Di Balik Penolakan TKA China, ‘Jalan Tikus’ hingga Amuk Massa di Simpang Bandara

788
 

Kendari, Inilahsultra.com – Pagi menjelang siang, Selasa 23 Juni 2020, cuaca di Desa Ambaipua Kecamatan Ranomeeto Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) cukup terik.

Massa penolak kedatangan tenaga kerja asing (TKA) asal China satu persatu mulai berdatangan di pintu masuk Bandar Udara (Bandara) Haluoleo itu sekira pukul 10.00 WITa. Mereka kemudian berdiri di tengah jalan sambil menggelar orasi.

- Advertisement -

Sementara aparat kepolisian memasang barikade tepat di jalan masuk bandara sambil memegang tameng.

Satu ruas jalan sengaja dibuka bagi mereka yang hendak terbang ke luar daerah atau ke perumahan Pangkalan Udara (Lanud) Haluoleo. Bandara Haluoleo masih menjadi bagian teritori kekuasaan TNI Angkatan Udara.

Hari makin siang. Massa dari berbagai organ mulai berdatangan. Ada yang mengatasnamakan identitas Taman Pemuda Tolaki (Tamalaki) dan beberapa badan eksekutif mahasiswa (BEM) di Sultra. Masing-masing membawa pengeras suara dan memiliki koordinator lapangan.

Meski memiliki tuntutan yang hampir sama : menolak datangnya TKA China, massa tetap ego dengan organnya masing-masing untuk menyampaikan orasi. Akibatnya, aspirasi yang disampaikan lari sana sini.

Organ-organ itu kemudian bersatu saat anggota DPRD Sultra Sudirman diberi kesempatan menyampaikan orasinya. Secara tegas, politikus PKS itu mendukung gerakan massa menolak TKA.

Tak lama kemudian, potensi ricuh terjadi saat mobil Hilux hitam mencoba lewat kerumunan massa aksi. Mobil ini hendak masuk Bandara Haluoleo.

Dalam mobil itu ada tiga orang. Satu sopir, satu TKA China dan seorang lainnya penerjemah.

TKA China ini sempat diminta paksa keluar dari mobil untuk menjelaskan maksud kedatangannya di bandara itu. Setelah dicecar berbagai pertanyaan, rombongan itu diminta balik ke Kendari.

Situasi demo mulai lengang setelah matahari tepat di atas kepala. Massa mulai istrahat dan beberapa makan siang nasi dus yang telah disiapkan.

Massa kemudian mulai bergerak bakda Ashar setelah rombongan dari massa beralmamater kuning datang. Satu persatu kemudian mulai menggelar orasi menyampaikan alasan penolakan TKA China hingga pukul 17.00 WITA.

Tak berselang lama, rombongan mobil plat merah dengan nomor polisi DT 3 melintas di kerumunan massa hendak masuk di Bandara Haluoleo Kendari. Rombongan ini adalah Ketua DPRD Sultra Abdurrahman Shaleh.

Rahman diminta turun dan menyampaikan orasi terkait kedatangan TKA China. Rahman juga diminta untuk mengklarifikasi kembali pernyataan sebelumnya yang menyatakan mendukung datangnya TKA China.

Menurut politikus PAN ini, ia datang di Bandara Haluoleo untuk menjalankan tugasnya sebagai wakil rakyat memastikan dokumen para TKA benar-benar sesuai aturan. Hasil tinjauannya nanti akan ia sampaikan ke massa aksi.

Tidak sampai lima menit orasi, Rahman turun dari mobil pengeras suara dan melanjutkan perjalanan ke Bandara.

Beberapa jurnalis yang ada di lokasi mencoba menumpang di mobil rombongan Ketua DPRD Sultra ini. Mereka lebih duluan masuk sekitar 20 menitan setelah mendapat izin dari puluhan  personel TNI AU yang berjaga di pos.

Sementara sebagian jurnalis yang menggunakan kendaraan pribadi masing-masing, harus lebih dulu mendapatkan izin dari pimpinan TNI untuk bisa masuk ke area Bandara.

