Indonesia Waspada Penuaan Penduduk

413
 
Zulfikar Halim Lumintang, SST

Semoga panjang umur, adalah doa yang sering terucap entah itu untuk keluarga, saudara, teman, maupun diri sendiri. Namun, umur yang panjang saja tentu tidak cukup jika kualitas manusia khususnya di Indonesia masih jalan di tempat. Yang ada, penduduk berumur panjang atau lanjut usia hanya akan menambah beban negara ketika mereka pasif dari kegiatan ekonomi dan sosial di lingkungan sekitarnya.

Umur yang panjang seharusnya menjadikan seseorang lebih bersyukur dengan cara yang benar. Mengingat, banyak manusia lain yang tidak bisa mencapai umur seperti mereka yang masih hidup. Bayangkan saja, berdasarkan data Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035. Jumlah lansia (penduduk usia 65 tahun ke atas) di Indonesia pada tahun 2010 mencapai 11.880.000 jiwa, dan diproyeksikan pada tahun 2035 jumlah lansia di Indonesia mencapai 32.416.300. Artinya, dalam jangka waktu 25 tahun, jumlah lansia meningkat hampir tiga kali lipat.

- Advertisement -

Tidak hanya sampai disitu saja, selain secara jumlah, ternyata secara proporsi lansia di Indonesia diproyeksikan juga cenderung meningkat dari tahun 2010 hingga 2035. Pada tahun 2010 mencapai 4,98% dari total penduduk Indonesia, dan angka tersebut diproyeksikan meningkat hingga mencapai 10,60% dari total penduduk Indonesia pada tahun 2035 mendatang.

Sekilas, nampaknya hal tersebut bukan menjadi masalah yang berarti bagi Indonesia. Di sisi lain, Indonesia malah bisa berbangga karena secara otomatis indikator kesehatan dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yaitu Angka Harapan Hidup (AHH) pasti juga semakin meningkat dari tahun ke tahun. Namun, hendaknya kita berpikir lebih kritis lagi, misalnya, kegiatan apa yang bisa dilakukan penduduk lansia dalam membantu kecukupan ekonomi rumah tangganya?

Bertani? Ya, mungkin bisa menjadi satu solusi. Indonesia sebagai negara agraris tentu tidak perlu ragu lagi bahwa mayoritas penduduknya masih bermatapencaharian sebagai petani. Namun sayangnya, apakah seorang lansia masih bisa banyak melakukan kegiatan berat dalam bertani? Untuk saat ini mungkin bisa. Karena memang petani di Indonesia masih didominasi oleh lansia.

Faktor Pendukung Umur Panjang

Kesehatan menjadi faktor utama manusia bisa mencapai umur panjang. Kesehatan jasmani dan rohani, keduanya harus saling melengkapi dalam mencapai makna “sehat” yang sesungguhnya. Kesehatan jasmani bisa didapatkan dari rajin berolahraga dan berjemur secara teratur. Kemudian, mengkaji ilmu agama dan beribadah sesuai tuntunan juga akan mencukupi kesehatan rohani kita.

Seoptimal apapun kita dalam menjaga kesehatan, ada kalanya kita tetap mengalami gangguan kesehatan, baik itu kecil maupun besar, entah itu diduga ataupun tidak. Disini, faktor fasilitas kesehatan berbicara banyak dalam menunjang umur panjang. Fasilitas kesehatan yang memadai dan kompeten, sangat membantu mereka yang mengalami gangguan kesehatan untuk kembali sehat.

Fasilitas kesehatan yang memadai, juga akan dibutuhkan Indonesia kedepannya. Karena pada tahun 2035 mendatang, diprediksi 10,60% dari total penduduk Indonesia adalah penduduk lanjut usia. Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa penduduk lanjut usia sudah memiliki daya tahan tubuh yang lemah, sehingga sering mengalami gangguan kesehatan. Sehingga tidak heran, jika merekalah yang kemungkinan besar akan sering memanfaatkan fasilitas kesehatan.

Namun, sepertinya tidak perlu menunggu tahun 2035 untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas fasilitas kesehatan kita. Tahun ini pun, nampaknya kita sudah wajib melakukannya. Pasalnya, Pandemi Covid-19 telah sukses membuktikan kekurangan dari fasilitas kesehatan kita. Tercatat per tanggal 9 April 2020, pukul 15.40 WIB pasien terkonfirmasi positif Covid-19 sejumlah 3.293 jiwa, namun hanya 2.761 jiwa yang dalam perawatan. Artinya 532 jiwa atau 16,16% pasien positif Covid-19 melakukan perawatan mandiri di rumah.

Apapun alasannya, pandemi Covid-19 perlu penanganan medis yang memadai, dan idealnya semua pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19 diisolasi di rumah sakit, supaya tidak ada celah penularan virus ke anggota keluarga yang lain. Di sisi lain, protokol penangan pasien Covid-19 harus diperketat lagi, tercatat per tanggal 4 April 2020, 25 dokter telah gugur setelah terinfeksi Covid-19. Hal dasar seperti pemenuhan kebutuhan masker, Alat Pelidung Diri (APD), sarung tangan, dan kacamata mutlak harus dipenuhi demi terlindunginya para tenaga medis yang setiap hari bertatap muka dengan pasien Covid-19.

Solusi Terapan

Lansia pada tahun 2035 dan seterusnya merupakan pemuda aktif dan enerjik di tahun sekarang. Oleh karena itu, perbekalan mereka untuk menjadi seorang lansia harus dipersiapkan dari sekarang, saat masih muda. Pada masa mendatang tentunya yang paling kita harapkan adalah Indonesia memiliki lansia yang sehat dan bisa aktif dalam kegiatan perekonomian rumah tangga.

Untuk itu, pemuda saat ini harus menjaga pola makan yang sehat dan bergizi. Di dalam agama Islam, anjuran untuk berpuasa tiap hari senin dan kamis, maupun puasa tengah bulan Hijriah merupakan salah satu cara untuk menjaga pola makan, agar usus dan lambung kita ada waktu untuk beristirahat. Selain itu, mencukupi kebutuhan kalori dan protein harian juga menjadi penting untuk dilakukan. Karena kalori dan protein merupakan zat penghasil energi di dalam tubuh untuk melakukan kegiatan sehari-hari.

Kemudian, untuk mendorong lansia masa depan agar tetap aktif dalam perekonomian rumah tangga salah satu caranya adalah para pemuda saat ini banyak terjun ke pekerjaan yang tidak terlalu menguras fisik. Hal itu dimaksudkan agar mereka pada saat memasuki usia senja tetap bisa berkontribusi pada perekonomian rumah tangga. Contohnya adalah sebagai data scientist. Pekerjaan data scientist merupakan pekerjaan yang “seksi” di abad ini, selain penghasilan mereka terhitung tinggi, orang-orang seperti mereka pun belum banyak. Ditambah lagi banyak perusahaan yang baru menyadari pentingnya data.

Ketika masih muda, mereka seharusnya banyak “berinvestasi” ilmu mengenai data scientist, sehingga pada masa mudanya dia bisa kokoh secara ekonomi dengan penghasilan yang tinggi. Dan di masa tuanya pun dia tetap bisa menjadi seorang data scientist atau menjadi pengajar para pemuda yang ingin menjadi data scientist berikutnya. Oleh karena itu, mari kita sadari bersama bahwa masa tua itu harus dipersiapkan semenjak masih muda.

Oleh : Zulfikar Halim Lumintang, SST.

Penulis merupakan Statistisi Ahli Pertama BPS Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...