Hasil Rapid Test Reaktif, Kakek 87 Tahun Ditelantarkan 8 Jam

430
 

Kendari, Inilahsutra.com – Hanya karena hasil rapid test reaktif, seorang kakek berusia 87 tahun diduga ditelantarkan delapan jam di dua rumah sakit berbeda di Kota Kendari.

Kakek tersebut diketahui Nonci Mide (87) warga Kelurahan Sodohoa, Kecamatan Kendari Barat, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra).

- Advertisement -

Awalnya, pasien ini dibawa ke Rumah Sakit Santa Anna oleh keluarga karena terjatuh saat hendak ke kamar mandi, Kamis 20 Agustus 2020 dini hari. Akibat terjatuh, kakek tersebut mengalami patah pada bagian kaki sebelah kiri.

“Sekira pukul 07.00 WITa, kita bawa ke rumah sakit Santa Anna untuk mendapatkan perawatan medis (operasi),” kata Irfan salah satu keluarga pasien.

Namun, pihak Rumah Sakit Santa Anna terlebih dahulu melakukan rapid test dan hasilnya reaktif. Pihak Santa Anna berkoordinasi dengan rumah sakit rujukan tetapi rumah sakit rujukan menolak kerena alasanya penuh.

“Padahal, Dokter Rumah Sakit Santa Anna dr Mario menyatakan bahwa pasien harus dioperasi karena mengalami pendarahan,” ucap Irfan saat ditemui di RSUD Kota Kendari.

Irfan menyebut, selama tujuh jam di RS Santa Anna, pasien ditelantarkan di sekitar area rumah sakit tanpa perawatan maksimal.

Pihak RS Santa Anna juga menolak ambulancenya digunakan untuk mengantar sang kakek di RSUD Kota Kendari.

Keluarga pun nekat menahan mobil ambulance milik swasta yang kebetulan lewat dan bersedia mengantar kakek tersebut di RSUD Kota Kendari.

Setelah tiba di RSUD Kota Kendari, sekira pukul 15.00 WITa, pasien tidak langsung dilayani. Pasien ditelantarkan kurang lebih satu jam di dalam mobil karena alasan ruang perawatan covid penuh.

“Kita tiba disini jam 03.09 WITa (15.09), pasien dibiarkan begitu saja di luar. Nanti, datang wartawan batu mereka bergerak,” ucapnya.

Konfirmasi terpisah, Direktur Utama RSUD Kota Kendari dr Sukirman, pasien reaktif belum tentu positif. Menurut dia, yang harus menangani pasien itu adalah dokter ahli tulang. Namun di saat bersamaan, dokter ahli sedang ada kegiatan dan masih bisa ditunggu.

“Yang mau ditangani Covid-19-nya dulu, untuk dipastikan positif atau tidak. Sekarang lagi ditunggu untuk swab. Hasilnya hari ini juga bisa keluar,” terangnya.

Sukirman beralasan, belum diturunkan dari mobil agar pasien tidak kemana-mana. Takutnya jika positif, bisa menular ke orang lain.

“Ditunggu dulu petugasnya untuk swab, patah tulang kan tidak bisa ke mana-mana, kasian pasien kalau diangkat-angkat. Diswab dulu, baru diturunkan,” bebernya.

Ia juga membantah bila pihaknya menelantarkan pasien tersebut termasuk ruang perawatan covid yang penuh.

“Jadi, tidak benar kita telantarkan. Kita biarkan dulu di mobil sambil tunggu petugas untuk swab. Kasian juga kalau diturunkan, mana kondisinya patah kaki,” tuturnya.

Sementara itu, Direktur RS Santa Anna Mario belum memberikan keterangan saat dihubungi melalui telepon selulernya.

Penulis : Onno

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...