Jadi Korban Intimidasi Oknum Polisi, Jurnalis Kendari Resmi Melapor di Polda Sultra

573
 

Kendari, Inilahsultra.com – Jurnalis di Kendari jadi korban intimidasi oknum polisi saat demo Hari Sumpah Pemuda di Polda Sultra. Dimana saat itu demontrasi berujung bentrok antara massa aksi dengan polisi. Senin 2 November 2020, jurnalis resmi melapor di Polda Sultra.

Dua jurnalis jadi korban intimidasi oknum polisi saat sedang melakukan tugas peliputan. Keduanya adalah jurnalis media online yakni Ilfa dari media Sultrademo.com dan Hardianto wartawan Mediakendari.com.

- Advertisement -

Kabid Humas Polda Sultra, Kombes Pol Ferry Walintukan mengaku, saat ini sudah ditangani penyidik Propam Polda Sultra. Propam akan memeriksa, apakah yang bersangkutan sudah memenuhi unsur pelanggaran tindak pidana atau tidak.

“Kalau dia terbukti, kami akan proses sesuai hukum yang berlaku. Selama ini, kepolisian tidak pernah menyuruh atau memerintahkan anggota menghalang-halangi liputan dan kerja jurnalis,” ucap Ferry Walintukan saat ditemui awak media.

Ferry mengaku, sudah sering menyampaikan kepada anggota untuk tidak menghalangi. Apalagi menghapus karya jurnalis, tapi mungkin sebagian anggota belum atau tidak mengetahuinya.

“Kami tidak berat sebelah soal tindakan hukum, meskipun mereka polisi. Kami profesional, bukan karena dia aparat kepolisian kami tak proses,” sambungnya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, demo Hari Sumpah Pemuda di Polda Sultra berujung bentrok antara massa aksi dengan polisi, dua wartawan di Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) menjadi korban intimidasi oknum kepolisian.

Dua wartawan yang sedang melakukan tugas peliputan menjadi korban intimidasi oknum polisi. Keduanya adalah wartawan media online yakni Ilfa dari media Sultelrademo.com dan Hardianto wartawan Mediakendari.com.

Saat ditemui Inilahsultra.com, Hardianto bilang, saat terjadi caos, ia merekam dan mengambil gambar mahasiswa yang dipukul dan injak-injak oleh oknum polisi.

“Setelah selesai rekam, ada oknum polisi datang pakaian preman tanya saya, wartawan mana, saya bilang dari Media Kendari. Dia kira saya mahasiswa, tapi sy bilang wartawan. Setelah saya ditanya apa yang saya rekam tadi, saya bilang saya rekam kejadian,” ucapnya.

Lalu, sambung Hardianto, handphone miliknya diambil dan diperiksa oleh tiga orang oknum polisi. Saat hpnya diperiksa oknum polisi, polisi melihat ada tindakan kekerasan polisi.

“Kamu tidak boleh begini, kamu cuma rekam kekerasan polisi sama mahasiswa, tapi tidak pernah merekam kekerasan mahasiswa terhadap polisi,” ucap Hardianto menirukan ucapan oknum polisi.

Hardianto bantah, ia bilang ke oknum polisi dari awal demontrasi sudah merekam. HPnya pun diperiksa secara digilir oleh oknum polisi.

“Diminta surat tugasku. Bahkan oknum polisi bilang kesaya jangan sampai kalian ini wartawan bodong. Ngaku-ngaku wartawan padahal bukan wartawan,” ujarnya lagi.

Namun, Hardianto kembali membantah, ia mengatakan bahwa dirinya wartawan. Oknum polisi itu lalu meminta KTP dan foto KTPnya.

“Saya tanya untuk apa? oknum polisi bilang, untuk foto saja. Lalu dia minta nomor HP saya, setelah itu diantar keluar lalu sempat bilang kalian jangan begini, menyudutkan polisi,” bebernya.

Selain Hardianto, Wartawati dari Sultrademo.com, Ilfa mendapat perlakuan yang sama dari oknum polisi. Ilfa membeberkan, sejak awal dimulainya aksi hingga berujung caos sudah mengambil gambar. Tiba-tiba mereka ditanya dan dibawa di Pos Provost Mapolda Sultra.

“Di Pos Provost kita ditanya-tanya, wartawan apa kamu, hapeku diambil dan semua video yang ada di galeriku di hapus oknum polisi. Bahkan id card nya di foto dan menanyakan nomor hape serta meminta nama pimpinan medianya,” ujarnya.

Reporter : Onno

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...