Di Balik Megahnya Jembatan Teluk Kendari Ada Papalimbang yang Khawatir ‘Pecah Piring’

5827
 

Kendari, Inilahsultra.com Langit tampak cerah sore itu, Jumat 12 Juni 2020. Haerullah (53) baru saja melempar sauh, menyandarkan perahu mesin tempel (katinting) di dermaga Pelabuhan Lapulu, Kecamatan Abeli Kota Kendari, Jumat 12 Juni 2020.

Dari atas perahunya, turun satu orang penumpang yang diambil dari Dermaga Sanggula di Kota Lama Kecamatan Kendari.

- Advertisement -

Ilustrasi di muka merupakan pekerjaan hari-hari Haerullah bersama 30 orang Papalimbang lainnya.

Papalimbang adalah sebutan kepada warga yang aktivitas sehari-hari melayani penyeberangan penumpang dari Dermaga Pelabuhan Lapulu ke Dermaga Sanggula yang ada di Kota Lama Kota Kendari.

Keberadaan para Papalimbang yang beroperasi di Teluk Kendari ini sudah lebih setengah abad. Sudah lima generasi papalimbang yang menggantungkan hidup di teluk itu.

Haerullah adalah generasi ketiga. Ia telah menjadi papalimbang selama 20 tahun. Namun masih ada yang lebih sepuh dari pada Haerullah.

“Ada yang paling tua sekali dari saya. Mungkin sudah 70 tahunan. Nanti pagi dia baru turun (memuat penumpang),” tutur Haerullah.

Ia bilang, sebanyak 30 papalimbang dibagi dalam dua kelompok. Sebanyak 15 katinting stand by di Dermaga Lapulu dan sisanya di Dermaga Sanggula dan Beringin.

Pembagian itu agar setiap pemilik kapal mendapatkan giliran memuat penumpang.

Sebelum jalan by pass dibangun pada dekade 1990-an, warga yang bermukim di sekitar Abeli banyak memanfatkan jasa penyeberangan mereka ke Kota Lama.

Para penumpang ini kebanyakan pedagang, atau warga yang hendak belanja di Pasar Kota. Ada pula mereka sekadar menyeberang untuk berkunjung ke rumah kerabat.

Jarak Dermaga Lapulu dan Kota Lama tak terlalu jauh. Dalam waktu tiga menit sudah tiba di dermaga tujuan. Minimal lima liter bensin sehari bisa dihabiskan selama pulang balik di Teluk itu.

Setiap penumpang dikenakan tarif Rp 5 ribu jika penumpangnya melebihi enam orang. Jika kurang dari itu, maka tarifnya Rp 10 ribu per orang.

“Kalau dulu masih banyak penumpang, kita juga bisa dapat banyak. Sekarang sudah sunyi,” katanya.

Jembatan Teluk Kendari. (Pandi)

Jembatan Jadi Ancaman

Keberadaan Papalimbang erat kaitannya dengan sejarah Kota Kendari. Sebelum ada alat transportasi seperti era saat ini, pilihan satu-satunya yang bermukim di Abeli atau pun di Kota Lama saat itu adalah jasa Papalimbang.

Namun, sejarah keberadaan Papalimbang akan berakhir seiring dengan hadirnya jembatan Teluk Kendari.

Jembatan megah itu melintas di atas Teluk Kendari sepanjang 1,3 kilometer, menghubungkan dua kecamatan di Kota Kendari, Abeli dan Kecamatan Kendari.

Rencananya, peresmian jembatan yang memakan uang negara Rp 700 miliar lebih itu akan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) tahun ini.

Pemanfaatan jembatan ini boleh saja menjadi jalur baru untuk pertumbuhan ekonomi namun menjadi lonceng bagi pecahnya piring Papalimbang.

“Kita sangat khawatir. Bisa juga kita pecah piring ini,” imbuh Rahmat.

Ia menyebut, meski jembatan tersebut belum beroperasi, Papalimbang sudah merasakan dampak menurunnya pendapatan mereka akibat masifnya kendaraan pribadi.

“Apalagi kalau sudah ada jembatan itu, tidak ada mi kita dapat,” katanya.

Baik Rahmat maupun Haerullah berharap, pemerintah tetap mempertimbangkan dampak dari jembatan itu terhadap masyarakat kecil seperti mereka yang selama ini menggantungkan hidup lewat pekerjaan jadi Papalimbang.

Setidaknya, bagi warga yang terdampak dan tak lagi bekerja sebagai Papalimbang dipikirkan kembali sumber penghidupan mereka. Secara kasar, kalkulasi warga yang terdampak kurang lebih 90 orang bila setiap kepala keluarga punya satu anak satu istri.

“Pemerintah harus pikirkan juga kita ini nanti. Minimal ada modal usaha kah. Tinggal ini pekerjaan sehari-hari kami,” harapnya.

Penulis : Pandi

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1
Komentar
loading...