Polisi Pukul Mahasiswa Hingga Berak di Celana, AMS Minta Kapolda Sultra Mundur

23620
 

Kendari, Inilahsultra.com – Pasca-insiden bentrok aparat kepolisian dengan massa aksi, sore hingga malam sejumlah mahasiswa diamankan polisi, Sabtu 26 September 2020. Mereka tidak hanya diamankan, tetapi dipukuli secara brutal oleh Polisi.

Koordinator Aliansi Mahasiswa Sedarah (AMS) Sultra Rahman Paramai mengaku, sikap arogansi polisi dalam mengamankan mahasiswa cenderung brutal.

- Advertisement -

Ia menyebut, banyak video memperlihatkan demonstran yang ditangkap polisi dipukuli tanpa manusiawi.

“Parahnya lagi, ada seorang massa aksi yang dipukuli oleh aparat hingga mengeluarkan kotoran (berak di celana). Itu tidak boleh, jika aparat paham dan taat pada Perkapolri Nomor 7 tahun 2012,” ucap Rahman Paramai, Minggu 27 Desember 2020 dini hari.

“Perkapolri nomor 7 tahun 2012 tentang Pelayanan, Pengamanan dan Penanganan Perkara Penyampaian Pendapat di muka umum, pasal 28 melarang sikap arogansi kepada masa aksi terlebih pada kelompok aksi yang kategori hijau. Pasal di atas juga melarang polisi untuk membalas melempar demonstran dan menangkap dengan kekerasan,” jelasnya.

Pihak Aliansi Mahasiswa Sedarah sangat menyesalkan polisi yang memandang seluruh elemen aksi termasuk AMS sebagai elemen anarko. Menurut dia, cara pandang seperti itu sesat dan menyesatkan serta tidak bisa dipertanggungjawabkan.

“Hal ini lantaran aparat Polda Sultra menghancurkan perlengkapan kemah Aliansi Mahasiswa Sedarah. Padahal prosedur penanganan unjuk rasa tentunya pihak kepolisian membagi situasi ke dalam tiga indikator warna, yakni hijau, kuning, dan merah. Untuk warna hijau diartikan kondisi massa masih tertib, sedangkan situasi kuning dan merah berarti massa mulai rusuh dan anarkis,” kesalnya.

Perlu diketahui, sambung Rahman, sejak awal bergerak dijilid dua ini memasuki hari ke-45 Aliansi Mahasiswa Sedarah berkemah melakukan aksi depan Polda, tidak sekalipun menimbulkan kekacauan.

Maka aneh ketika aparat kepolisian menggeneralisasi elemen aksi hingga menimpa Aliansi Mahasiswa Sedarah.

“Bayangkan, tenda-tenda kami hingga barang perlengkapan lain menjadi sasaran amukan kebengisan kecongkakan mereka,” tuturnya.

Lebih lanjut Rahman mengatakan, polisi merupakan manusia yang berbeda yang dilatih berkali-kali dan disertai peraturan, SOP, alat, senjata kesemuanya dibiayai dari uang rakyat.

“Ibaratnya, kalau api dibalas api akan terbakar semua. Untuk itu, dengan fenomena ini maka kami mendesak dengan segera, tuntaskan kasus penembakan mahasiswa Randi-Yusuf. Termasuk dugaan keterlibatan Pejabat Polda Sultra dalam intervensi kesaksian dalam proses BAP kedua,” pintanya.

Ia juga mendesak agar Kapolda Sultra, Irjen Pol Yan Sultra mundur dari jabatannya, karena telah gagal memimpin. Sebab, banyak aparat Polda Sultra mengindahkan Perkapolri nomor 7 tahun 2012.

“DPR RI segera merevaluasi regulasi penggunaan senjata oleh aparat Kepolisian dalam penanganan aksi unjuk rasa. Terakhir, tindak tegas aparat yang melakukan pemukulan terhadap demonstran. Apalagi, penggunaan helikopter menghalau massa aksi diduga melanggar SOP,” katanya.

Hingga saat ini, pihak Polda Sultra belum bisa memberikan klarifikasi resmi terkait demo hingga berujung bentrok.

Penulis : Onno

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...