Monianse Apresiasi Bupati Busel Konsisten Lestarikan Budaya

Wakil Wali Kota Baubau La Ode Ahmad Monianse saat menghadiri ritual adat Riapa Wapulaka Desa Bahari Kabupaten Buton Selatan.
Bacakan

Batauga, Inilahsultra.com – Wakil Wali Kota Baubau, La Ode Ahmad Monianse menjadi tamu spesial yang diundang perangkat adat atau Parabela untuk menghadiri acara puncak ritual adat Riapa Wapulaka, di Baruga Adat Wapulaka, Desa Bahari Kecamatan Sampolawa Kabupaten Buton Selatan (Busel), Minggu 1 November 2020.

La Ode Ahmad Monianse memberikan apresiasi atas perhatian Bupati Busel, H La Ode Arusani yang konsisten mendukung pelestarian budaya di daerahnya. Salah satunya dengan memberikan bantuan pakaian adat kepada lembaga adat di daerah itu.

-Advertisement-

“Saya sangat mengapresiasi pemerintah hari ini. Saya melihat lembaga adat dipelihara dengan baik. Bukti beberapa hari lalu, bupati memberikan dukungan berupa pakaian adat kepada perangkat adat. Saya kira itu sebagai bentuk dukungan yang kuat untuk melestarikan adat dan budaya di wilayahnya,” tuturnya.

Khusus ritual adat Riapa Wapulaka, kata dia, ritual ini tidak asing lagi bagi dirinya. Sebab dulu semasa kerja di LSM, dirinya tinggal di Desa Bahari dan mengikuti dinamika kebudayaannya.

La Ode Ahmad Monianse menerangkan, ritual ini memiliki dua nilai. Pertama nilai religius, bahwa ritual ini adalah ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan rejeki dan segala macam nikmat sembari juga meminta agar tahun ke depan tetap diberikan rahmat dan terlepas dari segala marabahaya.

Kedua, dari aspek kultural yang mewariskan nilai budaya dari generasi ke generasi.

“Saya terakhir mengikuti ini tahun 1994 dan baru sempat datang lagi. Saya diundang khusus karena saya dianggap sebagai masyarakat disini. Saya dulu bekerja disini. Masyarakat yang undang saya, parabela yang undang. Karena saya dianggap masyarakat Bahari yang harus diundang,” ujarnya.

Orang nomor dua di Baubau ini menambahkan dalam prosesnya, anak muda juga diberikan ruang untuk mengutarakan pendapat. Namun tentu dengan cara yang sopan dan santun.

“Hari ini adalah puncak, tapi tujuh hari sebelumnya diadakan rapat membahas masalah kampung secara demokratis. Ada kritik, saran, dan ada juga perdebatan. Tapi pada akhirnya semua kesepakatan diterima dan dikukuhkan bersama. Ini harus diperhatikan karena mengajarkan bagaimana kita benar-benar membangun negeri ini dengan membicarakannya secara bersama-sama,” tambahnya.

Monianse berharap agar ritual ini tidak boleh hilang, karena banyak sekali pembelajaran demokrasi selama proses ritual.

“Itu tidak boleh hilang, budaya yang diwariskan secara turun temurun ini harus dijaga. Karena budaya ini mencerminkan bagaimana merencanakan negeri ini secara bersama. Lembaga adat ini kita harus pelihara karena nilai itu akan tumbuh ketika disemai di tempat yang benar,” tandasnya.

Reporter: Muhammad Yasir

Facebook Comments