Deklarasi Asosiasi Geospasialis Arkeologi Libatkan Enam Universitas di Indonesia

670
 

Kendari, Inilahsultra.com – Asosiasi Geospasialis Arkeologi (AGA) menggelar deklarasi secara virtual melibatkan beberapa universitas yang ada di Indonesia, pada Kamis 1 Oktober 2020.

AGA merupakan sebuah perkumpulan praktisi, peminat, dan pemerhati yang fokus dalam bidang Arkeologi Keruangan dan Pengelolaan Warisan Budaya berbasis geospasial, yang berkedudukan di Yogyakarta.

- Advertisement -

Meski dilakukan secara virtual,
kegiatan ini berlangsung lancar dengan melibatkan unversitas pemrakarsa dan anggota AGA berasal dari enam Perguruan Tinggi pengelola Prodi atau Jurusan Arkeologi se-Indonesia.

Seperti Universitas Indonesia (UI), Universitas Gajah Mada (UGM), Universitas Udayana Bali (UNUD), Universitas Hasanudin (UNHAS), Universitas Jambi (UNJA),
Universitas Halu Oleo (UHO) dan unsur lainnya yang bergerak di berbagai profesi, baik yang terkait arkeologi maupun yang sudah mengembangkan profesi lain, ditambah mahasiswa yang telah membidangi lahirnya asosiasi dengan keinginan mengembangkan visi dan misi yang sama.

Salah satu Dosen Arkeologii Udayana Bali, Rochtri Agung Bawono dalam sambutannya mengatakan, asosiasi ini didirikan dengan mengusung visi menjadi asosiasi yang berkomitmen dalam penanganan data dan informasi geospasial arkeologi Indonesia demi terwujudnya sistem pengelolaan sumberdaya arkeologi nasional yang terpadu dan berkesinambungan.

Serta misi menciptakan Sistem Pemetaan Arkeologi Nasional (SPAN) yang bermanfaat bagi kepentingan pendidikan, penelitian, pengelolaan sumberdaya arkeologi, dan perumusan kebijakan makro di bidang arkeologi.

“Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia di bidang pemetaan geospasial arkeologi dan membangun jaringan antar ilmu, antar bidang, dan antar kepentingan melalui kerjasama, baik di tingkat nasional maupun internasional. Membuka peluang terbentuknya lembaga arkeologi swasta yang memberi dukungan terhadap sistem nasional dalam ilmu pengetahuan dan teknologi,” jelas Rochtri Agung Bawono.

Sementara itu, J.S.E.Yuwono Geospasialis sekaligus akademisi Universitas Gajah Mada mengatakan, saat ini tengah membayangkan dua permasalahan besar terjadi sejak 8 hingga 10 tahun terakhir ini secara terus menerus masih ditunggu jawabannya. Pertama, persoalan kawasan ibu kota Majapahit yaitu Trowulan, kedua persolan makro di tingkat nasional tanpa mengecilkan arti dan nilai situs kawasan lainnya.

Kawasan Arkeologis terbesar dari segi nilai dalam konteks NKRI dan terbesar dalam menggelar ratusan penelitian arkeologi dari berbagai instansi pada bekas ibu kota Majapahit yaitu Trowulan.

Hingga saat ini, kata dia, masih kesulitan menemukan dan merangkum kembali hasil-hasil penelitian tersebut. Guna untuk menangkap value Trowulan ke kancah pengembangan isu-isu nasionalisme dan slogan kebhinekaan yang membentang di antara dua kaki sang Garuda dan kemiripan dua peta geopolitik pada peta NKRI dan peta wilayah Majapahit.

“Dua skema besar ini sebagai langkah awal kami dalam menyumbangkan pemikiran untuk bangsa dan negara dalam strategi pengelolaan kawasan Trowulan untuk 5 tahun mendatang serta rekomendasi pengelolaan wilayah kerja kearkeologian di tingkat nasional, tutupnya.

Penulis : Haerun

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...