Disperindag Butur Akui Kenaikan Harga Beras Akibat Spekulasi Pedagang

342
 

Buranga, Inilahsultra.com – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Kabupaten Buton Utara (Butur) mengakui terjadi kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok akibat spekulasi para pedagang. Spekulasi itu muncul akibat kepanikan wabah Virus Corona atau Covid-19.

“Waktu itu karena mereka (Pedagang) panik, ada informasi feri tidak akan beroperasi karena virus Corona. Jadi waktu itu ada yang memborong. Pedagangnya kasi naik Rp 350 Ribu (Harga beras per-25 Kilogram) waktu itu. Jadi itu spekulasi pedangang,” kata Kadis Perindag Butur As Sabran di Kantor DPRD Butur, Selasa 14 April 2020.

- Advertisement -

Menurut dia, konsumen yang memborong rata-rata golongan menengah ke atas.

Sabran mengungkapkan, kenaikan sebelum wabah virus Corona, harga beras di pasaran berkisar Rp 300 Ribu per-25 Kilogram. Sementara untuk kemasan 50 kilogram berkisar Rp 600 Ribu.

“Sekarang (Harga Beras) berkisar Rp 350 Ribu, tapi masih ada juga yang Rp 300 Ribu. Kalau yang 50 kilogram ada juga yang Rp 600 Ribu,” tuturnya.

Sementara, lanjut Sabran, untuk harga kebutuhan pokok lainnya juga ikut mengalami kenaikan. Namun kenaikannya hanya berkisar Rp 2 Ribu.

“Minyak dan gula ada juga kenaikan. Ada yang naik Rp 2 Ribu. Tapi ada juga yang turun,” terangnya.

Sabran menegaskan, sudah mengimbau para pedagang jika menaikan harga agar masih dalam baras kewajaran.

“Kalau batas toleransi kenaikan harga, ketentuan umum sebenarnya tidak ada. Tapi kami kan selalu mengimbau kepada pedagang, harga itu jangan memberatkan konsumen,” tandasnya.

Menurut dia, jika para pedagang masih terus berspekulasi menaikan harga, maka Perindag akan mengintervensi pasar. Salah satunya dengan menggelar operasi pasar agar harga tetap stabil.

“Kalau pedagang berspekulasi menaikan harga, kita akan tekan. Kita akan operasi pasar,” cetusnya.

Sebenarnya, lanjut Sabran, kenaikan harga selalu terjadi setiap jelang Ramadan dan lebaran, bukan hanya saat mewabahnya virus Corona. Makanya setiap jelang waktu itu Perindag selalu menggelar pasar murah untuk mencegah kenaikan harga akibat spekulasi para pedagang.

“Tapi saya tadi sudah konfirmasi dengan Ibu Sekda memang ternyata akan disatupintukan (Pasar Murah),” ungkapnya.

Sabran mengungkapkan, anggaran untuk pelaksanaan pasar murah sudah ada pada Dinas Perindag. Jumlahnya sebesar Rp 80 Juta.

Namun, anggaran itu kemungkinan akan digeser untuk bantuan sembako murah kepada warga yang terdampak wabah virus Corona.

Bantuan sembako murah, terang Sabran, sebenarnya bisa dilakukan Dinas Perindag. Hanya saja, data penduduk yang membutuhkan tidak ada pada Dinas Perindag.

“Jadi kalau kita adakan pasar murah kita panggil saja camat,” ujarnya.

Editor: Din

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...