Leluasanya Akun Rahman Ashar Memprovokasi Isu SARA di Media Sosial

1833
 

Kendari, Inilahsultra.com – Pada 28 Februari 2020, jagad maya media sosial dikejutkan dengan postingan akun Rahman Ashar di group Facebook. Akun ini mengirim beberapa potongan gambar status milik anggota TNI Serka Herfain.

Status itu menyinggung dan merendahkan suku Tolaki. Serka Herfain menyatakan bahwa dirinya tidak pernah membuat status macam itu. Ia pun melaporkan akun Rahman Ashar ke Polda Sultra.

- Advertisement -

Foto miliknya telah dicapture dan disandingkan dengan status yang sengaja dibuat akun Rahman Ashar lalu diposting di media sosial.

Sebelum anggota TNI itu, jauh ke belakang korban akun Rahman Ashar juga banyak. Beberapa di antaranya adalah rumah makan, dua orang jurnalis dan isu kontes LGBTQ di Kendari.

Setelah lima bulan fakum memprovokasi, akun Rahman Ashar kembali membuat geger. Ia memposting provokasi bernada SARA di Group Facebook Info Kejadian Kota Kendari (IKKKI). Korbannya kali ini adalah jurnalis, Jumaddin Arif.

Akun Facebook Direktur Panjikendari.com ini diduplikasi oleh akun Rahman Ashar dengan cara membuat dua potongan gambar berikut status menskreditkan suku Tolaki lalu diposting di Group Facebook IKKKI sekira pukul 22.00 WITa, Kamis 23 Juli 2020.

Padahal, Jumaddin Arif tidak pernah memposting status di Facebook untuk hari itu, Kamis 23 Juli 2020.

“Saya kaget, pada Kamis malam, 23 Juli 2020, sekitar pukul 22.19 Wita, saya dikirimkan screenshot postingan Rahman Ashar oleh nomor baru yang saya tidak kenal,” terang Jumaddin Arif dalam siaran persnya.

Tak puas dengan satu group, Rahman kembali memposting di group lainnya dengan narasi yang berbeda.

Menebar Ancaman

Dalam setiap potongan foto yang disebar Rahman Ashar, ikut disertai nomor kontak korban, termasuk Jumaddin Arif. Hal ini lazim dilakukan akun ini kepada seluruh korbannya.

Korban tidak hanya diserang lewat kolom komentar di Group Facebook, mereka kerap diserang dan dicecar lewat pesan Whatsapp. Tidak sedikit korban merasa tertekan dan terancam.

“Saya merasa terancam karena beberapa nomor menghubungi saya. Selain itu ada juga pesan yang masuk,” kata Jumaddin.

Dampak postingan akun Rahman Ashar ini juga tidak hanya membuat korban terancam, lebih dari itu akan memicu gejolak yang lebih besar, permusuhan antar-komunal.

Dari beberapa postingan bernada SARA, Rahman Ashar sepertinya paham dengan situasi psikologis masyarakat Sultra.

Bukan tidak mungkin, korban yang akunnya diduplikasi bisa dipersekusi bahkan nyawanya bisa terancam karena postingan yang tidak benar itu.

Mengendap di Polisi

Sebagai korban, Jumaddin Arif merasa harus melaporkan aku Rahman Ashar ini ke polisi. Sebab, postingan provokasi telah mengancam tatanan sosial dan keselamatan jiwanya. Tak terkecuali mencoreng nama baiknya sebagai jurnalis.

Mantan Redaktur Harian Rakyat Sultra itu resmi melaporkan akun Rahman Ashar ke Polda Sultra, melalui Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus), Jumat, 24 Juli 2020.

“Kita berharap, Polda Sultra dapat mengungkap kasus ini karena telah meresahkan dan mencemarkan nama baik banyak orang. Sebab, ternyata sudah banyak yang jadi korban atas ulah akun Facebook Rahman Ashar,” kata Jumaddin.

Jumaddin meminta Polda Sultra untuk lebih serius dalam mengungkap kasus pelanggaran ITE ini karena dikhawatirkan dapat memicu hal-hal yang tidak diinginkan di tengah masyarakat.

“Apalagi ini mengangkat isu SARA. Saya kira hal-hal seperti ini tidak boleh dianggap sepele. Jujur saja, dengan adanya kasus ini, saya bersama keluarga merasa tidak nyaman, dan merasa tidak aman,” lanjutnya.

“Keluarga saya banyak menanyakan perihal ini. Saya merasa bersyukur, karena baik dari pihak atau dari suku yang disudutkan maupun dari keluarga saya sendiri terlebih dahulu meminta klarifikasi dari saya. Yang kita khawatirkan jangan sampai ada orang-orang tertentu yang merasa tersinggung, tanpa klarifikasi, dan langsung melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Ini yang rawan,” kata Jumaddin.

Olehnya itu, sekali lagi, Jumaddin meminta Polda Sultra mengungkap masalah ini agar tidak meresahkan dan tidak menimbulkan ketidaknyamanan serta tidak ada lagi korban berikutnya.

“Saya juga meminta maaf kepada saudara-saudaraku dari suku Tolaki yang merasa tersinggung dengan adanya postingan Rahman Ashar tersebut. Postingan itu bukan tulisan saya, dan saya yakin itu hanya provokasi,” tutupnya.

Perkara melapor ke polisi atas postingan akun Rahman Ashar bukan kali ini saja. Jauh sebelumnya, beberapa korban telah melapor ke polisi.

Fardan Lakare, selalu pemilik akun Facebook Rahman Ashar juga telah melaporkan akun yang telah di luar kendalinya itu ke polisi. Sejak 2017 silam. Namun, hingga saat ini, belum ada kabar dari polisi mengungkap siapa operator akun Rahman Ashar itu.

Fardan Lakare kepada media beberapa waktu lalu mengaku, akunnya itu telah dihack oleh oknum tidak bertanggung jawab sejak 2016 silam.

Inilahsultra.com pernah mengkonfirmasi penanganan kasus akun Rahman Ashar ini. Kasubdit II Eksus Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sultra AKBP Honesto Riddi Dasinglolo pernah berjanji akan mengungkap siapa di balik akun Rahman Ashar itu.

Polisi juga, kata dia pada 2018 lalu, telah melakukan penyelidikan untuk mengungkap kasus ini. Namun hingga 2020, akun Rahman Ashar masih leluasa menebar isu yang bisa memicu konflik besar di Sulawesi Tenggara.

Penulis : Onno
Editor : Pandi

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...