Jika ‘Kapatuli’, Mintalah Agar Jenazahmu Menguap

834
 

Kabar mengejutkan bagi sebagian masayarakat yang berdomisili di Kabupaten Muna, dunia terasa menghimpit. “Ingka semakin dekat corona,” ungkapan yang seolah terus mendenging di gendang telinga.

Pengumuman yang dilakukan gugus tugas penanganan Covid-19 Sulawesi Tenggara, menyudahi ‘pandaenteng’ masayarakat yang memiliki kebiasaan berpergian ke zona laranganan ini.

- Advertisement -

Lihat saja aktivitas hilir mudik tidak juga berhenti, masyarakat Muna menuju Kota Kendari yang saat itu sudah ditetapkan debagai daerah transmisi wabah yang tengah mengubah tatanan dunia ini.

Menarik untuk disimak, dari tujuh total pasien postif yang ditemukan, sama sekali tidak memiliki gejala klinis pneumonia, sebagai orang awam yang tidak mengenal ilmu medis, kondisi ini tentu menuntut kewaspadaan tingkat tinggi, tidak menutup kemungkinan, banyak yang telah menjadi agen penyebaran wabah mematikan ini.

Orang Tanpa Gejala (OTG) bisa jadi merupakan teman tidur kita, teman bercanda dan bertukar batang rokok untuk diisap. Lalu? Bayangkan apa yang akan terjadi.

Sepertinya memang pemda Muna terlambat mendatangkan ‘polisi bombay’ untuk memukulkan rotan di bokong ‘calon pembunuh’ yang kapatuli ini. Juga masker yang diperebutkan di Pasar Laino, penyemprotan disinfektan di Pelabuhan tidak ampuh menghentikan laju corona di Bumi Sowite.

Juga baliho imbauan nyaris tanpa makna. Semua sudah terlanjur, pasien yang dibiarkan melalang buana dan ikut dalam deretan bangku undangan pesta mungkin sudah berkontribusi mengantarkan penyakit yang sudah berjalan ribuan kilometer ini ke pondok-pondok kebun yang jauh dari jangkauan Ahmad Yurianto untuk mengingatkan pentingnya masker dan phisical distanting.

Siapa yang harus disalahkan? Tidak, bukan saat yang tepat menujuk hidung siapa yang harus bertanggung jawab. Kita harus bersiap menanggung akibat ‘kapatuli’ yang kita lakukan.

“Dalam keadaan sudah transmisi lokal, Lockdown kawasan atau area sudah tidak ada gunanya sama sekali, kita sudah terlanjur hidup dalam “kubah” yang sama. Jaga diri masing-masing adalah kuncinya, berhenti keluyuran, jaga jarak, masker, dst..,” demiakian ciutan Jubir Gugus Tugas penangan Covid-19,dr Wayonk (Rabiul Awal-red) di akun media sosial miliknya.

Wabah ini tidak hanya menyasar mereka yang keluyuran, tetapi juga mereka yang menunggu di rumah juga ikut merasakan. Kenapa tidak kita meringankan kerja tim medis yang berada di garda terdepan yang mengorbakan waktu bersama orang-orang terkasihnya di rumah.

Yakinlah, jenazahmu tidak menguap seperti korek gas yang pecah jika kamu mati, kamu akan menyisahkan cerita dan juga berpotensi membunuh yang lain, sehingga stop keluyuran dulu, ikuti imbauan pemerintah, jaga kebersihan, gunakan masker dan tidak sok jago dulu untuk sementara.

Edukasi, Saling Mendukung Penyakit bukan Aib

Banyak yang salah tentang penyakit yang menyerang orang dengan kelehan sistem imun ini. Sehingga mestinya ada yang bertugas khusus melakukan sosialisi dan edukasi untuk tidak takut berlebihan.

Yang perlu ditingkatkan adalah kewaspadaan bukan memutus sendi sosial di masyarakat, saling menguatkan dan menjaga sebab mereka yang terpapar adalah pasien yang butuh dibantu bukan dikucilkan.

Juga meningkatkan kepercayaan diri, biarkan mereka jujur dengan gejala yang dialami, sebab sikap tertutup juga ikut andil menyebarluaskan wabah yang apalagi yang memiliki perjalanan dan kontak dengan orang usai berpergian di zona yang dianggap memiliki penyebaran tinggi.

Sesama kita berhenti menyebarkan ketakutan, dan meyakinkan jika pasien daoat sembuh jika ditangani dengan baik dan memiliki kedisiplinan tinggi.

Pemerintah Harus Punya Langkah Memutus Rantai

Kita membayangkan, sikap tegas pemerintah bagi mereka yang melanggar, sebab kenyataannya himbauan saja tidak cukup. Kekuasaan bisa digunakan dengan menetapkan sanksi, toh ini hanya sementara, pada waktunya penyebaran virus selesai, semua akan kembali normal.

Tindak tegas mereka yang tidak patuh, kepentingan orang banyak dipertaruhkan, negara wajib melindungi segenap rakyat.

Tidak melulu, membahas anggaran dan kebingungan, merumus peruntukannya, keadaan darurat tentuh membutuhkan reaksi cepat dan tepat sasaran.

Masyarakat yang aktivitasnya dibatasi, berdiam di rumah juga berhak mendapatkan keringanan beban hidup dan akibat yang ditimbulkan.

Akhirnya, hanya kepada Tuhan dengan saling menjaga kita semua akan selamat, sembari berkeyakinan jika ini hanya sementara.

Maul Gani

(Penggiat Literasi)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...