Analisa Kegagalan Elektabilitas Aswadi Adam di Partai Golkar

2733
 

Aswadi Adam mulai terang-terangan sebagai calon bupati di hadapan rakyat pada Januari 2020, tepatnya akhir Januari 2020 setelah pulang dari umroh melalui serangkaian roadshow di 6 kecamatan dengan tajuk “Bersama Golkar, Aswadi Adam Menyapa Rakyat”. Hingga, pada medio Maret 2020 Aswadi mendapatkan surat tugas dari DPP Golkar.

Rangkaian waktu Januari sampai Maret 2020 ini adalah waktu start resmi Aswadi melenggang memasuki gelanggang. Meski sebelumnya Aswadi telah memiliki “baju Gempur” dalam memperkenalkan diri, namun akhirnya dirasa “baju Gempur” ini kurang pas, mungkin kekecilan. Akhirnya dengan pertimbangan politis yang cukup rasional, Golkar jadi pilihan utama. Saat itu Ramadio sebagai Ketua DPD II telah tersandung masalah dan juga modal dasar Aswadi sebagai orang dekat Aliong Mus yang merupakan adik Ahmad Hidayat Mus -eks Kordinator Golkar Wilayah Indonesia Timur di era Setya Novanto-.

- Advertisement -

Awal April 2020 Corona merebak. Pergerakan di lapangan sangat menghambat Aswadi dalam memperkenalkan diri. Apalagi di awal Mei 2020 pemerintah secara resmi menunda pilkada serentak. Praktis hanya saat mendekati Idul Fitri di bulan Mei tersebut Aswadi bisa turba (turun ke bawah) dengan membagi sembako.

Penundaan pilkada serentak ternyata dibuka kembali krannya oleh pemerintah di Juni 2020, sontak membuat kalang kabut para peserta pilkada serentak 2020 untuk menyusun barikade ulang. Termasuk Aswadi Adam dalam mengejar popularitasnya.

*Jebakan Elektabilitas*

Partai-partai dalam demokrasi elektoral terkini mendasarkan nasib para kandidat dengan elektabilitas. Memang pasca reformasi, formulasi-formulasi politik diukur dengan elektabilitas. Apalagi Partai Golkar yang akarnya telah menancap kemana-mana tentu tak ingin membeli kucing dalam karung.

Aswadi Adam sebagai pendatang baru perlu diuji dengan indikator kuantitatif berupa tingkat elektabilitas oleh Partai Golkar. Popularitas Aswadi Adam setelah mendatangkan Fildan memang menggemparkan, namun disatu sisi menimbulkan masalah baru yaitu bagaimana mengkonversi popularitas tersebut menjadi aceptibilitas (diterima) sebelum menjadi elektabilitas (dipilih)?.

Penulis menilai proses penerimaan (aceptibilitas) ini yang tidak dielaborasi dengan maksimal sebelum lanjut ke proses bagaimana pemilih memutuskan untuk memilih sesorang figur yang dinilai menjadi tingkat elektabilitas. Ini butuh serangkaian treatment dan perlakuan, tidak sederhana. Aswadi perlu meyakinkan publik dengan konsep, program, dan tim pemenangan yang dimilikinya akan bisa menjadi pemenang dan mencapai visinya tersebut jika menang.

Sangat singkat waktu yang dimiliki Aswadi untuk mempopulerkan diri. Semenjak mendatangkan Fildan di bulan April 2019 lalu dalam 6 bulan setelahnya dengan kerja-kerja kemanusiaanya via Gempur dan mulai mendaftar di beberapa partai pada akhir Oktober 2019, misalnya.

Waktu yang singkat ini jika dihitung Oktober 2019 (Aswadi mendaftar di beberapa partai) atau Januari 2020 (Golkar bersama Aswadi menyapa rakyat) tentunya terbilang singkat dalam perkenalan politik. Waktu yang singkat ini tidak akan efektif dalam mengangkat elektabilitasnya sampai Juli 2020 saat penentuan Golkar kemarin.

