Saksi Persetubuhan Anak Jadi Tersangka, Polsek Lakudo Dinilai Langgar Aturan

5253
 

Labungkari, Inilahsultra com – Saksi kunci kasus dugaan pencabulan yang terjadi di Desa Matawine Kecamatan Lakudo Kabupaten Buton Tengah (Buteng), SA (Inisial) ditetapkan tersangka.

Penetapan tersangka yang dilakukan Polsek Lakudo itu atas laporan orang tua tersangka kasus cabul, FR (Inisial). SA dituduh melakukan pengrusakan di rumah FR.

- Advertisement -

Sebelumnya, FR dilaporkan ke Polsek Lakudo atas tuduhan pencabulan terhadap anak di bawah umur dengan nomor laporan LP TBL/09/V/2020/SPK SEK tanggal 30 Mei 2020 lalu.

Kuasa hukum SA, Safrin Salam mengatakan, penetapan tersangka terhadap SA yang merupakan kakak korban pencabulan merupakan pelanggaran hukum oleh Polsek Lakudo.

Kakak korban yang berstatus saksi, lanjut dia, harusnya dilindungi oleh UU Nomor 31 Tahun 2014 tentang perlindungan saksi dan korban. Hal itu termuat dalam Pasal 10.

Begitu pula dalam hukum acara pidana, telah terjadi pelanggaran atas hak-hak saksi yang dijadikan tersangka.

“Sejauh ini saksi belum pernah dimintai keterangannya atas laporan tersebut. Bahkan saksi-saksi yang berada di TKP belum pernah dipanggil dan diperiksa untuk dimintai keterangan. Sehingga penetapan tersangka terkesan sangat subjektif dan diskriminatif terhadap kakak korban,” ungkap Safrin kepada Inilahsultra.com.

Safrin menceritakan, kakak korban yang hendak masuk ke rumah tersangka, sebelumnya sudah meminta izin kepada bapak pelaku dan istrinya untuk mencari barang bukti.

“Awalnya kakak korban mendapatkan info dari adik korban bahwa pelaku menyembunyikan barang bukti di kamar rumah FR. Kakak korban kemudian bersama-sama masyarakat Matawine datang ke rumah pelaku untuk mencari barang bukti. Setibanya disana kemudian kakak korban meminta izin kepada bapak pelaku dan istrinya untuk mencari barang bukti dan menemukan barang bukti tersebut di dalam lemari kamar pelaku berupa barang bukti alat sex. Setelah itu kakak korban membawa barang bukti tersebut ke Polsek Lakudo sekaligus melaporkan kejahatan saudara FR,” tulisnya melalui pesan elektronik.

Selaku kuasa hukum, Safrin sangat menyayangkan penetapan tersangka kepada kakak korban. Ia meminta agar kepolisian tidak berpihak pada kepentingan seseorang. Termasuk meminta agar penetapan tersangka kakak korban dihentikan dan kasus tidak dilanjutkan.

“Kami masih percaya dan yakin polisi profesional dalam menjalankan tugas, termasuk berpihak kepada keadilan terutama perempuan,” pungkasnya.

Sementara Kapolsek Lakudo, AKP Halim Kaonga mengatakan, perbuatan SA merupakan tindak pidana. Kakak korban melakukan dugaan pengrusakan di rumah tersangka FR dengan mengunakan alat sebuah martil.

“Mungkin penilaian pengacaranya bahwa karena dia saksi terhadap korban adiknya, kemudian dia melakukan tindakan pidana lainnya, itu kasus yang berbeda. Tetap semua orang dimata hukum itu sama tidak ada perbedaan,” ungkapnya saat di temui di Polsek Lakudo, Rabu 22 Juli 2020.

Sementara terkait dengan UU Nomor 31 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas UU No 13 Tahun 2006 Mengenai Perlindungan Saksi dan Korban, Halim mengaku tetap menjalankan proses hukum sesuai ketentuan.

“Saat ini statusnya masi sebagai saksi, kita akan lakukan gelar perkara dulu. Untuk pemeriksaan saksi-saksi sudah. Kita akan gelar sesuai tahapan untuk menentukan pasal dan menentukan tersangka,” jelasnya.

Untuk pengrusakan, lanjut dia, kerugian yang diterima oleh orang tua FR sendiri bisa mencapai Rp 5 juta. Barang-barang yang dirusak antara lain Rice Box (tempat beras), lemari piring, dispenser, dan lemari plastik besar tempat pakaian.

Reporter: LM Arianto

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1
Komentar
loading...