Pendamping Kendari Caddi Bantah Potong Bantuan PKH dan Pegang ATM Penerima

1197
 

Kendari, Inilahsultra.com – Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di Kendari Caddi, Kota Kendari Jum Nadil membantah adanya dugaan pemotongan bantuan PKH dan memegang kartu ATM para Keluarga Penerima Manfaat (KPM).

Ia menjelaskan, pemotongan bantuan PKH atas nama Tumini itu tidak benar, karena dalam data bayarnya yang bersangkutan menerima Rp 975 ribu untuk tiga bulan, dan setiap bulannya hanya menerima Rp 325 ribu.

- Advertisement -

“Pastinya tidak benar itu informasi, dan tidak ada itu data Tumini menerima Rp 1,7 juta. Ini bisa dicek dalam data bayarnya PKH di Dinas Sosial,” terang Jum Nadil, Rabu malam 17 Juni 2020.

Bahkan kejadian ini, kata Jum Nadil, Koorinator Kota (Korkot) PKH Kota Kendari sudah melakukan investigasi kepada KPM ternyata ada ketidakpahaman penerima PKH.

“Sebenarnya kita sudah berikan edukasi kepada KPM terkait pencairan uang PKH, tapi kita tidak tahu kenapa lagi ada yang mengada-gada. Nanti kalian bicara sama Korkotnya yang lebih jelasnya,” ucapnya.

Kemudian terkait ATM, Jum Naddil menjelaskan, dalam kelompok PKH itu ada namanya Rumah Pangan Kita (RPK) yang melakukan penarikan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) atau sembako melalui ATM.

Karena, lanjut dia, penerima bantuan PKH satu paket dengan penerimaan sembako tersebut. Tapi prosesnya kadang masuk duluan PKH dan kadang masuk duluan sembako tersebut.

“Itu ATM dibawa sama ketua kelompok RPK untuk digesek agar sembako bisa keluar. Hampir semua KPM itu mengesek melalui RPK untuk mengambil sembako,” jelasnya.

Tapi kalau, ATM KPM itu yang pegang ditujukan kepada pendamping tidak benar informasi yang beredar.

“Mereka kira pendamping yang pegang ATM. Pendamping itu tidak pernah pegang ATM, ATM itu dipegang sendiri KPM, dan kami tidak berani memegang ATM penerima,” tutupnya.

Sementara Koordinator Kota (Korkot) Kendari Jasman saat dikonfirmasi menjelaskan, jumlah uang yang diterima PKH berbeda-beda. Sebab, setiap satu keluarga memiliki jumlah anak berbeda-beda yang sekolah.

Ia menyebut, setiap PKH yang punya anak balita dalam satu tahun memperoleh Rp 3 juta dan dibagi 12 bulan sebanyak Rp 250 ribu perbulan.

Kedua, kategori anak SD Rp 900.000 ribu dibagi 12 bulan dapat Rp 75 ribu perbulan, tapi ini langsung dikali dua menjadi Rp 150.000 ribu.

Kemudian, anak SMP sebanyak Rp 1,5 juta pertahun dibagi 12 kali, dalam satu bulan Rp 125 ribu.

 

“Jadi kalau dijumlahkan itu ketemunya sebesar Rp 5.25000 ribu perbulan yang diterima, kalau yang mendapatkan kategori ini. Jadi tidak sama yang hanya punya anak satu yang sekolah dan punya dua anak,” jelasnya.

Menurut dia, persoalan berita sebelumnya dikarenakan ketidakpahaman penerima PKH terhadap proses pencairan uangnya.

“Dan sudah kami pahamkan. Ketika ke depan ada keluhan, kami harap jangan mendengar info dari orang lain. Tapi sampaikan kepada pendamping dan kalau tidak puas melapor ke Korkot,” jelasnya.

Korkot PKH, kata dia, sangat terbuka dengan program PKH dan tidak ada sifatnya yang ditutup-tutupi.

“Kalau ada pendamping kami terbukti melakukan kesalahan, maka kami sorong di pihak yang berwajib dan tidak mengindahkan kode etiknya kita di sini,” jelasnya.

Sebelumnya salah seorang penerima bantuan PKH di Kendari Caddi mengeluhkan dana PKH yang diterima dari pendamping PKH beda dengan yang jumlah yang masuk dalam buku tabungan, dan ATM dipegang oleh pendamping.

Penuis : Haerun

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...