Pengamatan penulis, kebanyakan kandidat yang memiliki waktu singkat dalam running menuju Hari-H berujung gagal. Dalam konteks regional contohnya pada Pilwalkot Makassar 2013, Tamsil Linrung yang didukung militansi kader PKS dalam waktu singkat maju dan kalah. Meski contoh lainnya ada yang sukses seperti Adriatma Dwi Putra (ADP) dalam Pilwalkot Kendari yang terbilang singkat untuk maju dan menang. Namun ADP memiliki modal ayahnya sebagai petahana dengan dukungan full infrastruktur politik dan birokrat.

Jika ingin menduplikat kemenangan ADP maka Aswadi Adam harus didukung full petahana Abu Hasan. Sementara fakta lapangan menunjukan Aswadi Adam selalu mendiferensiasi dari petahana. Selama ini Aswadi Adam dengan gerakan Gempurnya mulai dari merenovasi gedung sekolah, mem-paving block Islamic Center dan pengaspalan jalan di Mata itu adalah sindiran pada petahana.

Padahal, formulasi yang harus dilakukan Aswadi Adam sebagai pendatang baru agar unggul melawan Ridwan Zakariah adalah kolaborasi dengan petahana. Apa mereka mau kolaborasi?. Tentunya jika ini terjadi akan menjadi makin menarik politik Butur kedepan. Kita akan disuguhi teatrikal politik kelas wahid di masa pandemik ini.

*Kuasa Elit dan Konstalasi Baru Golkar*

Di kontestasi politik elektoral manapun, elit itu sangat penting. Meski di Butur relasi kuasa, patron-klien tak segamblang relasi patron-klien seperti Sawi dan Punggawa di Sulawesi Selatan, namun relasi kuasa elit di Buton Utara itu memiliki pijakan kuat. Pada Pilkada 2015 lalu, kemenangan ABR itu didukung full elit atau tokoh masyarakat seperti Ansyaad Mbai serta istri, Laode Hasirun, Baiduri Mokhram dan elit partai yang ada dan terutama elit partai saat itu sangat menentukan.

Elit-elit partai itu punya basis konstituen yang jelas, juga simpul-simpul keluarga yang bertautan. Resonansi dari elit ke basis konstituen atau sampel dari populasi survei yang acak itu menentukan nilai elektabilitas. Aswadi Adam sejak awal terlambat menjangkau ini.

Disamping itu, penulis beranggapan munculnya Aswadi Adam adalah momok bagi elit partai yang ada, karena elit partai di Butur saat ini menginginkan Ridwan Zakariah atau Abu Hasan saja dengan pertimbangan Pilkada selanjutnya tanpa diikuti incumbent sehingga elit partai kebanyakan berkumpul di Ridwan Zakariah jika mau dikalkulasi. Ini membuat Aswadi Adam tergopoh-gopoh mengatrol elektabilitasnya, mungkin juga kemenangan nantinya.

Kemudian, konstalasi elit di DPP Golkar itu telah terjadi turbulensi. Gerbong Setya Novanto yang berelasi kuat dengan Ahmad Hidayat Mus-Aliong Mus itu telah selesai. Andaikata Bambang Soesatyo pemenang Munas Golkar kemarin bukan Airlangga Hartarto mungkin Aswadi Adam masih memiliki backingan yang kuat di DPP untuk dukungan kepadanya.

Dari semua penjelasan diatas bagi hemat penulis, faktor waktulah yang menjadi musuh berat Aswadi Adam beserta pasanganya Fahrul Muhammad dalam memenangkan Pilkada Buton Utara 2020 ini, dimulai perebutan kendaraan Golkar.

Tentunya 6 bulan yang tersisa masih bisa dilakukan untuk mengejar ketertinggalan, namun Tim Aswadi-Fahrul harus melakukan kerja-kerja minimal 2 kali lebih dari pasangan lain. Waktu yang singkat tersebut, kurang 2 tahun untuk pendatang baru memperkenalkan diri dan memenangkan sebuah kontestasi, itu berat milea…eh.

Penulis : Layosibana Akhirun (CO-Founder Kopibutur dan Peneliti Suropati Syndicate)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
10
Komentar
loading...