Aliansi Mahasiswa Sedarah Tolak Keras Kedatangan Jokowi di Sultra

42753
 

Kendari, Inilahsultra.com – Rencana kedatangan Presiden RI Joko Widodo di Sulawesi Tenggara (Sultra), Kamis 22 Oktober 2020, mendapat penolakan dari Aliansi Mahasiswa Sedarah (AMS).

Mereka menolak keras kedatangan orang nomor satu di negeri ini, karena tidak komitmen untuk menyelesaikan kasus HAM di Indonesia terutama kasus kematian dua mahasiswa Universitas Haluoleo, almarhum Randi dan Yusuf.

- Advertisement -

Sebagai bentuk penolakan itu, puluhan massa dari AMS rela bermalam di pinggir jalan di Kota Lama, Selasa 21 Oktober 2020. Mereka bermalam di sana karena Presiden akan meresmikan Jembatan Bahteramas dan pabrik gula di Kabupaten Bombana.

Koordinator Lapangan, Rahman Paramai mengatakan, alasan menolak kedatangan Presiden Joko Widodo karena banyak persoalan yang harus diuraikan tentang misteri lambatnya penanganan kasus kematian Randi-Yusuf saat aksi aksi unjuk rasa, Kamis 26 September 2019 lalu.

“Sejauh ini pembunuh Randi-Yusuf masih berkeliaran karena lambatnya penangkapan pelaku. Kita percaya bahwa pihak kepolisian mempunyai kerja cepat untuk menangkap pelaku begal sementara terbunuhnya 2 mahasiswa UHO sampai hari ini belum ditetapkan. Ada apa?,” ucap Rahman Paramai saat ditemui Inilahsultra.com, Rabu 21 Oktober 2029.

Lanjut Rahman, presiden harus mempunyai komitmen untuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM terutama meninggalnya Randi-Yusuf. Sikap tegas presiden untuk mendorong Polri khususnya polda sultra untuk menyelesaikan kasus ini.

“Kami juga meminta kepada presiden JOKO WIDODO untuk membentuk TGPF untuk mengungkap kasus Randi-Yusuf dengan melibatkan semua unsur,” harapnya.

Lebih lanjut Rahman menuturkan, DPR RI terkhusus Komisi III sebagai lembaga politik turut menutup mata atas persoalan ini atau mungkin mereka merasa tidak mewakili Sultra, sehingga terbunuhnya dua mahasiswa UHO bukan bagian dari tanggung jawab mereka karena ini bukan terjadi di daerah Dapil dimana ia terpilih.

“Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) seakan-akan ikut menutup mata atas meninggalnya Randi-Yusuf. Sementara banyak aturan tentang tanggung jawab mereka dalam mengawasi kinerja Kepolisian. Mungkin Sultra jauh dari ibu kota (Jakarta) sehingga tidak ada biaya untuk turun melakukan investigasi terkait kasus ini,” ujarnya.

Diakhir wawancara, Rahman meminta, Kapolri jangan melepas tangan atas meninggalnya Randi-Yusuf karena dua korban ini diduga tertembak atas orang-orang orang yang seragam.

Penulis : Onno

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1
Komentar
loading...