Petugas Perbatasan Kendari Keluhkan Honor Dipotong, Sulkarnain : Segera Lapor ke Saya

3618
 

Kendari, Inilahsultra.com – Relawan Satgas Covid-19 yang bertugas di perbatasan Kota Kendari mengeluhkan adanya pemotongan biaya honor dan logistik makanan serta vitamin yang tidak sesuai.

Para relawan Satgas Covid-19 ini melakukan penjagaaan di beberapa perbatasan Kota Kendari guna mencegah penyebaran wabah Corona.

- Advertisement -

Dihubungi Inilahsultra.com melalui telpon selulernya, salah satu anggota relawan Satgas Covid-19 yang tak ingin disebut identitasnya mengaku, selama dua bulan terakhir dirinya berjaga di salah satu perbatasan di Kota Kendari belum merima upah honorarium.

Ia kembali bercerita, kalau tenaga relawan yang berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) telah diatur dalam Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD) dengan besaran Rp 120.000 per hari. Ternyata, kata dia, dirinya hanya dibayarkan terhitung dua hari dalam sebulan sebesar Rp 240.000 per bulan.

“Saya habis tanyakan di kantor, tapi aturannya katanya hanya dua hari dihitung SPPD-nya untuk gaji per bulan. Itu pun saya belum terima juga sampe sekarang. Katanya tunggu gelombang selanjutnya,” jelasnya.

Bukan hanya soal SPPD, ia kembali mengeluhkan selama berjaga di perbatasan, kebutuhan vitamin untuk daya tahan tubuh jarang diberikan.

“Bulan April kemarin hanya dua kali saja dibawakan minuman vitamin. Nanti kemarin itu ada hearing sama DPRD Kota, baru sering kami dikasikan vitamin,” keluhnya.

Kemudian, ia kembali mengeluhkan
makanan yang diberikan tidak sesuai dengan standar gizi kesehatan.
Padahal, kata dia, dalam situasi saat ini, stamina dan gizi para relawan harus benar-benar dijaga dan diperhatikan, mengingat tugas mereka bersentuhan langsung dengan dengan orang-orang keluar masuk di Kota Kendari.

“Dari awal kami dijanjikan diberikan makanan nasi, daging, sayur dan telur untuk menjaga stamina. Tapi kenyataan di lapangan hanya nasi ikan yang kami makan setiap harinya,” jelasnya.

“Saya berharap pemerintah dapat memperhatikan kondisi para relawan yang bekerja selama 24 jam di perbatasan Kendari-Konsel untuk mencegah penyebaran virus Corona. Tolonglah kami lebih diperhatikan,” harapnya.

Hal yang sama dikeluhkan salah seorang relawan Covid-19 yang juga melakukan penjaga di perbatasan, namun tidak mau menyebutkan identitasnya. Ia mengeluhkan, selama bertugas di perbatasan dirinya bersama rekan-rekannya hanya diberikan alat pelindung diri (APD) masker.

“Harusnya kami juga dilengkapi dengan APD, mengingat kami yang bersentuhan langsung di masyarakat dan kami juga memiliki keluarga. Kami pun serba was-was pulang karena takut jangan sampai membawa virus untuk keluarga di rumah,” jelasnya.

Selain ia meminta kejelasan dari pemerintah kota terkait besaran upah honor dalam bagi relawan yang berjaga di perbatasan Kota Kendari dengan kabupaten lain.

“Tidak tidak menuntut apa-apa, tapi kami hanya minta kejelasan dalam sehari berapa honor kami, soalnya kami dapat info 100 ribu satu kali jaga, tapi kami diberikan hanya 85 ribu. Jadi, kami betul-betul hanya butuh penjelasan,” tutupnya.

Dikonfirmasi kepada Wali Kota Kendari, Sulkarnain Kadir mengatakan, pihaknya akan melakukan pengecekan dulu untuk mendapatkan kepastian informasinya.

“Yang jelas semuanya petugas di perbatasan dibayar full tidak ada potongan,” kata Sulkarnain.

Orang nomor satu di Kota Kendari ini menegaskan, jika ada petugas yang jaga di perbatasan menemukan adanya pemotongan honor untuk segera melapor kepadanya.

“Kalau memang betul ini terjadi, saya minta kepada orang yang bersangkutan untuk melaporkannya langsung kepada saya,” tutupnya.

Penulis : Haerun

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1
Komentar
loading...