Masalah Ekonomi Penyebab Utama Kekerasan dalam Rumah Tangga

Sumarlin
Bacakan

Kendari, Inilahsultra.com – Dosen Psikologi Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari Sumarlin menilai, kasus kekerasan dalam rumah tangga yang akhir-akhir ini marak menghiasi pemberitaan di Sulawesi Tenggara (Sultra) tidak terlepas dari masalah ekonomi.

Menurut dia, masalah ekonomi ini menjadi hal yang paling mempengaruhi psikologi seseorang hingga melakukan kekerasan.

Selain itu, faktor gangguan kejiwaan hingga perasaan tidak nyaman menjadi pemicu lain kekerasan dalam rumah tangga.

“Yang paling utama itu sebenarnya adalah faktor ekonomi. Banyak ahli menyebut hal ini sebagai pemicu kekerasan dalam lingkungan keluarga,” kata Sumarlin kepada Inilahsultra.com, Jumat 14 Agustus 2020.

Menurut pria yang akrab disapa Judet ini, faktor ekonomi erat kaitannya dengan minimnya lapangan kerja di kalangan masyarakat ekonomi ke bawah dengan tingkat pendidikan terbatas.

Sehingga, dalam konteks kekerasan dalam rumah tangga, tidak hanya dipandang dalam kacamata masalah keluarga itu sendiri.

“Pemerintah harus ikut berperan dalam masalah seperti ini. Ketidakterpenuhan lapangan pekerjaan, akan berdampak pada kesenjangan sosial hingga munculnya masalah dalam keluarga akibat dampak ekonomi tersebut,” ujarnya.

Sumarlin mengutip pandangan Abraham Maslow, seorang pakar Psikologi bahwa, kebutuhan manusia ada enam, makan, minum, dihargai, dihormati, dicintai dan aktualisasi diri.

Nah, soal keterpenuhan makan dan minum, memiliki korelasi dengan kondisi ekonomi seseorang. Status ekonomi ini juga dipengaruhi oleh kebijakan dan situasi yang terjadi saat ini.

“Apalagi di situasi pandemi seperti ini, orang serba kesulitan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Kan, kebutuhan dasar manusia itu kan salah satunya  makan minum ini. Bagaimana mau penuhi itu, sementara ekonomi serba terbatas,” katanya.

Untuk itu, kekerasan dalam keluarga kadang menjadi jalan pintas bahkan kadang menyebabkan hilangnya nyawa salah satu anggota keluarga.

Selain kekerasan di dalam keluarga, situasi serupa kadang terjadi di lingkungan masyarakat. Misalnya, banyak kasus kekerasan di jalanan yang pangkal masalahnya selalu diarahkan ke masalah ekonomi.

“Tapi coba kalau sudah ada pekerjaan, mereka tidak akan melakukan lagi hal seperti itu,” jelasnya.

Oleh karena itu, lanjut Sumarlin, untuk menghindari prilaku agresi dalam lingkungan keluarga, perlunya kesadaran satu sama lain di internal keluarga.

“Harus saling memahami antar-unsur dalam keluarga. Seorang ayah juga tidak boleh egois dan harus mampu membangun interaksi dan berbagi informasi apa yang diinginkan anggota keluarga lain. Ibu juga jangan memaksakan kehendak,” katanya.

Lebih pentingnya lagi, pemerintah harus menunaikan kewajibannya atas pemenuhan hak warga untuk mendapatkan pekerjaan agar kekerasan dengan latar belakang ekonomi bisa diminamilisir.

“Pemerintah tidak bisa lepas dari tanggung jawab pemenuhan lapangan kerja. Apalagi dalam situassi himpitan ekonomi akibat virus corona ini, bisa menjadi salah satu pemicu agresi di dalam rumah tangga,” tuturnya.

Belakangan ini, di Sulawesi Tenggara terjadi beberapa kasus penganiayaan hingga berujung nyawa anggota keluarga. Seorang suami di Kabupaten Konawe membacok istrinya beberapa kali.

Sementara di Kendari, seorang suami menghabisi nyawa istrinya dengan sadis. Diduga, pelaku mengalami gangguan kejiwaan.

Penulis : Pandi

Facebook Comments