Gerakan Mahasiswa dan Buruh

2972
 

Oleh: Barlian

Samuel Huntington mengatakan bahwa: “Gerakan mahasiswa adalah bentuk perlawanan yang tidak akan pernah padam terhadap pemerintahan yang lalim.”

- Advertisement -

Dalam sejarah panjang Gerakan Mahasiswa di berbagai negara di masa lalu, baik itu di Eropa, Amerika Serikat, Asia, Afrika, dll., umumnya dilakukan dalam bentuk “Demonstrasi Massa yang turun ke jalan”, telah pula menyimpulkan satu hal pokok yang menjadi penyebabnya, yakni: “Tersumbatnya saluran komunikasi di antara kedua belah pihak, yakni pihak yang didemo dan pihak yang mendemo.” Artinya, ketika pintu-pintu (kran) komunikasi tertutup rapat, maka “demonstrasi” massa, orasi di jalan raya, akhirnya menjadi pilihan terbaik para pendemo untuk menyalurkan aspirasinya.

Hebatnya, dalam banyak kasus, gerakan atau demonstrasi ysng dilakukan para mahasiswa (apalagi kalau gerakan dimaksud didukung oleh masyarakat luas), hasilnya adalah “tumbangnya” sebuah rezim penguasa yang lalim terhadap rakyatnya.

Gerakan mahasiswa (demonstrasi mahasiswa turun ke jalan), sesungguhnya bukan satu-satunya cara untuk menyuarakan isi hati (tuntutan) para pelaku gerakan. Masih ada cara lain yang bisa (dan biasa) dilakukan, misalnya mengadakan pendampingan terhadap warga masyarakat yang tertindas, atau juga melakukan advokasi terhadap masyarakat yang hak-haknya dirampas (terdzalimi).

Lalu, kenapa harus terjadi “Gerakan atau Demonstrasi, yang terkesan terjadi secara tiba-tiba dalam waktu relatif cepat?”

Dalam perspektif Sosiologi Gerakan, jawabannya adalah “karena tiba-tiba ada *_common enemy_* (musuh bersama) yang menimpa warga negara yang tidak berdaya dalam berhadapan dengan otoritas kekuasaan (penguasa).” Lagi pula, gerakan ini dilakukan dalam waktu relatif bersamaan oleh para Mahasiswa dan Buruh di seluruh Tanah Air.

Secara psikologis, sesungguhnya apapun yang disuarakan para pendemo (pelaku gerakan) merupakan jeritan suara hati mereka dalam menyoroti “ketimpangan” yang terjadi dalam masyarakat.

Perlu dipahami, bahwa komunitas “Mahasiswa”, harus diakui, mereka termasuk dalam kelompok “elit” pemikir cerdas dan berani berhadapan dengan risiko demi membela atau menyuarakan “kebenaran”.
Memang, ada juga suara-suara minor yang mengatakan bahwa jangan sampai gerakan/demonstrasi yang terjadi itu “ditunggangi” oleh pihak-pihak tertentu yang mempunyai kepentingan lain. Hal inilah yang patut dijaga oleh para mahasiswa pelaku gerakan.

Dalam kaitannya dengan kondisi terkini yang tampaknya memicu lahirnya Gerakan (demonstrasi) Mahasiswa dan Kaum Buruh untuk turun ke jalan adalah Disahkannya UU Omnibus Law oleh DPR, yang dianggap tidak berpihak kepada para pekerja (terutama kaum Buruh).

Dibutuhkan “kearifan” semua pihak dalam menyikapi Gerakan Mahasiswa secara wajar dan proporsional.

Dan, kita semua berharap, semoga dalam aksi-aksi (Gerakan) demonstrasi yang dilakukan para Mahasiswa, Buruh, dan Masyarakat Umum lainnya, tidak menimbulkan korban baik terhadap para pelaku demonstrasi maupun terhadap aparat yang bertugas di lapangan. Insya Allah.

Salam Kebangsaan.

Penulis adalah Profesor, Sosiolog, Dekan FKIP Univ Haluoleo 2004-2012, Penulis Disertasi Gerakan Mahasiswa Di Kendari

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...