Setelah melalui pembicaraan yang panjang, akhirnya pimpinan TNI AU di Lanud Haluoleo memberikan izin masuk rombongan jurnalis.

‘Jalan Tikus’ Jadi Alternatif

Rombongan pertama TKA China sebanyak 156 orang dijadwalkan tiba sekira pukul 17.00 WITA. Namun kedatangan mereka mulur hingga pukul 20.30 WITA.

Sebanyak 500 TKA asal negeri Tirai Bambu ini akan datang di Sultra untuk bekerja di PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) dan PT Obsidian Stainles Steel (OSS) di Kecamatan Morosi Kabupaten Konawe. Kedatangan 500 TKA ini akan dibagi tiga gelombang.

Rombongan 156 TKA China ini tiba setelah melalui perjalanan panjang dari Guangzhou China. Dari negerinya, mereka transit di Malaysia dan kemudian masuk Indonesia lewat Bandara Sam Ratulangi Manado.

Dari Utara Sulawesi, mereka kemudian terbang ke Tenggara dan mendarat selamat di Bandara Haluoleo Desa Ambaipua Kecamatan Ranomeeto Kabupaten Konawe Selatan (Konsel).

Kedatangan para TKA ini sempat luput dari pantauan jurnalis. Sebab, mereka keluar dari pintu khusus yang tidak biasanya dilewati penumpang domestik.

Sebelum dinaikkan di mobil, para TKA itu diatur berbaris oleh petugas TNI AU dan diperiksa kesehatan termasuk dokumen mereka. Setelah itu, satu persatu dinaikkan ke dalam mobil sedan yang dirental. Dalam satu mobil memuat enam TKA dan dikawal satu anggota kepolisian.

Rombongan mobil yang memuat TKA ini tidak jalan sendiri-sendiri. Mereka jalan beriringan setelah semua TKA kelar diangkut.

Prediksi awal, rombongan akan melewati pintu keluar utama yang telah berubah jadi arena demo.

Karena pertimbangan keselamatan, mereka akhirnya melewati ‘jalan tikus’ yang berada di sekitar Bandara Haluoleo Kendari.

Jalan ini jarang digunakan untuk lalu lintas umum. Namun kali ini difungsikan sebagai jalan keluar sekitar 25 mobil sedan memuat 156 TKA.

Jalan ini juga digunakan oleh Ketua DPRD Sultra bersama rombongannya untuk keluar Bandara.

Amuk Massa

Kecewa karena tidak menemukan tenaga kerja asing (TKA) China, massa demo tolak TKA terlibat bentrok dengan aparat kepolisian, Selasa 23 Juni 2020.

Bentrokan terjadi sekira pukul 23.10 WITa di persimpangan Desa Ambaipua Kecamatan Ranomeeto Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) atau tepatnya di pintu masuk Bandara Haluoleo Kendari.

Bentrokan ini dipicu kekecewaan massa yang tidak menemukan TKA China melintas di area yang mereka tunggu. Selain itu, kericuhan juga dipicu Ketua DPRD Sultra Abdurrahman Shaleh yang tak kunjung kembali setelah memantau langsung keberadaan TKA di Bandara Haluoleo Kendari.

Padahal, pada saat orasi, politikus PAN itu berjanji akan kembali menemui massa usai memastikan kelengkapan administrasi para TKA asal Tiongkok itu.

Massa menduga, baik Abdurrahman Shaleh maupun TKA China melewati ‘jalan tikus’ yang tidak diperkirakan oleh massa aksi.

Jalan tikus dimaksud adalah jalan alternatif yang berada di Bandara Haluoleo dan tembus ke Kecamatan Konda Kabupaten Konsel.

Karena hal itu, massa kemudian melempari polisi dengan menggunakan batu dan balok kayu. Aparat kepolisian membalas dengan menyemprotkan water canon dan tembakan gas air mata.

Hingga dini hari, bentrokan masih berlangsung. Polisi berhasil memukul mundur massa hingga menjauh dari lokasi semula.

Penulis : Pandi

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...