Wa Ode Rabia : Ekspor Komoditi Harusnya Bisa Langsung dari Sultra

383
 

Kendari, Inilahsultra.com – Dalam masa reses II Tahun Sidang 2020/2021 Anggota DPD RI, Wa Ode Rabia melakukan agenda reses yang salah satunya adalah pengawasan pelaksanaan UU No. 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan.

Menurut Rabia, Sulawesi Tenggara yang kaya akan hasil buminya. Salah satunya adalah hasil perkebunan menjadi daya tarik para investor atau sering disebut buyer dalam rantai pasokan perdagangan hasil bumi.

- Advertisement -

“Mete merupakan salah satu daya tarik komoditas perkebunan bernilai ekspor yang perlu dikembangkan,” kata Rabia melaui rilisnya Sabtu 8 November 2020.

Rabia mengatakan perjalanan reses kali ini dirinya fokus pada komoditas perkebunan. Menurut dia, proses penjualan mete di Sultra terbagi dua, yaitu dijual dalam bentuk gelondongan dengan kulit dan dijual kacang yang sudah dikupas.

“Saya tidak hanya ingin melihat tetapi ikut mempelajari alur produksi mete kita di Sultra,” katanya, Sabtu 7 November 2020.

Ia mengaku, dirinya tidak ingin hanya mendengar laporan melainkan memilih turun langsung ke beberapa kebun petani, pusat pengolahan mete, gudang penampungan dan juga ke pengusaha yang menjadi pengepul.

“Saya mengunjungi beberapa daerah di Sultra yang memang daerah tersebut memiliki potensi mete yang baik yaitu Kabupaten Muna, Buton Tengah dan Kota Kendari, untuk mengetahui akses persoalan mete,” ucapnya.

Menurutnya, ada yang menarik perhatian dari perjalannya kali ini, dimana adanya sekelompok ibu-ibu yang bekerja sebagai pengupas mete di setiap musim. Mereka bekerja maksimal hanya pada saat musim mete saja, lebih kurang 6 bulan.

“Setelah itu mereka kembali bekerja sebagai ibu rumah tangga, berjualan kecil-kecilan ataupun menjadi apa saja yang penting dapat membantu ekonomi keluarga,” jelasnya.

Namun, kata dia, kegigihan mereka dalam bekerja tak seimbang dengan hasil yang didapatkan. Sekarung 50 kg dibayar Rp70 sampai Rp120 ribu, tergantung harga mete.

Setelah bersih dari kulit luar dan kulit arinya, baru disetorkan kembali ke pengusaha. Biasanya 1 karung itu dikerjakan 2 hari.

“Mereka butuh perhatian pemerintah, dari semua rantai pasok mete, saya lihat mereka yang paling rendah taraf hidupnya,” harap Rabia.

Dalam pertemuan dengan ibu-ibu, Rabia juga langsung membagikan alat pengupas mete kepada mereka.

Rabia mengatakan ke depan harus diupayakan adanya kebijakan-kebijakan khusus yang menyasar para ibu-ibu yang selama ini turut andil dalam memproduksi komoditas mete yang telah menjadi ciri khas Sultra.

Lebih lanjut ia mengatakan, kebijakan-kebijakan yang mesti dilakukan pemerintah adalah memberikan pelatihan khusus agar ada peningkatan skil sehingga hasil mete bisa bernilai ekonomi lebih tinggi.

Selain itu, bagaimana mengkonversi pengelolaan mete dengan teknik-teknik baru sehingga hasil mete lebih variatif.

“Harus ada juga cara bagaimana mempolarisasi pengelolaan mete yang umumnya masih home industri menjadi lebih moderen sehingga hasil olahan mete bisa menjadi barang siap ekspor,” katanya.

“Saya fokus kepada persoalan perkebunan, kita harusnya mampu mendorong ekspor komoditi langsung dari Sultra. Pemerintah bantu cari pasarnya di luar negeri. Rekomendasi reses pada sidang paripurna saya sudah sampaikan dan segera terus mengawalnya. Agar bukan hanya para cukong dari luar yang merasakan nikmatnya mete, tetapi petani, buruh pikul, tukang kupas, hingga pedagang mete lokal bisa lebih berdaya,” pungkasnya.

Penulis : Acung

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Komentar
loading...