Cerita Dua Perawat RS Bhayangkara : Dijauhi Teman dan Pikirkan Anak dan Suami

657
 

Kendari, Inilahsultra.com –  Dua perawatan Rumah Sakit Bhayangkara Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) tetap semangat  dalam melayani dan merawat pasien yang terpapar Corona Virus atau Covid-19. Meski ada rasa was-was menyelimuti, namun dua perawat itu tetap tegar menghadapi dengan ikhlas.

Sejak Kota Kendari masuk dalam kategori sebagai kota transmisi lokal penyebaran virus Corona, mereka ditunjuk sebagai perawat Covid-19. Suka duka pun sudah dilaluinya. Mereka tetap semangat dalam merawat dan melayani pasien Covid-19.

- Advertisement -

Perawat pasien covid-19 di RS Bhayangkara, Syamsiah bercerita, menjadi perawat Covid-19 ada suka dukanya.

Ia mengaku dijauhi oleh teman-teman takut terpapar Corona. Harusnya, kata dia, teman-temannya tidak perlu menjauh karena dalam merawat pasien menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap.

“Kita dijauhi oleh teman-teman, sebanarnya mereka tidak perlu menjauh dari kita karena kami melayani dan merawat pasien dengan menggunakan APD lengkap,” terang Syamsiah saat ditemui di Rumah Sakit Bhayangkara, Selasa 21 April 2020 kemarin.

Syamsiah melanjutkan, untuk mencegah penularan Covid-19 dengan cara membiasakan diri tidak bersalaman, jaga jarak, makan menu seimbang. Kalau perlu kegiatan apapun, di rumah saja.

“Tetapi kita sebagai perawat, kita tidak boleh di rumah saja karena tuntutan kita sebagai perawat kami punya pasien yang perlu dirawat,” sambung wanita berhijab ini.

Kemudian dari pihak keluarga, ada rasa was-was karena di rumah ada anak dan suami. Takutnya, jangan sampai mereka ikut terpapar. Setelah diberi pemahaman dan edukasi akhirnya mereka menerima.

“Rasa was-was itu ada karena kami punya keluarga. Punya anak, punya suami. Takutnya bisa menular ke anak dan suami, tetapi dengan melakukan edukasi. Bahkan, perawat mandinya hanya dua kali, kami sebagai perawat Covid-19 datang mandi, setelah merawat pasien mandi, terus tiba di rumah lagi kita mandi,” ucapnya.

Sementara itu, Wa Ode Marulana mengkisahkan, awal menangani pasien Corona ada hal yang dianggap lucu ada juga sedih. Bahkan, ketika menggunakan APD lengkap ada rasa kesedihan dan ada rasa pasrah di dalam hati, takut akan terpapar Corona.

“Tetapi karena tuntutan profesi sebagai perawat, membuat saya semangat. Mulai dari menjemput pasien yang sedang stres, yang pikirannya aneh-aneh. Apalagi sudah dinyatakan positif Corona dari hasil test swab, tetapi kami memberikan semangat sepanjang jalan,” bebernya.

Terkadang dalam melaksanakan tugas, pikiran ingat anak dan suami. Karena tuntutan profesi sebagai perawat tetap melaksanakan tugas dengan semangat.

“Sejak kecil saya bercita-cita menjadi seorang perawat, sekarang pun kalau diminta melayani pasien Covid-19 kami siap selalu,” tuturnya dengan nada semangat.

Penulis : Onno

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...