Nestapa Petani di Muna Barat : Tebu Datang, Jagung Terancam Hilang

2177
Warga Muna Barat menggelar demo menolak kehadiran perkebunan tebu. (Muh Nur Alim)
Bacakan

Laworo, Inilahsultra.com – Emosi La Ode Paselingga (61) membuncah saat mendengar kabar Pemerintah Daerah Kabupaten Muna Barat (Mubar) meneken kerjasama dengan PT Wahana Surya Argo (WSA) di awal Juli 2020 lalu.

-Advertisements-

Oleh Paselingga, perusahaan yang bergerak di sektor perkebunan tebu ini bakal mengancam keberadaan mereka sebagai petani jagung yang sejak turun temurun mengolah lahan di sekitar Kecamatan Wadaga Kabupaten Muna Barat.

Ia mengatakan, jagung adalah sumber penghidupan satu-satunya masyarakat di daerah itu. Selain sebagai konsumsi sehari-hari, hasil penjualan menjadi modal menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi.

“Kehidupan kita hanya bertani. Hasilnya pun kita nikmati lewat berkebun dan anak -anak sudah ada yang kuliah bahkan sudah ada yang selesai dan sudah jadi guru sekarang,” kata La Ode Paselingga saat ditemui jurnalis Inilahsultra.com, Senin, 24 Agustus 2020

Paselingga adalah satu dari ratusan warga yang berada di Desa Lakanaha Kecamatan Wadaga Kabupaten Muna Barat yang menolak kehadiran PT WSA.

WSA adalah perusahaan investasi di sektor perkebunan tebu. Perusahaan ini mendapatkan lahan kurang lebih 4.003,45 hektare di wilayah Kabupaten Muna Barat dan Kabupaten Muna.

Perusahaan ini mendapatkan lahan seluas itu dari kawasan hutan produksi yang diturunkan statusnya menjadi area peruntukan lain (APL) melalui surat keputusan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Provinsi Sultra Nomor :11/1/PKH/PNDM/2016.

Selain itu, PT WSA juga mendapatkan surat izin prinsip Penanaman Modal Dalam Negri dengan Nomor : 34/74/IP/PMDN/2017.

Berdasarkan data yang diperoleh, perusahaan ini akan membuka lahan kebun tebu di Kecamatan Wadaga, Kecamatan Lawa, Kecamatan Sawerigadi, Kecamatan Tikep, Kecamatan Kusambi dan Kecamatan Napano Kusambi Kabupaten Muna Barat. Sementara pabrik pengolahan gula pasir akan dibangun di Desa Latompe Kecamatan Lawa.

Menurut Paselingga, rencana masuknya perusahaan tebu di Kabupaten Muna Barat (Mubar), mengancam keberadaan petani dan mencoba menjauhkan orang Muna dari sejarahnya, sebagai petani jagung dan tumpang sari.

Di Desa Lakanaha, Paselingga mengaku memiliki lahan seluas sekitar 7 hektare. Lahan tersebut sudah turun temurun diolah dan di dalamnya tumbuh tanaman jangka panjang serta jangka pendek seperti jagung, kacang dan jati.

Selain mengancam sumber penghidupan masyarakat, keberadaan perkebunan tebu ini bisa mengancam mata air sebagai penyanggah lingkungan di kawasan tersebut.

“Kalau lahan ini untuk perkebunan tebu, maka mata air di Wadaga hanya akan jadi dongeng untuk generasi 50 tahun mendatang,” kata kakek tujuh anak ini.

Lelaki kelahiran 1959 ini masih ingat betul keasrian alam dan lingkungan di daerahnya itu. Masih banyak pohon dan beberapa sungai. Setidaknya, di sana, ada 23 titik mata air yang turut membuat subur daerah itu.

Warga Muna Barat mendesak Pemerintah Daerah mencabut izin perkebunan tebu karena dianggap bisa mengancam sumber penghidupan warga sebagai petani jagung. (Muh Nur Alim)

Jagung dan Identitas Orang Muna

La Ode Salifu (55) masih ingat pesan para tetua dahulu soal tradisi orang Muna yang sejarahnya kental dengan jagung.

Sejak lahir pada tahun 1965, orang tuanya sudah diajarkan cara bercocok tanam dengan menanam jagung dan kacang-kacangan. Hal itu bagian dari tradisi kehidupan suku Muna dalam pemenuhan pangan.

Baginya, di mana pun orang Muna berada, tidak bisa dipisahkan dengan jagung. Sebab, selain sumber pangan turun temurun, jagung juga adalah pertanda identitas seiring dengan peradaban manusianya.

“Jika lahan kami dipaksakan untuk perkebunan tebu, maka sama saja kita dijauhkan dari identitas kami yang suka makan jagung,” katanya.

Menurutnya, tebu merupakan tanaman yang rakus dengan air. Jika ditanam hingga berhektare-hektare, bisa mengancam ketersediaan air di daerah itu.

Selama ini, kata dia, warga di Kecamatan Wadaga membuka lahan untuk menanam jagung namun tetap menanam pohon Rumbia di sekitar 23 mata air di daerah itu.

Hal itu untuk menjaga agar mata air tidak kering. Selain itu, daun rumbia juga bisa dijadikan atap rumah kalau para petani mendirikan pondok-pondok.

Namun, dengan hadirnya perusahaan tebu di daerah itu, ibarat lonceng bahaya terhadap punahnya peradaban warga yang bercocok tanam jagung.

Menurutnya, pemerintah harusnya lebih dulu mengkaji lebih dalam apa yang menjadi unggulan pertanian dan memikirkan dampaknya ke depan.

“Mendingan saya mati dari pada saya lihat diolah lahan kita oleh perusahaan. Habis lahan , kita mau berkebun di mana? Kita mau kasi makan apa anak-anak,” katanya.

Ia mengaku, selama ini dirinya sebagai tulang punggung keluarga, untuk menghidupkan istri dan kelima anaknya lewat pertanian jagung. Ia mengolah lahan kurang lebih 3 hektare selama 30 tahun yang ditanami jagung, kacang-kacangan dan jati.

Bapak 5 anak ini mengaku, setiap kali panen banyak yang dihasilkan hingga bisa memenuhi kebutuhan keluarganya dan menyekolahkan anak-anaknya sampai jenjang perkuliahan.

“Kita sudah nyaman bertani. Hasilnya juga kita nikmati hingga bisa menyekolahkan anak-anaku. Sekarang sudah ada yang kuliah. Yang dihasilkan jagung dengan kacang tanah, sekarang yang ditanami jagung kuning,” katanya.

Penulis : Muh Nur Alim

Facebook Comments
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
-Advertisements-
loading...