Indahnya Toleransi, Warga Bali di Buton Jaga Perbatasan Saat Salat Idulfitri

935
 

Pasarwajo, Inilahsultra.com – Warga Bali yang beragama Hindu di Kecamatan Lasalimu Selatan (Lasel) Kabupaten Buton akan melibatkan diri pada pelaksanaan Salat Idulfitri 1441 H/2020. Mereka akan menjaga perbatasan wilayah saat seluruh umat Muslim melaksanakan salat di lapangan maupun masjid.

Keputusan ini diambil dalam pertemuan yang dipimpin Camat Lasel Jusmina Lanjaa, Kamis 21 Mei 2020.

- Advertisement -

Pertemuan itu dihadiri Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Lasel Jabaludin Ays, Perwakilan Koramil 1413-13 Lasalimu Serka La Dikini, dr. Yafisham Wahab Nasution, Kepala Puskesmas Lasel Amir Tuani, Kepala Puskesmas Wajah Jaya Ida Bagus Widiantara, Ketua Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kecamatan Lasel Suardi, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PDHI) Kecamatan Lasel I Nengah Suciptarya, Para Kepala Desa dan Imam masjid, serta pemuka agama Hindu di Aula Kantor Kecamatan Lasel.

Jusmina mengatakan, pihaknya akan melibatkan keluarga Bali yang beragama Hindu untuk melakukan penjagaan dan pengawasan pada akses masuk ke Lasel saat pelaksanaan Salat Idulfitri.

“Dengan tetap berpedoman pada petunjuk Satgas Covid 19 Buton yang diketuai Bupati Buton, Drs. La Bakry, MSi, pelaksanaan Salat Id di Lasel akan memperhatikan dan mematuhi protokol kesehatan. Pelaksanaan Salat Idulfitri tergantung dari kebijakan desa masing-masing. Dan Keluarga Bali menyatakan kesiapannya untuk membantu kaum Muslim yang melaksanakan ibadah dengan melakukan penjagaan di akses masuk ke Lasel,” kata Jusmina usai memimpin rapat pelaksanaan Salat Id di wilayah Lumbung padi Kabupaten Buton tersebut.

Jusmina memaparkan, dalam perayaan lebaran kali ini, takbir hanya dapat dilakukan di dalam masjid/musala dengan personil paling banyak 5 orang. Tidak ada takbir keliling seperti biasanya.

Selain itu, bagi desa yang melaksanakan Salat Idulfitri di lapangan, masjid/musala wajib melakukan penyemprotan disinfektan setelah selesai salat subuh ditempat pelaksanaan salat Idulfitri.

Dia menegaskan, semua yang melaksanakan salat wajib memakai masker. Jemaah dilarang menggunakan karpet/sajadah di masjid/musala. Mereka harus membawa perlengkapan salat dari rumah masing-masing.

“Di lapangan, masjid/musala wajib disiapkan tempat cuci tangan dan sabun. Orang dilarang untuk melaksanakan salat di desa lain. Waktu salat diseragamkan jam 7.30 WITA sudah dilaksanakan. ODP, Balita, orang yang batuk, flu, demam, diare dan menderita penyakit kronis dilarang untuk salat Idulfitri di Lapangan, Masjid/Musala,” katanya.

Untuk memudahkan pengawasan, lanjut dia, maka diberlakukan sistem satu pintu masuk. Selain itu, pembacaan khutbah tidak boleh lebih dari 10 menit. Serta imam dianjurkan untuk membaca ayat-ayat pendek.

Bukan hanya itu, Jusmina juga memerintahkan Ketua RT untuk mengimbau warga agar menyampaikan kepada keluarganya yang berada di daerah lain untuk tidak Pulang kampung atau mudik. Bagi yang tetap mudik akan di karantina selama 14 hari dan dilarang Salat Idulfitri di lapangan, masjid/Musala.

“Setelah selesai salat Idulfitri dilarang berkerumun, berjabat tangan dan keliling rumah untuk bertamu. Untuk Desa Lasalimu, Balimu, Ambuau Indah dan Umalaoge penjagaan dan pengawasan diperketat karena banyak penyusup dari luar daerah,” katanya.

Keterlibatan Keluarga Bali dalam Perayaan Hari Besar Islam, bukan hanya kali ini. Pada pelaksanaan MTQ ke 46 tingkat Kabupaten Buton yang digelar di Ambuau Indah Kecamatan Lasel pada akhir Februari lalu, juga melibatkan keluarga Bali. Mereka menampilkan atraksi pada pembukaan ajang Musabaqah tersebut.

Reporter: LM Arianto

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
2
Komentar
loading...