, Inilahsultra.com – Tim Gugus Tugas Covid-19 Sultra mengumumkan laporan hasil rapid test di Sulawesi Tenggara, Senin 13 April 2020.

Sebanyak 554 orang telah menjalani rapid test di Sulawesi Tenggara dan ditemukan 20 orang positif atau reaktif covid-19.

- Advertisement -

Dari 20 orang itu, paling banyak di Kabupaten Muna sebanyak 11 orang. Sisanya 5 orang di RSU Bahteramas Kendari, 3 di RS Santaana Kendari dan 1 di Konawe.

Dari 554 yang menjalani rapid test, sebanyak 534 orang dinyatakan negatif atau non reaktif.

Sejauh ini, Sultra memiliki 1.705 alat rapid test dan yang tersisa sebanyak 1.151. Alat rapid test ini tersebar di 17 kabupaten atau kota, beberapa rumah sakit di Kota Kendari, di rumah jabatan gubernur dan Dinkes.

Menurut Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Sultra La Ode Rabiul Awal, selain rapid tes, pihaknya juga telah melakukan swab atau usapan tenggorok kepada 173 orang dan 16 orang dinyatakan positif corona.

β€œ173 orang itu swab, ada yang tanpa rapid-test ada didahului rapid test. Dari 173 yang diswab, menghasilkan 16 kasus konfirmasi (positif). Masih ada yang ditunggu hasilnya (sampel swab yang lain),” bebernya.

Ia menjelaskan, rapid test bukan menjadi alat diagnosis positif corona karena kegunaannya hanya screaning atau seleksi terhadap pasien diduga covid-19.

Bagi pasien yang dinyatakan positif berdasarkan rapid test, maka akan langsung dilakukan swab tenggorok atau sampel lendirnya untuk dikirim ke Laboratorium Makassar.

Bila pasien dinyatakan negatif berdasarkan rapid test namun ia menunjukkan gejala atau memiliki riwayat kontak dengan pasien positif atau daerah terjangkit, maka akan dirapid test untuk kedua kalinya 10 hari kemudian.

Bila dalam 10 hari kemudian dinyatakan negatif untuk rapid test kedua, maka pasien dinyatakan bebas covid. Namun bila positif, maka dilakukan dengan swab.

β€œJadi, diagnostik (positif virus corona) itu swab tenggorok. Rapid test itu screaning,” kata Rabiul Awal.

Meski hanya sebatas screaning, namun hasil rapid test menjadi petunjuk awal untuk melakukan tindakan selanjutnya terhadap pasien yang dinyatakan positif.

Misal, disarankan isolasi mandiri dan tidak boleh kontak dengan orang lain. Selain itu, pasien dianjurkan untuk selalu mengenakan masker.

Bila kondisinya menunjukkan gejala parah, maka pasien tersebut selanjutnya dirawat di rumah sakit rujukan covid dengan perawatan di IGD khusus covid-19.

Data hasil rapid test di Provinsi Sultra. (screnshot)

Transmisi Lokal

Kota Kendari adalah salah satu wilayah yang telah dinyatakan oleh Kementerian Kesehatan sebagai daerah transmisi lokal virus corona.

Untuk itu, semua orang memiiki risiko terpapar virus mematikan ini terlebih keluarga atau kontak erat pasien, tenaga kesehatan.

Selain itu, warga yang potensi terinfeksi adalah mereka yang tetap harus keluar rumah karena pekerjaan berkaian dengan Covid-19 ini diantaranya, gugus tugas, dan jurnalis.

Untuk itu, Rabiul menyarankan agar masyarakat mematuhi protokol penanganan covid dan imbauan pemerintah.

Di daerah dengan status transmisi lokal ini, masyarakat dianjurkan dan seharusnya tetap berada di rumah agar rantai penularan bisa terputus.

Bila keluar rumah dengan tujuan mendesak, maka harus menjaga jarak minimal 2 meter dengan orang lain, mengenakan masker dan hindari kebiasaan menyentuh wajah.

Selain itu, warga diminta untuk tidak pulang kampung dulu. Sebab seseorang yang berasal dari daerah transmisi lokal rawan membawa virus corona di daerah yang dinyatakan masih hijau.

Berkaca dari kasus Jakarta misalnya. Ibu Kota Negara ini sebagai episentrum kasus corona dan akhirnya menyebar ke beberapa daerah di Indonesia karena aktivitas warga yang tidak terkendali.

Di Kota Kendari pun demikian. Bila aktivitas mudik warga tidak ditekan, maka potensi penularan ke daerah-daerah lain bisa saja terjadi. Sebab, daerah belum memiliki alat deteksi dini terhadap warga yang terjangkit melainkan mengandalkan suhu tubuh dan pencegahan menggunakan cairan disinfektan.

Padahal, seseorang terinfeksi virus bahkan tidak menunjukkan gejala atau biasa disebut orang tanpa gejala (OTG) karena massa inkubasi virus di tubuh seseorang selama 14 hari bahkan hingga 21 hari.

Corona Bukan Aib

Kepala Seksi Surveilans Epidemologi dan Imunisasi Dinkes Sultra Kartina menyatakan, pasien yang terpapar virus corona tidak perlu dikucilkan.

Menurut dia, warga yang terpapar virus corona harus didukung untuk bisa sembuh. Sebab, berbagai kasus yang ada, beberapa orang dinyatakan sembuh dan negatif covid usai menjalani perawatan.

β€œTidak boleh ada stigmatisasi terhadap warga yang terinfeksi virus corona. Harus kita dukung mereka untuk sembuh,” jelasnya.

Menurut dia, yang perlu dilakukan warga jika terjadi kasus corona tetap mengikuti anjuran dan imbauan pemerintah soal kebiasaan hidup bersih dan sehat, mengenakan masker, menjaga pola makan, rajin olahraga dan terlebih tetap di rumah saja.

Penulis : Pandi

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...