Goresan Pena Terakhir Jurnalis Senior Yamin Indas

679
 

Kendari, Inilahsultra.com – Yamin Indas namanya. Sosok jurnalis yang barangkali tak asing bagi kalangan buruh tinta di Bumi Anoa Sulawesi Tenggara.

Pensiunan wartawan Koran Kompas ini telah banyak menulis tentang Sulawesi Tenggara selama meniti karirnya.

- Advertisement -

Tulisannya enak dibaca, mengalir dan gampang dimengerti. Meski beberapa menuai kontrofersi. Catatan-catatannya telah banyak mempengaruhi publik.

Kini pria kelahiran Kabaena Kabupaten Bombana 7 Maret 1950 itu mangkat 23 Mei 2020 sekira pukul 02.50 dini hari. Duka yang datang saat umat Islam tengah merayakan suka cita kemenangan Idulfitri.

Almarhum didiagnosa mengalami gagal jantung. Penyakit yang selama ini jadi beban raganya namun tidak bagi semangat menulisnya.

Meninggalnya jurnalis senior Sultra ini tentu sebuah hal yang mengejutkan. Sebab, beberapa jam sebelum diumumkan meninggal, Yamin masih menulis status panjang di dinding Faceboknya 23 Mei 2020 malam sekira pukul 21.13.

Sebuah catatan yang sangat berarti bagi kita semua. Sebuah catatan tentang merayakan kemenangan di tengah pandemi corona.

Berikut tulisan Almarhum sebelum menghembuskan terakhir di Rumah Sakit Ismoyo Kendari.

KITA BERDAMAI DENGAN COVID-19?

ALHAMDULILLAH, umat Islam telah melampaui fase agak sarat tantangan, menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1441 H sebulan penuh dan melaksanakan protokol kesehatan. Allah Akbar, Allah Akbar, Allah Akbar, Walil lahil hamdu. Semoga Allah swt masih memberi kita kesempatan untuk bertemu lagi Ramadhan 1442 H. Aamiin YRA.

Selanjutnya dalam memasuki normal baru, berdamai dengan Covid-19 seperti dianjurkan Presiden Joko Widodo, masyarakat hendaknya tidak dibiarkan berjalan sendiri. Selain terus menganjurkan pelaksanaan protokol kesehatan, pemerintah harus mengkondisikan situasi agar masyarakat dapat menyesuaikan diri dengan dengan new normal.

Alkes kebutuhan setiap warga masyarakat maupun dokter dan tim medis harus disediakan secara memadai oleh pemerintah. Paling tidak, ada kemudahan bagi masyarakat untuk mendapatkan alkes di pasar atau apotik atau di tempat lain dengan harga yang terjangkau. Distribusi alkes dari pusat hingga ke pedalaman harus dikontrol pemerintah agar tidak menjadi lahan bancakan pihak-pihak yang mengejar keuntungan pribadi.

Rumah ibadah seperti masjid, gereja, klenteng dll harus diproteksi/diseterilkan oleh pemerintah agar umat beragama dapat kembali beribadah seperti biasa di mana mereka dapat beribadah dengan khusyu’ untuk memohon kepada Allah SWT agar wabah Covid-19 segera lenyap diangkat Allah SWT dari planet bumi ini. Fasilitas cuci tangan dengan sabun harus tersedia di tempat wudhu, serta menerapkan alat rapid test bagi setiap jamaah sebelum masuk mengambil tempat di dalam masjid.

Pengurus masjid harus setiap saat menjaga kebersihan masjid dan lingkungannya. Setiap pengurus masjid tentu saja harus dan mutlak mematuhi protokol kesehatan sebagaimana setiap warga masyarakat Indonesia pada umumnya. Agar dia tetap seteril dari Covid-19.

Setiap individu masyarakat Indonesia harus mematuhi protokol kesehatan tanpa reserve. Tinggal di rumah, dan kalau terpaksa harus keluar rumah maka dia harus pakai masker. Setiap melakukan pergeseran tempat harus cuci tangan dengan sabun. Seumpama ke pasar, ke bank, ke kantor, ke toko untuk belanja sebelum masuk untuk beraktivitas harus cuci tangan pakai sabun yang sarananya telah disiapkan di situ. Begitu pula bila kembali ke rumah, kita harus cuci tangan sebelum masuk ke dalam rumah kita sendiri.

Kerumunan tampaknya merupakan gaya hidup masyarakat Indonesia di mana dan kapan saja. Di bandara, stasiun kereta api, terminal kapal laut dan penyeberangan serta di terminal bus adalah area publik yang memang sulit dihindarkan kerumunan itu. Dalam situasi inilah perlunya setiap orang menjaga jarak satu sama lain untuk menghindari penularan.

Bepergian dengan sarana transportasi umum, para operator angkutan umum diharuskan memiliki alat kesehatan untuk mendeteksi calon penumpang. Bila tidak memenuhi syarat kesehatan sesuai protap, maka calon penumpang ditolak. Ini berlaku untuk penumpang semua moda; udara, laut, penyeberangan, dan terminal. Bukan hanya itu. Calon penumpang harus menunjukkan surat keterangan dari Dinas Kesehatan atau lurah tentang kondisi kesehatan yang bersangkutan.

“Kami tidak mengangkut penumpang yang tidak clear kondisi kesehatannya, baik kemungkinan dia positif virus Covid-19 maupun penyakit lain yang rentan ketularan virus dari Wuhan, China”, kata Kadis Perhubungan Sultra Dr Ir Haji Hado Hasina MA yang juga Koordinator Satgas Area Transportasi Publik Penanganan Covid-19 Provinsi Sultra.

Karena itu, pada dasarnya menurut Hado, warga boleh-boleh saja melakukan perjalanan menggunakan sarana transportasi dengan ketentuan bahwa dirinya disiplin mematuhi protokol kesehatan sejak awal, jauh hari sebelum berangkat. Sebab di lain pihak penyelenggara transportasi sangat ketat dan disiplin memberlakukan aturan dan protokol kesehatan sesuai peraturan Kementerian Perhubungan dan surat edaran Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

Maka, bila setiap individu masyarakat Indonesia telah melaksanakan dan menyesuaikan diri dengan kondisi normal baru seperti diuraikan di atas dengan penuh disiplin dan merasa bertanggung jawab atas keselamatan dirinya sendiri, sebaran Covid-19 akan terputus total.

Hari Raya 1Syawal 1441 H bertepatan dengan Ahad 24 Mei 2020 hendaknya kita jadikan momentum untuk bangkit secara simultan melawan Covid-19 dimulai dari diri kita sendiri mematuhi protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah sejak awal sekali. Kita berusaha hidup tertib dan sehat di tengah pandemi Covid-19 yang diturunkan Sang Maha Pencipta untuk menguji nalar dan rasional kita memahami kebesaran-Nya yang masih tak terjangkau kemampuan ilmu pengetahuan manusia di abad ini. ***

Tulisan terakhirnya ini sebagai bukti bahwa almarhum menulis hingga akhir hayatnya. Selamat jalan jurnalis senior.

Penulis : Pandi

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...