Misteri Meninggalnya Babinsa di Bombana, Bunuh Diri atau Dibunuh?

1229
 

Kendari, Inilahsultra.com Warga Desa Rahantari Kecamatan Kabaena Barat Kabupaten Bombana dikejutkan dengan penemuan mayat anggota TNI AD Serda Rusdi (36) tergantung di pohon jambu, sekira pukul 06.00 WITa, Rabu 19 Agustus 2020.

Anehnya, korban tewas dengan tangan terikat di belakang dan masih mengenakan pakaian dinas lengkap.

- Advertisement -

Jenazah korban pertama kali ditemukan warga bernama Audi saat hendak ke kebunnya.

Hal itu turut dibenarkan Kepala Desa Rahantari Ebit saat dihubungi lewat telepon selulernya.

Ia menyebut, Serda Rusdi merupakan Bintara Pembina Desa (Babinsa) yang baru delapan bulan bertugas di daerah itu dari kesatuan Koramil 1413-05 Kabaena. Sehari-hari, ia sebagai pembina di Desa Rahantari dan Desa Eemokolo di kecamatan yang sama.

“Setelah ditemukan, warga langsung melapor ke kami dan kami melapor ke polisi,” katanya.

Ia bilang, Serda Rusdi merupakan pribadi yang baik dan selalu terlibat dalam kegiatan sosial macam penanggulangan bencana wabah virus corona di kampung tersebut.

Kabar meninggalnya Serda Rusdi dengan cara tergantung, tentu mengejutkan warga. Namun, sebagian barang milik anggota TNI asal Pangkajene Kepulauan (Pangkep) Sulawesi Selatan itu diketahui tak jauh dari lokasi ditemukan mayatnya.

Di antaranya, tas loreng, tapi loreng dan motor Yamaha Scorpion berwarna hitam.

Jenazah kemudian dievakuasi ke Puskesmas setempat dan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Kendari pada hari yang sama untuk diautopsi.

Dalam proses autopsi itu, turut hadir Danrem 143 Haluoleo Brigjen TNI Jannie A Siahaan dan Kapolda Sultra Irjen Pol Merdisyam.

Hasil visum et repertum dokter forensik ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan bagian leher korban.

“Dari hasil pemeriksaan visum luar ditemukan tanda-tanda kekerasan pada bagian leher,” ucap ungkap Fokter Forensik Rumah Sakit Bhayangkara Kendari, dr Raja Al Fatih Widya Iswara.

Namun, Raja tidak memaparkan secara detil tanda-tanda kekerasan yang dimaksud. Sama dengan hasil autopsi, ia enggan berkomentar tentang hasil autopsi. Raja bilang, untuk lebih jelasnya silahkan tanya ke penyidik.

“Untuk hasil autopsi, silahkan tanya ke penyidik karena itu bukan wewenang saya,” sambungnya.

Sementara Komandan Resor Militer (Danrem) 143/Haluoleo, Brigjen TNI Jannie A Siahaan mengatakan, hasil autopsi sementara, korban meninggal akibat terhambat jalannya pernapasan.

“Indikasi lain tunggu proses penyelidikan,” ucap jenderal bintang satu ini, Kamis 20 Agustus 2020 dini hari.

Prosesnya, sambung Jannie, akan ditangani oleh Detasemen Polisi Militer,  karena korban merupakan anggota TNI.

“Jika dia (korban) ada bersentuhan dengan orang lain, maka prosesnya akan kita serahkan kepihak Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara (Sultra),” ujarnya.

Alasan dilakukan autopsi di Rumah Sakit Bhayangkara, sambung Jannie, karena yang memiliki fasilitas autopsi adalah Polda Sultra.

Rencananya, Kamis 20 Agustus 2020 pagi, Jenazah akan diberangkatkan menuju kampung halamannya di Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) untuk dikebumikan.

Dari informasi yang diperoleh Inilahsultra.com berikut foto-foto di tubuh korban, luka hanya ada di bagian leher bekas jeratan tali yang diduga membuatnya meregang nyawa.

Sebagaimana lazimnya orang bunuh diri, tali nilon yang mengikat leher akan membuat seseorang terhambat jalur pernapasannya.

Kalau pun ia jadi korban pembunuhan, seorang Babinsa tidak mungkin tak melawan. Di bagian tubuhnya, kecuali leher, tak ada bekas kekerasan.

Kalau pun dia bunuh diri, kenapa harus menggunakan pakaian dinas TNI lengkap? Sejauh ini, dua dugaan itu, baik bunuh diri maupun dibunub belum diungkap oleh polisi maupun pihak TNI.

Penulis : Onno
Editor : Pandi

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...